Keterampilan Sosial - Anak-anak terutama yang berusia belasan tahun rentan dibully
khususnya ketika mereka sedang ada di sekolah. Akibatnya, banyak anak yang
depresi atau frustasi setelah mereka dibully. Meski begitu, bukan berarti
depresi tak bisa dihindari saat anak menjadi korban bullying.
Peneliti dari Australian Institute of Studies Family mengungkapkan bahwa kunci
agar anak terhindar dari depresi setelah dibully adalah dengan memiliki
keterampilan sosial yang cakap. Untuk studinya, peneliti menggunakan data dari
1.150 anak untuk mengidentifikasi berapa anak yang mengalami bullying saat
usianya 13 dan 14 tahun.
Enam tahun setelah itu, anak-anak yang mengalami bullying mendapat penanganan
untuk mengukur efek jangka panjang dari tindakan bullying yang mereka terima.
Salah satu peneliti, Suzanne Vassallo menemukan bahwa seperempat dari remaja
muda mengalami bullying. Saat mereka berusia 19 tahun, anak-anak yang sering
dibully lebih mungkin mengalami depresi.
"Remaja yang berisiko mengalami depresi akibat dibully rata-rata memiliki
kecenderungan antisosial saat di sekolah. Oleh karena itu, kemampuan mereka
untuk berinteraksi, beradaptasi, dan keterampilan sosial lainnya berperan
penting," terang Vassallo.
Dijelaskan Vassallo, ketika anak tidak terampil secara sosial, mereka akan
lebih temperamental, tidak stabil, dan bereaksi berlebih terhadap siatuasi yang
dialaminya. Sehingga, mereka akan mudah marah, frustasi, dan mengalami
penderitaan mental dalam jangka panjang.
Sebaliknya, ketika korban bullying ini mempunyai keterampilan bersosialisasi
yang baik, anak tidak terlalu temperamen dan lebih bisa membuka lagi pergaulan
mereka. Sehingga, depresi bisa dihindari meskipun sedikit trauma diakui
Vassallo masih bisa terjadi.
"Oleh karena itu penting bagi orang tua untuk mendidik anak agar tidak
antisosial. Jika mereka dibully, sembuhkan rasa traumanya dengan mengajaknya
bersosialisasi dan mengenal lingkungan lebih baik," imbuh Vassallo seperti
dikutip dari Essential Kids. (Detik.com)
The purpose of this research is to investigate the correlation between self-concepts, emotional intelligence with self-adjusment on adolescents who study at the State SMU in Jember. The writer purposes some hypothesis, there are: There is a positive correlation between self-consepts, emotional intelligence with self-adjusment on adolescents, multiple and even partially. And there are differences between the male and femaly adolescents in self-concepts, emotional intelligence, and self-adjusment. The subject of is research were 222 first and scond class State Senior High School student in Jember were selected by means of stratified area random sampling. Meanwhile, the instruments of this research used by writer is: self-adjusment scale written by Azis, emotional intelligence scale, and self concepts scale written by Adi. The results of this research using by regression analysis technique is: First, there is positive significant correlation between self-concepts, emotional intelligence with self-adjusment on adolescents, multiple and even partally. Second, there are no differences between the male and female adolescents in self-concepts, and self-adjusment. But, the writer also finding the difference between the male and female adolescents in the emotional intelligence. The female adolescents have more emotional intelligence than the male adolescents.
PENDAHULUAN
Seluruh organisme, tidak terkecuali manusia terus menerus selalu terlibat dalam usaha penyesuaian diri dengan lingkungannya. Bahkan menurut Kartono dan Andari (1989), semua tingkah laku manusia pada hakekatnya merupakan respons penyesuaian diri. Dengan demikian penyesuaian diri mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Hampir dalam segala aspek kehidupan baik di dalam keluarga, masyarakat, dunia kerja, sekolah dan sebagainya memerlukan kemampuan penyesuaian diri. Individu yang mempunyai kemampuan penyesuaian diri yang tinggi diprediksikan akan lebih berhasil dalam kehidupannya dibandingkan dengan yang mempunyai kemampuan penyesuaian diri yang rendah. Hal ini berlaku juga bagi remaja yang sedang duduk di bangku Sekolah Menengah Umum (SMU).
