Try Out Unas Jeblok, Siapa Salah?

Try Out Unas Jeblok, Siapa Salah?

Sekitar 80% peserta try out Unas mendapat nilai jauh di bawah angka standar kelulusan! Demikian hasil try out Unas yang diikuti 3000 siswa SMP dan SMA dari 13 sekolah di Surabaya, yang diselenggarakan oleh Primagama, 18 November lalu.
Untuk tingkat SMP, sebagian besar siswa mendapat nilai 3 pada mapel (mata pelajaran)matematika. Untuk mapel IPA (Fisika dan Biologi) sekitar 80% siswa mendapat nilai 3,5. Hasil yang sama berlaku untuk siswa SMA. Untuk mapel matematika dan fisika nilai yang dicapai dari hasil try out siswa SMA berkisar antara 3-3,5.
Padahal, sesuai Permendiknas No. 34 tahun 2007, syarat kelulusan Unas adalah nilai rata-rata minimal seluruh mapel yang diujikan adalah 5,25 dengan catatan tidak ada angka di bawah 4,25. Nilai 4 pada salah satu mapel diperbolehkan, tapi mapel lain harus mendapat nilai minimal 6 (Radar Banyuwangi, 26-11-2007, h. 33).
Merujuk hasil try out tersebut, tentu banyak siswa yang tidak lulus Unas. Padahal waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi Unas tinggal 6 bulan lagi.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Unas harus dihadapi. Jadi, bagaimana dengan kesiapan siswa-siswi anda? (Tono S)




Ujian Nasional, Kontroversi dan solusi

Ujian Nasional, Kontroversi dan solusi

Sesuai dengan janjiku pada Mas Tono, maka akan kami sampaikan hasil oleh - oleh Seminar Nasional yang diselenggarakan Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI), pada tanggal 7 - 8 November 2007 yang lalu. Jalannya seminar sendiri sangat dinamis bahkan cenderung memanas seperti ketika anggota DPR sidang, maklum khususnya teman-teman Kepala Sekolah yang berasal dari luar jawa, yang sudah menyimpan bom kekesalan dengan adanya Ujian Nasional, maka begitu Nara Sumber dari Pemerintah yang mengamankan dan melagengkan Ujian Nasional banyak dicecar dengan pertanyaan yang sangat tajam. OK teman - teman, saya tidak akan banyak mengulas proses seminar itu, tapi inilah kesimpulanku dari hasil seminar Ujian Nasional tersebut.
Pertama tentang Akar masalah, mengapa UN menjadi kontroversial :
1. Seseungguhnya kata ujian yang terkait dengan Ujian Nasional (UN), TIDAK ADA
dalam UU Sisdiknas, karena sisdiknas memang tidak mengatur tentang ujian, tetapi
mengatur tentang Evaluasi (pasal 57 dan 58/2) dan evaluasi hasil belajar Pasal 58 ayat 1
2. Sementara dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (PP SNP)
terdapat kata ujian (sebagian besar) diantaranya terkait dengan pelaksanaan UN
3. UU SNP sendiri menggunakan istilah penilaian dan bukan evaluasi hasil belajar seperti yang
digunakan dalam UU Sisdiknas
4. Kalau dalam pasal 58 ayat 1 UU Sisdiknas dengan tegas dinyatakan bahwa evaluasi hasil
belajar dilakukan oleh pendidik ( benar Kata Mas Sendi, lebih - lebih dengan
diberlakukannya KTSP), maka pada pasal 63 ayat 1 PP SNP terjadi lompatan : Penilaian hasil
belajar dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan dan Pemerintah ( Padahal kalau kita baca
Pasal 59 UU Sisdiknas Pemerintah dan Pemerintah daerah dapat melakukan EVALUASI
terhadap PENGELOLA, bukan evaluasi hasil belajar )
5. Konstruksi Bab X tentang SNP dan Bab XI tentang BSNP, telah dijadikan landasan oleh
Pemerintah untuk melaksanakan UN
6. Kontroversi lebih diperparah karena pencampuradukan pengertian :
a. Evaluasi dan evaluasi hasil belajar itu sendiri
b. Evaluasi dan evaluasi hasil belajar dengan ujian
c. Evaluasi hasil belajar dan penilaian hasil belajar
d. Evaluasi dan penilaian

