Remaja Dan Seks

Remaja Dan Seks

Ada tiga berita yang menarik perhatian saya ketika membaca harian Jawa Pos 17 April lalu. Pertama, dari Situbondo, Jatim, diberitakan seorang bocah, JB, 12 tahun divonis penjara 3 tahun oleh hakim, karena terbukti memperkosa teman bermainnya yang masih berusia 9 tahun. Perbuatan itu dilakukan sebanyak lima kali di tempat berbeda. Berita kedua dari Sampang, Madura. Sebanyak 4 siswi kelas 3 SMA dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan hamil di luar nikah. Terakhir, dari Pekanbaru, disebutkan sedikitnya ada 9 mahasiswa di sana yang positif terinfeksi HIV/AIDS.

Benang merah dari ketiga peristiwa tersebut menunjukkan contoh faktual longgarnya norma-norma seksual di kalangan remaja kita dewasa ini. Bahwa seks bebas telah menjadi bagian dalam pergaulan remaja masa kini bukan lagi sekedar wacana, tapi realitas yang harus diterima dengan lapang dada. Ketiga kasus tadi tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kebetulan. Kasus semacam itu telah berulangkali diberitakan, sehingga justru cenderung dianggap sebagai berita biasa. Namun kasus tersebut adalah contoh yang mewakili fenomena riil yang terjadi di tengah masyarakat kita.

Tujuh tahun silam, Khofifah Indar Parawansa, yang menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan saat itu, pernah melansir data bahwa 6 dari 10 remaja putri di Surabaya sudah tidak perawan lagi. Meskipun angka tersebut terbilang fantastis, tapi tidak terjadi kepanikan dalam masyarakat atau terjadi demo sebagai bentuk protes. Bisa dimaknai, masyarakat mengamini data tersebut. Apalagi belakangan ada dukungan data sejenis dari Walikota Bengkulu, yang menyebutkan hanya 35% siswi SMA didaerahnya yang masih perawan (Jawa Pos, 29-1—2005). Atau data yang lebih menohok dari Yogyakarta. Menurut hasil penelitian Iip Wijayanto, 97% mahasiswi pernah melakukan hubungan seks pra nikah (Jawa Pos, 4-8-2002).

Akibat dari perilaku seks bebas, banyak remaja putri yang hamil di luar nikah.Dan jalan keluar yang banyak dilakukan adalah aborsi. Menurut penelitian LSM Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara) Bandung antara tahun 2000-2002, remaja yang melakukan seks pra nikah, 72,9% hamil, dan 91,5% di antaranya mengaku telah melakukan aborsi lebih dari satu kali (Jawa Pos, 11-3-2006). Data ini didukung hasil penelitian Iip, bahwa terdapat 98% mahasiswi Yogyakarta yang melakukan seks pra nikah mengaku pernah melakukan aborsi. Secara kumulatif, aborsi di Indonesia diperkirakan mencapai 2,3 juta kasus per tahun. Setengah dari jumlah itu dilakukan oleh wanita yang belum menikah, sekitar 10-25% adalah para remaja (Rahma, 2001). Artinya, ada 230 ribu sampai 575 ribu remaja putri yang diperkirakan melakukan aborsi setiap tahunnya. Padahal, Khofifah sendiri menyebutkan tidak kurang dari 900 ribu remaja yang pernah aborsi akibat seks bebas (Jawa Pos, 28-5-2001).Berarti sekitar 39% dari angka nasional. Padahal di Jawa Timur, remaja yang melakukan aborsi tercatat 60% dari total kasus (Jawa Pos, 9-4-2005).