Sementara itu siswa SMU dilihat dari segi umurnya yang belasan tahun tergolong usia remaja, yang secara tradisional dianggap sebagai periode “badai dan tekanan” suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi dikarenakan remaja berada di bawah tekanan- tekanan sosial dan juga menghadapi situasi yang baru (Monks, Knoers, dan Haditono, 1984). Di samping itu pada masa remaja ini, mereka mengalami dilema penyesuaian diri. Disatu sisi mereka dituntut untuk patuh pada orang tua dan guru, disisi lain mereka dituntut untuk berlaku konform dengan teman sebaya agar dapat diterima dalam kelompoknya. Padahal diantara kedua tuntutan tersebut sering kali tidak sejalan, akibatnya seringkali timbul konflik antara remaja dengan orang tua atau otoritas yang ada.
Secara teoritis, penyesuaian diri pada manusia dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor kesadaran/ pikiran manusia yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah konsep diri (Kapplan dan Pokarny dalam Horton dan Hunt, 1987; Surakhmat dalam Adi, 1988), dan kecerdasan emosional (Goleman, 1999; Stenberg dalam Cooper dan Sawaf, 1998; Patton, 1998).
Berdasarkan uraian di atas, maka masalah yang hendak diungkap dalam penelitian ini adalah: (1) Adakah hubungan antara konsep diri, dan kecerdasan emosional baik secara bersama- sama maupun parsial dengan penyesuaian diri pada remaja? (2) Adakah perbedaan penyesuaian diri, konsep diri, dan kecerdasan emosional antara remaja pria dengan remaja wanita?
TINJAUAN TEORI
Penyesuaian diri adalah suatu respons mental atau tingkah laku individu untuk mengatasi kebutuhan, ketegangan, frustasi dan konflik yang ada dalam dirinya, serta berfungsi untuk menjaga keserasian antara tuntutan yang ada dalam diri dan lingkungannya (Schneider, 1964, Vembriarto, 1984).
Kaplan dan Pokarny (Horton dan Hunt, 1987), berpendapat bahwa salah saru faktor kesadaran atau pikiran manusia yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah konsep diri. Surakhmat (Adi, 1988), menyatakan bahwa konsep diri itu membawa pengaruh pada tingkah laku manusia, berfungsi sebagai guiding principless, paling sedikit sebagai sebab timbulnya bentuk mekanisme penyesuaian tertentu. Individu yang mempunyai konsep diri yang positif diduga lebih mampu melakukan penyesuaian diri dibandingkan dengan individu yang mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini sejalan dengan pendapat Sarwono (Adi, 1988), yang menyatakan bahwa setiap orang mengembangkan tingkah laku yang sesuai dengan pandangannya tengan dirinya sendiri (citra diri). Individu yang memandang dirinya serba tidak bisa, penuh kekurangan, atau menganggap orang lain tidak menyukai dirinya cenderung tidak mau mengambil inisiatif untuk berhubungan dengan orang lain. Hal ini disebabkan tingkah laku merupakan reaksi terhadap persepsinya dengan orang lain, bukan terhadap orang lain itu sendiri (Mead dalam Johnson, 1990; Sarwono dalam Adi, 1988).