( perkembangan masalah UN, silahkan tunggu pada edisi mendatang, biar
teman - teman penasaran )
UJIAN LAGI-UJIAN LAGI

UJIAN LAGI-UJIAN LAGI

Manusia sepanjang hidupnya memang dihadapkan dengan ujian, coba aja telisik, sejak keluar dari lubang hingga masuk lubang di uji terus menerus hanya saja intensitas dan waktunya selalu berubah-ubah sesuai dengan tingkat perkembangan pisik dan psikis. Nah jadi yang namanya UJIAN gak perlu dihindari jalani saja bila perlu standar nilai dibikin 6.00 sampai 7.50 tapi, (ada tapinya) yang buat soal guru-guru nya sendiri atau guru-guru serayon dan yang nilai yah guru-gurunya sendiri juga. Kan di Indonesia sudah pake KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan)

Untungnya ujian yang dilaksanakan oleh sekolah, guru dituntut untuk menjadi pandai membuat soal yang baik dan benar, mendidik dengan sungguh-sungguh dan menggunakan berbagai model-model pembelajaran (diversifikasi pembelajaran)
Semua aspek yang ada pada murid dapat dijadikan penilaian, murid yang tidak memenuhi standar kelulusan ya gak usah diluluskan, sehingga guru dan sekolah lebih terhormat, ya kan !

Asal tahu saja ya ! di Indonesia ini yang namanya uji menguji itu sudah nemjadi isu politik dan ekonomi, coba anda buat SIM, uji petik kendaraan umum, ujian masuk PNS, ujian calon kepala sekolah, terus apalagi ? buuuaaanyak lagi, ujung-ujung nya duit dan polit tik ! dah ah teman teman dah maksud kan !

Nah apalagi UJIAN NASIONAL berapa duitnya ? ha yo siapa yang tahu jawab !
Soal mutu kelulusan siapa sih gak pingin yang baik, semua juga mau yang baik-baik, yang pinter-pinter, tapi coba lihat yang pinter-pinter itu bisanya hanya minteri ! gak mikir rakyat !
Oleh karena itu omong kosong UN dapat menghasil kelulusan yang mumpuni. Proses pembelajaran yang mengedepakan tauladan dari guru dan masyarakat lah yang dapat membentuk manusia-manusia tauladan !

Kalok saya sebaiknya membentuk orang yang jujur, pinter ngikuti aja !

(sendi lampung)
Pro-Kontra Unas 2008

Pro-Kontra Unas 2008

Depdiknas telah menetapkan Unas 2008 ada penambahan mata pelajaran (mapel). Pro dan kontra pun merebak menyertai kebijakan tersebut. Di sejumlah daerah para pelajar melakukan demo menolak kebijakan yang dianggap memberatkan beban belajar para siswa. Bagaimana teman-teman kita menyikapi kebijakan tersebut?
Saya menanyakan kepada sejumlah teman, dan dari 14 orang yang memberikan tanggapan, hanya 4 orang yang tegas tidak setuju penambahan mapel Unas. Itu berarti, mayoritas teman-teman kita mendukung penambahan mapel Unas dengan berbagai alasan.

KONTRA UNASMas Sendi dan Mas Darobi dengan tegas tidak setuju penambahan mapel dalam Unas mendatang. Sayangnya, keduanya tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Lain lagi dengan Mas Riadi yang mewakili sekolah swasta. Dia menolak penambahan mapel Unas karena menilai kemampuan siswa sekolah swasta pada umumnya tidak mampu memikul beban Unas dengan mapel yang bertambah. Katanya, "Karena saya guru sekolah swasta yang tahu persis kemampuan siswaku, maka saya tidak setuju (penambahan mapel Unas)".
Lain lagi dengan alasan mas Anis. Dia memprotes Unas berdasarkan faktor perbedaan kemampuan individu. Dengan lantang dia mengatakan, "Unas itu tidak adil karena bakat dan kepandaian di luar yang diUnaskan tidak dihargai. Ini tidak adil. Mau dikemanakan anak-anak kita yang hebat (kemampuan) seni budaya, olah raga, yang tidak berbakat matematika, Inggris, IPA dan IPS? Mereka butuh ijasah juga kan?"