Resiko lain dari perilaku seks bebas adalah HIV/AIDS.Data dari UNAIDS, organisasi AIDS sedunia (1998), diperkirakan 7000 remaja terinfeksi virus HIV setiap harinya. Di Indonesia, sebagaimana dilaporkan majalah Time (September 2002), sampai tahun 2001, jumlah penderita HIV mencapai 120 ribu orang, atau menempati peringkat teratas di Asia Tenggara. Angka resmi yang dirilis pemerintah jauh di bawah jumlah tersebut. Perbedaan tersebut sangat mungkin disebabkan metode penghitungan yang berbeda. Depkes berpegang pada data riil, yakni kasus yang ditangani dan dilaporkan, sedangkan kita mengetahui bahwa HIV/AIDS adalah fenomena gunung es, yang tampak di permukaan jauh lebih kecil dari yang sesungguhnya terjadi (Kurniawan, 2002).Secara teoritis, dari satu kasus HIV yang terdeteksi, mewakili ribuan kasus yang tidak tercatat. Karena itu jika kita terlena dengan angka yang kecil, jangan terkejut jika bom waktu itu suatu saat meledak menjadi persoalan nasional yang serius, seperti halnya kasus flu burung pada saat ini. Yang pasti penderita HIV/AIDS remaja memang ada seperti terlihat dari berita di awal tulisan. Jika di daerah seperti Bengkulu ditemukan 9 kasus remaja penderita HIV, bisa dibayangkan bagaimana dengan kondisi di kota besar.

Sudah sedemikian parahkah moralitas remaja kita? Kita bisa berdebat soal angka survei, tapi kita tidak bisa menutup mata dengan fenomena kebebasan seksual remaja kita yang jelas kasat mata.Mengapa hal itu terjadi? Ada apa dengan remaja kita?

Remaja masa kini hidup di tengah pilihan yang sulit. Di dalam keluarga dan sekolah mereka dididik dengan menjunjung tinggi prinsip moral dan agama, namun pada saat yang sama mereka juga menghadapi tekanan dan pengaruh gaya hidup yang sekuler dan hedonis dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bergumul dengan ajaran agama, namun juga bergaul erat dengan teknologi yang menawarkan kecanggihan dan kemudahan, disamping resiko penyalahgunaannya. Internet adalah contoh produk teknologi yang bermata ganda: bermanfaat jika digunakan untuk tujuan baik, sekaligus berpotensi merongrong keimanan pemakainya.

Sementara orangtua dan guru sebagai penjaga moralitas tidak mungkin melakukan pendampingan secara simultan, remaja harus berjuang sendiri untuk menutup mata dan telinga dari godaan dan rangsangan seksual yang membombardir setiap waktu. Dan celakanya, godaan dan gangguan terbesar mereka justru berasal dari lingkaran terdekat, teman sebaya. Jelas sekali, pengaruh teman sebaya sangat kuat, bahkan seringkali suara teman lebih didengar, dan menentukan keputusan yang diambil. Sifat remaja yang labil, selalu ingin mencoba suatu yang baru, kesempatan yang tersedia dan rasa kebersamaan antar teman yang tinggi, adalah faktor-faktor yang memungkinkan remaja sulit menolak ajakan, rayuan dan godaan yang datang dari teman-temannya. Salah pilih teman bergaul, semua bangunan moral yang ditegakkan dan dijaga selama belasan tahun, runtuh seketika. Dalam pertarungan antara kubu moral dan agama dengan daya tarik nikmat duniawi, hampir selalu berakhir dengan kemenangan sang nafsu. Maka terjadilah seperti apa yang telah terjadi. Remaja yang selingkuh dari norma agama dan susila. Remaja yang sangat permisif dalam pergaulan dengan segala resikonya, dan kontrol orangtua dan masyarakat yang kian lemah.

Barangkali kita tidak siap menerima kenyataan perilaku menyimpang remaja kita, barangkali kita masih tidak yakin atau tidak rela putra-putri kita melakukan perbuatan yang melenceng jauh dari norma-norma agama, karena ibaratnya itu sama saja mencoreng muka para orang tua dan pendidik. Atau mungkin kita merasa malu mengakui bahwa perilaku para remaja itu adalah buah kegagalan pendidikan. Dan kita merasa aman dari rasa bersalah dengan melemparkan tanggung jawab itu kepada kepada kambing hitam yang bernama globalisasi, westernisasi, sekularisasi, konsumerisme, atau apapun namanya yang dianggap merusak mental anak muda. Kita maunya anak-anak berperilaku santun dan penurut. Kita lebih suka bertutur pada tataran normatif daripada jujur mengakui kegagalan kita sebagai orangtua sekaligus pendidik, kegagalan sistem pendidikan kita dalam mempersiapkan anak didik menghadapi era globalisasi dengan segala dampaknya. Kita tidak siap menghadapi kenyataan bahwa anak yang tampak alim, rajin belajar, beribadah dan penurut saat di rumah, ternyata berperilaku terbalik 180 derajat ketika di luar rumah.