Terbentuknya konsep diri dipengaruhi oleh peristiwa belajar. Penilaian orang lain menurut persepsi individu yang bersangkutan dan penilaian diri yang dilakukan oleh dirinya sendiri mempengaruhi konsep diri seseorang. Demikian juga kegagalan dan rasa sukses yang dicapai dalam kehidupannya seperti dalam belajar, pergaulan, pekerjaan mempengaruhi konsep diri seseorang. Menurut Purwanto (1984), makin sesuai konsep diri dengan keadaan diri yang sebenarnya makin memudahkan individu untuk berinteraksi dengan orang lain. Sebaliknya, semakin berbeda konsep diri dengan keadaan diri individu sebenarnya,maka semakin menyulitkan pergaulan dan kehidupannya. Peneltian Adi (1988), melaporkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan penyesuaian diri remaja di SMU Negeri Kartosuro. Semakin tinggi konsep diri remaja, maka semakin tinggi pula kemampuan penyesuaian dirinya.
Faktor internal lain dalam diri seseorang yang diduga mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam penyesuaian diri adalah kecerdasan emosional (Goleman, 1999). Sejalan dengan itu Kartono dan Andari (1989), menyatakan bahwa pribadi yang memiliki cukup emosi dan sentimen yang adekuat, selalu merasa segar, sesuai dan cocok, ada rasa kasih sayang, simpati, altruisme, respek, kelembutan, dan kesediaan untuk menolong tanpa ditindih oleh rasa permusuhan, benci, dendam, iri hati, cemburu, dan rasa-rasa inferior. Penyesuaian diri dalam kaitannya dengan kematangan emosi mempunyai makna individu mampu bersikap positif, dan memiliki respons emosional yang tepat dalam setiap situasi. Dalam artian negatif dapat mengeliminir atau menghindari respons- respons yang tidak efesien. Goleman (1999), lebih lanjut menyatakan bahwa salah satu dari kecerdasan emosional adalah kemampuan atau dapat dikatakan seni mengelola emosi, melakukan empati, dan menangani emosi orang lain. Seni mengelola emosi yang mantap merupakan modal dasar untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Berlandaskan hal ini ketrampilan berhubungan dengan orang lain akan matang bila dia memiliki kemampuan untuk mengelola emosi dan menangani emosi orang lain.
Ketrampilan mengelola emosi tersebut merupakan kecakapan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tidak dimilikinya ketrampilan inilah yang menyebabkan orang yang memiliki IQ tinggipun gagal dalam membina hubungan dengan orang lain, karena penampilannya angkuh, mengganggu, atau tidak berperasaan. Kemampuan sosial ini memungkinkan seseorang untuk membentuk hubungan, menggerakan dan mengilhami orang lain, membina kedekatan hubungan, meyakinkan dan mempengaruhi, membuat orang lain merasa nyaman. Penelitian yang dilakukan oleh Aziz (1999), menunjukan bahwa ada hubungan yang positif antara kecerdasan emosinal dengan penyesuaian diri pada remaja. Semakin tinggi kecerdasan emosional remaja, maka kemampuan penyesuaian dirinya juga semakin tinggi pula.
Remaja pria dan wanita diduga memiliki penyesuaian diri, konsep diri dan kecerdasan emosional yang berbeda. Menurut Horton dan Hunt (1987), perilaku pria dan wanita sungguh berbeda. Penentuan peran dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh perbedaan fisik (jenis seks). Hurlock (1991), menyatakan bahwa peran jenis seks berpengaruh pada perilaku dan penilaian diri seseorang. Individu berusaha agar penampilan, pakaian dan bahkan gerak- geriknya mempunyai kesan yang sesuai dengan peran seksnya. Di samping itu, dalam masyarakat terdapat steriotip tertentu yang mengakibatkan terjadinya perbedaan perlakuan terhadap jenis seks pria dan wanita (Hurlock, 1991; Wilian dan Best dalam Horton dan Hunt, 1987). Bahkan semenjak kanak- kanak pria dan wanita mempelajari steriotip peran seks tertentu. Mereka harus berperilaku sesuai dengan pola- pola yang digariskan dalam peran seks baik malalui latihan langsung maupun tidak langsung. Penanaman steriotip peran seks melalui latihan langsung dilakukan dengan cara memperlihatkan secara langsung suatu model tingkah laku seks tertentu kepada anaknya, dan mendorong mereka untuk melakukannya sesuai dengan jenis seksnya, dan memberikan punishment bila gagal melakukannya. Di samping melalui latihan langsung, anak juga dihadapkan melalui latihan tidak langsung, dengan cara anak tidak diberi kesempatan untuk belajar berperilaku yang tidak sesuai dengan jenis seksnya.