PRO UNAS
Sekarang bagaimana dengan sikap yang pro Unas? Ini dia orang-orangnya.
Pertama, mas Pujo, dia tidak mempermasalahan penambahan mapel Unas dengan alasan "Untuk memotivasi guru dan siswa agar bisa berprestasi (lebih tinggi)".
Senada dengan mas Pujo, ada mas Ali di Tuban yang mendukung dengan alasan "Agar anak punya tanggungjawab dan disiplin dalam pola belajarnya." Malahan dia pun setuju jika semua mapel di Unaskan. Wah, wah, bisa-bisa sampean didemo murid-murid sak Indonesia, mas.

Sependapat dengan mas Ali, mbak Muji di Karanganyar menggarisbawahi perlunya Unas mencakup semua mapel. Menurutnya, jika Unas mencakup semua mapel, maka tidak akan ada kesan bahwa kelulusan siswa hanya ditentukan oleh 3 mapel saja, seperti berlaku saat ini. Dijabarkan lebih jauh, dalam UUD 45 jelas disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional menjadikan manusia yang taqwa, cerdas dan terampil. Ini berarti dalam pendidikan, standar kelulusan siswa harus mengucu kepada tujuan pendidikan nasional, maka seharusnya yang menentukan kelulusan siswa bukan hanya mapel tertentu tapi mencakup semua mapel yang diajarkan, karena semua mapel mengarah pada tujuan pendidikan nasional, meskipun standar kelulusannya minimal 4 misalnya, yang kalau dibandingkan dengan luar negeri, standar tersebut amat sangat rendah.
Dukungan yang sama muncul dari mas Mulyono di Batang, yang juga setuju adanya penambahan mapel Unas. Untuk level SMP, dia mengusulkan penambahan mapel IPS, agar siswa yang pandai IPS bisa mendongkrak nilai rata-rata Unas.
Ada lagi yang setuju penambahan mapel Unas untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. Paling tidak sebagai wacana. Mas Sunarin misalnya, dia mengibaratkan Unas itu seperti kelinci percobaan di dunia pendidikan Indonesia, dan sebagai konselor dia setuju karena Unas bisa membuat pendidikan di sini bisa sama seperti negara lain (yang lebih maju tentunya).
Mas Nur Aminudin di Tegal ikut angkat bicara. Menurutnya, Unas adalah tolok ukur kualitas pendidikan yang valid. Ia setuju dengan Unas meskipun mempunyai kelemahan dalam pelaksanaannya. Misalnya cakupan materi yang berbeda antara jawa dan luar Jawa. Dimatanya, kalau Unas ditiadakan, pendidikan akan kacau seperti era sebelum adanya Unas, dimana semua siswa lulus 100% dan nilai sekolah swasta lebih tinggi dari negeri.

Mas Rissa di Pekalongan juga setuju Unas dengan berapapun mapel yang diujikan, yang ditolak adalah Unas menjadi salah satu penentu kelulusan sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. 20 tahun 2007 (bagaimana bunyinya tuh?). Artinya mas Rissa memandang aspek lain seperti afektif dan psikomotor juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan kelulusan siswa. Gitu khan mas?

Bagi mbak Umbul di Sragen, Unas tidak perlu diributkan. Dia melihat saat ini banyak siswa yang malas, maunya serba instan Katanya dengan bijak, "Anak-anak nggak perlu panik, asal mau berusaha keras, saya percaya akan berhasil." Dia mencontohkan negara jiran Malaysia yang sudah meng-Unas-kan semua mapel.
Tapi bagaimana pun harus diakui, di mata siswa Unas dipandang sebagai momok yang menakutkan. Tidak peduli siswa pandai, apalagi yang nilainya pas-pasan, pasti dilanda perasaan kuatir gagal dalam menghadapi Unas.