Globalisasi dan modernisasi jaman menuntut perubahan sikap mental kita dalam mempersiapkan anak didik. Tidak cukup anak didoktrin tentang nilai moral dan agama.Kita dituntut lebih bersikap egaliter dan bukan otoriter, bisa menjadi teman dan tidak menghakimi, jujur dan terbuka pada remaja, termasuk membicarakan masalah seks yang pada masa lalu tabu dibicarakan. Beban dan tangung jawab orangtua dan pendidik jauh lebih berat dalam menyiapkan generasi muda dalam menapak ke masa depan. Ini akan menjadi PR berat buat konselor sekolah yang kesehariannya bersinggungan langsung dengan persoalan para siswanya.

Remaja dan perilaku seksualnya, jika tidak ditangani dengan bijak akan menjadi masalah besar dikemudian hari. Bagi remaja masa kini seks adalah masalah riil sehari-hari. Seks bukan lagi kenikmatan tabu, tapi benar-benar dinikmati. Mereka bukan saja tidak lagi tabu membicarakan seks, bahkan tidak tabu melakukannya. Bagi kita para orangtua, pilihannya bukan bagaimana mencegah remaja melakukan seks pra nikah, tetapi bagaimana mencegah agar tidak terjadi kehamilan, terjangkit penyakit kelamin, bahkan HIV/AIDS akibat kebebasan ekspresi seksual. Anjuran yang efektif bagi remaja barangkali adalah make love but not a baby. Silakan bercinta tapi jangan sampai hamil. Karena itu jangan lupa pakai kondom. Sesuai fungsi kondom yang two in one: mencegah kehamilan sekaligus penyakit. Setuju? (Tono Soegijanto)

Antara Ikabela, Ikabeka dan Isabela

Antara Ikabela, Ikabeka dan Isabela

Soal ide Ketika teman kita Riadi, melontarkan ide reuni via sms, saya sempat bingung. Ada-ada saja, pikir saya, mana asyiknya reuni cuma lewat sms. Walau begitu, saya sempat juga sms-an beberapa kali dengan beliau. Belakangan saya mulai bisa mengerti makna tersirat dibalik ideanya itu. Mungkin Riadi, seperti juga teman lain, walaupun sangat mengharapkan adanya reuni, tapi merasa pesimis harapan itu bisa terwujud. Lantas timbul angan-angan, kalau tidak bisa reuni beneran, paling tidak bisa reuni orang per orang (wah, kayak konseling face to face ya) dengan sms. Namun, rupanya Tuhan mendengar keinginan teman-teman. Di awal tahun ini, kita para alumni BK UNS Angkatan 82, setelah berpisah 20 tahun, dipertemukan dalam sebuah reuni yang cukup gayeng. Saya bisa merasakan dan membayangkan kegembiraan teman-teman yang hadir, walaupun hanya melalui rekaman vcd yang dikirimkan panitia (trims banget yaa). Saya yang sempat down karena tidak bisa menjadi bagian dari kebahagiaan reuni, menjadi terhibur mendapat kabar bahwa teman-teman telah berkomitmen akan mengadakan reuni setiap 2 tahun sekali. Sangat surprise bagi saya, karena dalam bayangan saya reuni tersebut akan menjadi reuni pertama sekaligus terakhir bagi Angkatan kita, ternyata dimentahkan oleh tekad teman-teman untuk bisa bertemu lagi. Berarti masih ada kesempatan kedua buat saya.

Hasil reuni makin meyakinkan apa yang saya sampaikan via sms, yang dibacakan saat reuni, bahwa kita bukan cuma sebuah angkatan, tapi SEBUAH TIM yang sangat kompak. Dua puluh tahun berlalu dan kekompokan itu masih terjaga. Saya sangat bangga dengan teman-teman. Tidak banyak, atau malah mungkin belum ada, reuni yang hanya melibatkan satu angkatan. Kebersamaan itu ternyata tidak tergerus oleh waktu. Karena itu saya merasa eman kalau kebersamaan kita habis begitu saja. Mestinya ada yang bisa dilakukan lebih dari sekedar reuni, lalu selesai. Harus ada mata rantai yang bisa menyatukan kebersamaan kita, menjalin kekerabatan yang masih membara, agar tidak cuma sekali berarti sudah itu mati.