Dilain pihak, remaja pria dipandang memiliki konsep diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja wanita. Hal ini disebabkan steriotip dan penggolongan peran seks akan berpengaruh pada perilaku dan penilaian diri anak. Antara lain, semenjak kecil kebanyakan anak belajar mempunyai cita- cita yang sesuai dengan jenis seksnya. Misalnya, anak pria diharapkan mencita- citakan pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik daripada anak wanita. Dengan begitu anak pria belajar untuk memperoleh nilai sekolah yang lebih tinggi daripada anak wanita dan mereka mempunyai pilihan yang lebih luas, dan pilihan pekerjaan yang lebih bergengsi dalam pekerjaan dibandingkan dengan anak wanita (Barnett, Harris, Hewitt dalam Hurlock, 1991). Selanjutnya Hurlock (1991), menguraikan bahwa penggolongan peran seks ini berpengaruh terhadap penilaian diri individu. Sebab anak menilai diri sendiri sesuai dengan pandangan orang- orang yang penting dalam hidupnya. Jika orang tua, guru, teman- teman menganggap bahwa anak pria lebih tinggi daripada anak wanita, dan peran serta prestasi wanita tidak sepenting pria, maka anak pria cenderung menilai dirinya tinggi, sedangkan anak wanita cenderung menilai dirinya rendah. Pada kecenderungan- kecenderungan inilah terletak dasar untuk terciptanya kompleks unggul pria dan kompleks rendah diri wanita.
Remaja wanita dipandang memiliki kemampuan penyesuaian diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja pria. Robin dan Maioni (Hurlock, 1991), menyatakan bahwa anak wanita jika menunjukan kecenderungan sikap tergantung akan lebih diperkuat daripada perilaku yang sama jika diperlihatkan oleh anak pria. Menurut peran seks yang steriotip, bagi pria mandiri adalah wajar, sedangkan sikap tergantung adalah tepat untuk wanita. Hal ini menyebabkan anak wanita cenderung berorientasi pada hubungan antar manusia. Mereka semenjak kanak- kanak baik belalui latihan langsung maupun tidak langsung dikondisikan untuk lebih konform dalam hubungan sosial (Jersild, Telford dan Sawrey, 1978). Dalam kehidupan sosialnya mereka lebih tergantung pada dukungan dan persetujuan untuk berlaku konform dibandingkan dengan remaja pria.
Sedangkan dalam hal kecerdasan emosional, remaja wanita dipandang mempunyai kecerdasan emosional yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja pria. Hal tersebut menurut Goleman (1999), disebabkan faktor perbedaan pendidikan dalam menangani emosi semenjak kanak- kanak. Pada umumnya orang tua dalam membahas emosi –kecuali marah- lebih banyak dengan anak wanitanya daripada dengan anak prianya. Anak wanita lebih banyak mendapat informasi tentang emosinya dibandingkan dengan anak pria. Perbedaan pendidikan emosi sejak dini tersebut, menghasilkan ketrampilan- ketrampilan yang sangat berbeda. Anak wanita jadi “mahir membaca baik sinyal emosi verbal maupun non verbal, mahir mengungkapkan dan mengkomunikasikan perasaan- perasaannya.” Sedangkan anak pria cakap dalam “meredam emosi yang berkaitan dengan perasaan rentan, salah, takut, dan sakit.” Penelitian terhadap literatur ilmiah dari ratusan studi yang telah dilakukan diketemukan, bahwa secara rata- rata kaum wanita lebih mudah berempati dari pada kaum pria. Secara rata- rata wanita merasakan seluruh rangkaian emosi dengan intensitas lebih besar dan lebih mudah berubah- ubah dari pada pria
Berdasarkan teori dan hasil penelitian terdahulu, maka pada penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut: (1) Ada hubungan yang positif antara konsep diri, dan kecerdasan emosional secara bersama- sama dengan penyesuaian diri. SMU (2) Ada hubungan yang positif antara konsep diri dengan penyesuaian diri pada remaja.SMU (3) Ada hubungan yang positif antara kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri pada remaja SMU. (4) Ada perbedaan penyesuaian diri antara remaja pria dengan remaja wanita. (5) Ada perbedaan konsep diri antara remaja pria dengan remaja wanita. Lebih lanjut dapat ditegaskan bahwa remaja pria memiliki konsep diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja wanita. (6) Ada perbedaan kecerdasan emosional antara remaja pria dengan remaja wanita. Lebih lanjut dapat ditegaskan bahwa remaja wanita memiliki kecerdasan emosional lebih tinggi dibandingkan dengan remaja pria.
SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian ini adalah siswa SMU Negeri di Kabupaten Jember sejumlah 222 siswa yang diambil secara teknik stratified area random sampling. Pengambilan sampel memakai teknik ini diawali dengan menentukan area atau daerah yang ada dalam kancah penelitian yaitu SMU yang ada di dalam kota, luar kota (desa), dan pinggiran kota. Berikutnya menentukan strata atau lapisan yang ada dalam kancah penelitian, yaitu siswa kelas I, kelas II, dan kelas III. Selanjutnya untuk setiap area diambil satu sekolah, dan untuk setiap strata dari masing- masing sekolah diambil satu kelas.
Alat Pengumpul Data
Data dikumpulkan melalui skala penyesuaian diri, skala konsep diri, dan skala kecerdasan emosional. Ketiganya menggunakan model skala Likert yang telah dimodifikasi, berupa pernyataan- pernyataan tertulis dengan masing- masing memiliki 5 alternatif jawaban yang bersifat simetris. Jenjang ke arah positif sama banyak dengan jenjang ke arah negatif, dan jawaban yang ditengah bersifat netral (Azwar, 1999; NewComb, Turner, dan Converse, 1981). Uji validitas menggunakan teknik korelasi product moment yang dilanjutkan dengan korelasi Part-Whole, sedangkan uji reliabilitasnya menggunakan analisis varians dari Hoyt.
Skala penyesuaian diri yang dipakai adalah skala penyesuaian diri yang dikembangkan oleh Aziz (1999), berdasarkan pada komponen penyesuaian diri dari Schneider yang membagi komponen penyesuaian diri atas penyesuaian diri personal dan penyesuaian diri sosial. Koefesien validitas butir bergerak antara 0,414 sampai dengan 0,978. Aziz (1999), melaporkan koefesien validitas bergerak antara 0,2218 sampai dengan 0,5301. sedangkan koefesien reliabilitas alpha sebesar 0,991 dan uji reliabilitas yang dilakukan peneliti didapatkan angka sebesar 0,8773.
Skala konsep diri yang dipakai adalah skala konsep diri yang dikembangkan oleh penulis yang mengacu kepada teori konsep diri dari Brools (Rakhmat, 1985). Komponen- komponen yang diungkap adalah pandangan dan perasaan tentang diri sendiri yang bersifat fisik, psikologis dan sosial. Instrumen terdiri atas 108 item, setelah dilakukan uji coba yang valid tinggal 91 aitem. Koefesien validitas bergerak antara 0,118 sampai dengan 0,566 dan koefesien reliabilitasnya sebesar 0,915.