Nah, efek samping berupa kecemasan siswa dalam menghadapi Unas inilah yang disorot mbak Indah di Lawang. Ia pernah mengukur kecemasan peserta Unas. Dan hasilnya terdapat 79% peserta Unas yang mengalami kecemasan. Menurutnya, dari sisi inilah konselor diharapkan berperan membantu siswa menangani kecemasannya dalam menghadapi Unas. Tampaknya memang faktor kesiapan siswa ini yang menjadi masalah utama pelaksanaan Unas. Unas dengan 3 mapel sudah merepotkan siswa, apalagi dengan penambahan mapel. Tidak heran, mas Kukuh Junaedi. Kasek SMPN Panti-Jember yang juga Alumni BK UNS 83 berkomentar sambil guyon, "Yen gurune Oke, muride embuh..he he he"

Kalau dikaji lebih jauh, apa betul pihak guru lebih siap daripada siswa dalam menghadapi Unas mendatang? Bukankah Unas juga merupakan pertaruhan gengsi sekolah, sekaligus reputasi guru pendidiknya? Bagaimana jika nilai Unas suatu sekolah jeblok sehingga banyak siswa yang tidak lulus dan harus mengulang ujian? Pasti bukan hanya siswa dan orangtua yang stres, pihak guru-guru pun bakal kalang kabut kebingungan. Bagaimanapun nilai buruk Unas akan menurunkan rating sekolah di mata masyarakat. Bukankah begitu?
Jadi, masih setuju Unas yang menyisakan sejumlah kontroversi?
d
Ikabelaku Sayang, Ikabelaku Malang

Ikabelaku Sayang, Ikabelaku Malang

Menurut hasil polling, 69% pengunjung blog ini menilai penampilan Ikabela jelek dan hanya 31% menilai menarik. Mengomentari hasil polling, mas Rissa bilang hasil polling tersebut jujur.Artinya mencerminkan keadaan sebenarnya. Komentar mas Sendi, Ikabela perlu penyegaran supaya lebih menarik. Komentar berbeda dari mbak Muji. Katanya, "Kalau aku Ok (Ikabela) tapi mungkin karena baru awal-awal, jadi ya belum (berkenan) di hati. Buatku Ikabela bikin penasaran. Ya karena kepentingannya beda-beda kali ya..."

Buat saya, hasil poling menunjukkan bahwa penampilan Ikabela, termasuk apa yang disajikan, belum memuaskan pengunjungnya. Dan ini positif.Berarti Ikabela dituntut lebih menarik. Ini tantangan buat teman-teman semua. Karena blog ini milik bersama, walaupun belum semua merasa memilikinya. Atau mungkin belum menyadarinya. Mungkin perlu lebih banyak waktu lagi untuk menuju Ikabelamania diantara teman-teman. Perlu kegigihan merayu, membujuk dan mungkin memaksa teman-teman membuka internet dan menengok blog ini.

Saya percaya banyak teman-teman yang sudah tahu keberadaan blog ini tapi mempunyai hambatan untuk aktif terlibat. Mas Joko misalnya mengakui, "Sampai sekarang akubelum membuka Ikabela, karena di rumah belum ada sambungan internet, mau ke warnet masih malu dan malas. Doakan supaya bisa punya internet ya." Begitu balasannya ketika saya tanya via sms. Mas Sunarin juga mengaku tidak punya fasilitas untuk berinternet. Keduanya mungkin bisa mewakili kesulitan teman-teman lainnya untuk membuka blog ini.
Ada juga mbak Ninik di Cirebon yang pernah mencoba masuk ke blog ini tapi gagal menuliskan pesan. Tulisnya dalam sms kepada mbak Muji, yang lantas diteruskan ke saya, "Aku buka web lewat HP, sing ono gur Tono dan Sendi. Aku pengen comment gak ono kolom submit or comment and etc" Maklum dia surfing melalui HP, yg tentu saja terbatas aksesnya. Makanya lain kali buka internet lewat PC atau laptop mbak.

Tapi ada juga sih teman kita yang memang betul-betul gak tertarik dengan internet, walaupun dia memiliki fasilitasnya. Katanya, "Punya internet malas buka, capek! Malas berteman di dunia maya, tidak pernah ketemu. Di sini teman banyak, nyata, bisa simbiosis mutualisma" Siapa dia? Nggak usah la yauw, nanti marah orangnya. Saya sih gak merah telinga baca smsnya.
Dari awal saya tidak berpretensi semua teman-teman bisa aktif di blog ini. Sepuluh orang saja aktif sudah bagus.Dalam arti 10 orang ini posting 1 tulisan tiap bulan. Jadi rata-rata 3 hari sekali ada postingan baru.
Ternyata mendapat 10 peminat aktif susah juga, paling tidak sampai hari ini. Yang pernah buka Ikabela, rata-rata bilang sibuk, sibuk, sibuk kalau ditanya kapan mau posting?
Gawat kalau semua sibuk dan tidak menyempatkan diri. Blog ini ya cuma jalan di tempat dong. Saya sendiri selalu menyempatkan diri menulis sesuatu. Tidak harus seketika jadi saat itu. Sempat 2 paragraf, oke, simpan dulu. Lain waktu sambung lagi.