Saya memikirkan, apa yang kira-kira bisa tetap menyatukan ruh kebersamaan kita, tanpa harus selalu bertemu. Sebuah media yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang efektif di antara kita semua. Agar tali silahturahmi tetap terjaga, agar kebersamaan kita bahkan makin membuncah. Pada beberapa teman, saya sempat usul agar kita membentuk lembaga formal – semacam yayasan – untuk mengukuhkan keberadaan kita, sekaligus sebagai wadah kegiatan, khususnya bagi teman-teman di Solo. Tapi rupanya tidak cukup waktu untuk mensosialisasi ide ini, atau mungkin juga teman-teman memang tidak menganggap itu perlu. Lalu, saya berandai-andai, mungkin tidak ya kalau kita buat situs internet sebagai saluran komunikasi yang efektif bagi semua? Dulu, kita pernah punya majalah dinding. Dulu, kita juga pernah punya bulletin ’’Gema KMB. (Masih ingat tidak?) Kenapa sekarang tidak memanfaatkan internet sebagai media komunikasi kita? Tapi ide ini terbentur keterbatasan pengetahuan dan keterampilan saya soal komputer. Wah, terlalu melangit angan-angan saya. Wong belajar komputer baru 2 bulan, itupun sebatas MS Word dan pengantar internet, mau bikin situs. Wah…wah…wah…

Sampai kemudian kejadian awal April ini, mengubah impian jadi kenyataan. Waktu itu saya di Gramedia Jember, mencari buku. Sebuah buku kecil berjudul “Panduan Praktis Mengelola Blog” yang ditulis Irwan Rouf dan Yayan Sopyan, membuat hati saya bersorak keras. Eureka! Ini yang kucari-cari. Tidak butuh waktu lama, esok harinya buku tersebut saya lalap habis halaman demi halaman. Setelah yakin bahwa buku tersebut memberi jalan yang benar bagi pembuatan situs yang mudah dan – yang penting – gratis, saya segera kabarkan penemuan penting ini kemudian teman-teman. Dan gayung pun bersambut. Hari minggu, 8 April 2007, menjadi hari bersejarah lahirnya blog ini. Setelah utak-atik selama 3 jam di warnet, dengan mengikuti petunjuk bukunya Rouf, hasilnya adalah blog ini, Ikabela82




Soal Nama Bagaimana nama Ikabela82 bisa muncul? Ini hasil utak-atik iseng saya. Dari berbagai kemungkinan akronim yang bisa dibuat, Ikabela kayaknya paling pas. Namun saya tetap menyodorkan pilihan ini kepada beberapa teman. Joko Slameto mendukung Ikabela, sedangkan Rissa menyodorkan nama Ikabeka. Pasangan Wibowo dan Indah Rosaka juga setuju Ikabela, tapi sekaligus menyodorkan nama lain."Ikabela bagus, yang cantik Isabela," tulisnya
dalam sms. Sementara yang lain tidak mempermasalahkan soal nama. Jadi, ada 3 pilihan,
antara Ikabela, Ikabeka dan Isabela. Ketiganya bagus, tapi harus dipilih satu. Saya memang
sempat tergoda dengan Ikabeka, karena dari segi pengucapan
"beka" identik dengan singkatan Bimbingan Konseling. Namun bila diucapkan
secara utuh,  Ikabela lebih mudah diucapkan dan enak
didengarkan daripada Ikabeka. Sedangkan Isabela, kalau wanita
mungkin cantik dan menarik,
tapi kurang pas untuk nama blog ini. Karena bisa diasosiasikan
sebagai blog yang berhubungan dengan wanita,
atau setidaknya pemiliknya wanita.
Siapa tahu Indah terinspirasi untuk membuatnya
jadi nama blog pribadi? Ayo, mengapa tidak? Nah, tambahan angka 82
untuk menegaskan identitas kita sebagi alumni angkatan 1982.
Jadilah blog ini bernama Ikabeka82.