Setelah sempat vakum sebulan karena puasa, saya berharap blog ini, yang mulai mendapat tempat di hati teman-teman, kembali dikunjungi dan ramai dengan postingan. Tapi harapan tidak berjawab. Ikabela kembali stagnan. Entah kenapa, salah satunya sebabnya, teman-teman pasti sibuk dengan sertifikasi guru. Belum lagi nanti bakal repot dengan penambahan mata pelajaran Unas. Ini akan menjadi alasan untuk tidak ada waktu buat Ikabela.
Padahal dengan adanya kegiatan-kegiatan itu, seharusnya bisa menjadi inspirasi teman-teman untuk menuliskannya. Saya yakin banyak pengalaman-pengalaman yang bisa dibagi.
Memang harus ada kemauan dari diri sendiri. Dan berusaha melaksanakannya. Kalau tidak dicoba, niat tinggal niat. Tidak pernah ada wujudnya. Teman-teman pasti tau itu.

Semau Kita: Two In One


Apa jadinya jika daun pintu diselewengkan fungsinya
menjadi mading (majalah dinding)? Itu yang terjadi di
tempat kos kami dulu, di Gg. Rewel, sekitar 100m sebelah
barat kampus UNS Kentingan.

Di tempat kos kami punya media komunikasi yang unik.
Bentuknya seperti mading umumnya, tapi medianya
menggunakan daun pintu kamar kos yang menghadap luar.
Barangkali inilah satu-satunya mading yang bersinergi
dengan daun pintu. Two in one namanya. Pintu sekaligus
mading. Atau mading yang berfungsi pintu, ya? Terserah,
sampean mengartikannya.


Semau Kita, itu nama mading Rewell Inn (yang terakhir ini
nama tempat kos kami). Tampilannya apa adanya. Terbitnya
suka-suka. Tergantung sikon dan mood penghuninya. Ada
kalanya sampai berminggu-minggu isinya tetap sama, tapi
sesekali dalam beberapa hari ada postingan baru.

Yang ditulis umumnya seputar kejadian seharian di tempat
kos. Jangan heran berita tentang permainan gaple cukup
mendominasi, karena gaple termasuk aktivitas rutin
penghuni Rewell Inn. Disela-sela kesibukan belajar
tentunya. Tapi dijamin tidak ada unsur judinya. Just fun
doang, kok.

Paling heboh saat kos kami kedatangan tamu tak diundang,
alias maling, yang menyita harta karun penghuninya. Memang
itu maling nekat. Atau malah maling brilyan? Bayangkan,
sampai 3 kali kami kecurian dan tak pernah ketahuan
pelakunya. Korbannya: 4 celana, 4 sepatu dan 1 kaos.
Hampir merata penghuni kos mengalaminya, dengan saya
sebagai penyumbang, eh korban, terbanyak. Maka kasus
itupun menjadi isu domestik di tempat kos kami.
Serangkaian tulisan pun muncul menyoroti kasus pencurian
tersebut. Kalau inget itu, masih mangkel rasanya. Tuh
maling kayaknya ngece banget ya. (Mas Rissa, sampean saat
itu kehilangan apa, masih ingat gak?).

Semua Kita memang asal, namun cukup komunikatif. Setiap
tamu yang berkunjung biasanya menyempatkan membaca
(mungkin termasuk si maling ya?), dan berinteraktif dengan
meninggalkan pesan-kesannya. Kayaknya ide yang baik kalau
diterapkan di semua tempat kos. Setuju? Pasti teman-teman
kos dulu semua setuju. Tapi ada satu yang tidak setuju,
ibu kos kami. Buktinya, kami diprotes karena telah
menyalahgunakan fungsi daun pintu. Akibatnya, daun pintu
yang terbuat dari triplek tersebut penuh lubang kecil
bekas paku pines. Nyuwun sepurane nggih, Bu Ngadiyo.