Soal Isi Apa yang harus ditulis di blok ini? Apakah mutlak tentang Bimbingan & Konseling seperti disiplin ilmu kita? Jangan bingung soal isi blog. Jangan terbebani dengan tema tertentu, gaya bahasa tertentu. Bebas. Mau nulis tentang apa saja boleh. Mau yang ilmiah, popular, curhat, bincang kasus, resume karya tulis, pengalaman sebagai konselor di sekolah, suka dukanya, bikin puisi, cerita lucu, cerpen, cerita soal anak yang lucu atau pinter, juara kelas, juara lomba ini-itu, sah-sah saja. Saya yakin dengan perjalanan dan pengalaman hidup kita selama ini, pasti banyak hal-hal menarik, kejadian yang menyentuh, pengalaman spiritual, peristiwa keseharian yang mengandung hikmah, yang bisa ditularkan kepada teman-teman yang lain dengan mengambil manfaatnya. Saya bayangkan isi blog ini gado-gado yang nikmat. Nano-nano yang mengandung banyak vitamin. Siapa tidak suka?

Ayolah, nikmati blog ini. Tidak ada kata enggan untuk ikut mengisi. Jangan ragu untuk memulai. Saya tantang teman-teman semua untuk setidaknya sekali sebulan menengok blog ini, sekali sebulan menulis untuk blog ini. Atau bahkan menjadi penulis tetap. Jangan takut, banyak bahan tulisan, yang penting kemauan. Ingat, tulisan kita berpotensi dibaca orang seluruh dunia.

Jika anda ingin menulis tapi tidak tahu caranya supaya bisa masuk blog ini, gampang. Kirimkan tulisan anda via email ke salah satu email berikut ini:
· ign-tono-s@telkom.net
· anisyunus07@yahoo.com
· mujiw07@yahoo.com
· rissasum07@yahoo.com
Untuk bisa mengirim email, teman-teman harus punya email. Nanti saya akan cerita bagaimana cara membuat email. Yang penting, siapkan dulu tulisan anda. Saat ini tampilan blok masih sederhana. Walaupun saya tidak begitu mementingkan tampilan yang cantik, tapi tetap akan diusahakan tidak monoton. Bertahap akan diusahakan hadirnya pernak-pernik yang fungsional, seperti Shoutbox, Web Counter, dan buku tamu. Foto pasti perlu, tapi sorry, terus terang saya belum tahu ilmunya cara menampilkan foto.

Soal Partisipan Siapa yang boleh mengisi blok ini? Siapa saja yang mau dan berminat. Tidak hanya para alumni Bimbingan Konseling UNS Angkatan 1982. Kita tidak membatasi diri. Ini bukan blok pribadi. Siapa tahu blok ini bisa ini diminati semua alumni Bimbingan Konseling se Indonesia, tanpa kecuali. Bukan tidak mungkin lho, mengingat blok atau situs tentang Bimbingan Konseling (setidaknya yang dikelola alumni Bimbingan Konseling) – mungkin – belum ada di Indonesia.
Makanya, ajak semua teman berkunjung ke blok ini, dan berpartisipasi didalamnya. Jadikan ngeblok sebagai gaya hidup baru kalian! (Tono Soegijanto)
Bangunan Kosong

Bangunan Kosong

Blog ini masih dalam proses. Anggap saja sebuah
bangunan
yang
masih kosong.
Masih menunggu untuk diisi
dengan segala perabot
dan pernak-perniknya untuk layak disebut
sebagai sebuah tempat berkumpul yang menyenangkan.
Semuanya masih
serba darurat dan tergesa-gesa. Tidak apa-apa. Yang penting,
wadah ini sudah ada.

Sekarang tinggal kita manfaatkan dan maksimalkan untuk
kepentingan bersama.
Saya mengundang partisipasi teman-teman se angkatan,
Bimbingan Konseling UNS Angkatan 82,
untuk aktif terlibat dalam blog ini.
Terserah, mau diisi apa, diarahkan ke mana.
Ibarat secarik kertas kosong, kita semua yang akan menentukan,
mau jadi apa blog ini nantinya.
Biarlah waktu yang menjawab.
Insya Allah, edisi perdana bisa terwujud sesegera mungkin,
dengan dukungan dan partisipasi teman-teman semua.


Salam paling hangat,
Tono Soegijanto