Sedangkan skala kecerdasan emosional yang dipakai adalah skala kecerdasan emosional yang disusun oleh Aziz (1999) dan dikembangkan lebih lanjut oleh penulis yang mengacu pada teori kecerdasan emosional dari Goleman (1999), Gardner dan Salovey (Goleman, 1999). Komponen kecerdasan emosional yang diungkap adalah kecerdasan intrapersonal dan antarpersonal. Instrumen terdiri dari 60 item, setelah dilakukan uji coba yang valid tinggal 55 aitem. Koefesien validitas bergerak antara 0,113 sampai dengan 0,493 dan koefesien reliabilitasnya sebesar 0,854.
Analisa Data
Analisa data untuk hipotesa pertama menggunakan regresi 1 jalur, hipotesis kedua dan ketiga korelasi parsial, hipotesis keempat, lima dan keenam menggunakan anava 1 jalur
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Seperti telah dijelaskan hasil penelitian dibedakan menjadi tiga bagian sesuai dengan analisis data yang ditempuh. Pada bagian pertama akan dikemukakan hasil analisis regresi 1 jalur, bagian kedua analisis korelasi parsial, dan bagian ketiga hasil analisis anava 1 jalur, semua komputasinya menggunakan jasa komputer Program SPS edisi Sutrisno Hadi dan Pamardiningsih ( 2000)
Hasil analisis regresi 1 jalur
Hasil analisis regresi 1 jalur untuk menguji hipotesa pertama menunjukan bahwa hipotesis pertama yang berbunyi, “Ada hubungan yang positif antara konsep diri, dan kecerdasan emosional secara bersama- sama dengan penyesuaian diri pada remaja.” Diterima (F = 47,253; p = 0,000 atau p <>
Hasil Analisis Korelasi Parsial
Hasil analisis korelasi parsial untuk menguji hipotesis kedua dan ketiga menunjukan bahwa untuk hipotesis pertama yang berbunyi “AdaAda hubungan yang positif antara kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri pada remaja.” diterima (r = 0.335; p = 0.000 atau p <> hubungan yang positif antara konsep diri dengan penyesuaian diri pada remaja.” diterima (r = 0.492; p = 0.000 atau p<>
Hasil Analisis Varians
Hasil analisis varians untuk menguji hipotesis keempat, kelima, dan keenam menunjukan bahwa hipotesis keempat yang menyatakan “Ada perbedaan penyesuaian diri antara remaja pria dengan remaja wanita. Lebih lanjut dapat ditegaskan bahwa penyesuaian diri remaja wanita lebih tinggi dibandingkan dengan remaja pria” ditolak (F = 0.732; p = 0.301 atau p > 0.050). Dengan begitu hasil penelitian ini menunjukan tidak ada perbedaan yang signifikan antara remaja pria dengan wanita dalam hal penyesuaian diri.
Hasil analisis varians juga menunjukan bahwa hipotesis kelima yang menyatakan “Ada perbedaan antara remaja pria dengan remaja wanita dalam hal konsep diri, lebih lanjut dapat ditegaskan bahwa remaja pria memiliki konsep diri yang lebih positif dibandingkan dengan remaja wanita” ditolak (F = 0.178; p = 0.339; atau p > 0.050). Artinya hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara remaja pria dengan wanita dalam hal konsep diri.
Di samping itu hasil analisis varians terhadap hipotesis keenam didapatkan nilai F = 2.772; p = 0.048 (p < t =" 1.650;" p =" 0.048" p =" 0.050)." st="on">Ada perbedaan kecerdasan emosional antara remaja pria dengan remaja wanita, lebih lanjut dapat ditegaskan remaja wanita memiliki kecerdasan emosional lebih tinggi dibandingkan dengan remaja pria” diterima. Artinya hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan antara remaja pria dengan remaja wanita dalam hal kecerdasan emosional. Remaja wanita memiliki kecerdasan emosional lebih tinggi dibandingkan dengan remaja pria.
Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa konsep diri, kecerdasan emosional secara bersama- sama mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri remaja yang sedang duduk di bangku SMU Negeri di Kabupaten Jember. Sumbangan efektif variabel bebas secara bersama- sama terhadap variabel terikat penyesuaian diri sebesar 30.145%. variabel konsep diri mempunyai pengaruh yang lebih dominan terhadap kemampuan penyesuaian diri yaitu sebesar 21.845%, dibandingkan dengan variabel kecerdasan emosional yang memberikan sumbangan efektif sebesar 8.300%.
Lebih lanjut dapat diungkapkan, pertama, ada hubungan yang positif dan sangat signifikan antara konsep diri dengan penyesuaian diri pada remaja. Semakin tinggi konsep diri remaja yang sedang duduk di bangku SMU, maka kemampuan penyesuaian dirinya makin tinggi juga, dan sebaliknya. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Adi (1988), yang menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan penyesuaian diri pada remaja. Hal ini sesuai dengan yang dikemukan oleh Surakhmat (Adi, 1988), yang menyatakan bahwa konsep diri itu merupakan aspek kepribadian yang banyak mempengaruhi tingkah laku. Salah satu faktor konsep diri, yaitu penilaian dan persepsinya terhadap penerimaan sosial, penghargaan orang lain, rasa sukses membuat individu mempunyai konsep diri yang positif. Selanjutnya hal tersebut dapat memunculkan rasa percaya diri, dan dilandasi sikap yang positif terhadap orang lain dapat mendorong individu mau membuka diri dan berkomunikasi dengan orang lain tanpa melakukan pertahanan diri (defence mechanism) yang berlebihan.
Berkaitan dengan aspek dan perasaan tentang diri sendiri yang bersifat sosial (Mead dalam Horton dan Hunt, 1990); Wirawan dalam Adi (1988), menyatakan bahwa di dalam berperilaku di hadapan orang lain, individu selalu memperhitungkan keberadaan orang lain tersebut, atau dapat dikatakan, “tingkah laku merupakan reaksinya terhadap persepsinya tentang orang lain, bukan terhadap orang lain itu sendiri.” Ketika berhubungan dengan orang lain, individu akan menilai dirinya berdasarkan persepsinya terhadap penilaian orang lain tentang dirinya. Misalnya, seorang remaja mempersepsi bahwa pak guru Amin orangnya ramah, dan menurut persepsinya gak guru Amin menyukainya, maka walaupun sebenarnya pak guru Amin tidak menyukai remaja tersebut cenderung mau berkomunikasi dan membuka diri kepada pak guru Amin. Sehubungan dengan aspek penilaian dan perasaan tentang diri sendiri yang bersifat psikologis menurut Sarwono (Adi, 1988), menyatakan bahwa setiap orang mengembangkan tingkah laku yang sesuai dengan pandangannya tentang diri sendiri. Individu yang memandang dirinya serba tidak bisa, akan cenderung tidak berani untuk melakukan sesuatu, dan mengalami rasa minder dalam pergaulannya. Kegagalan dan rasa sukses dalam belajar, rasa penolakan dan penerimaan orang lain akan mempengaruhi konsep dirinya, yang selanjutnya akan mempengaruhi penyesuaian dirinya.
Sedangkan dalam aspek penilaian dan perasaan tentang diri sendiri yang bersifat fisik, sangat berkaitan dengan fenomena di masyarakat pada umumnya, dimana orang akan lebih menyenangi orang yang mempunyai wajah tampan atau cantik daripada yang jelek. Kesan seseorang dalam memandang orang lain juga dipengaruhi oleh keadaan fisik seseorang. Individu yang mempunyai konsep diri fisik yang positif, cenderung memunculkan harga diri yang tinggi, dan disertai dengan penerimaan orang lain, maka pada individu yang bersangkutan timbul rasa percaya diri, selanjutnya rasa percaya diri tersebut mendorongnya untuk berani berhubungan dengan orang lain. Hal ini mendukung teori yang dikemukakan oleh Hill dan Monks (Monks, Knoers, dan Haditono, 1984), yang menyatakan bahwa remaja mengadakan penilaian terhadap badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia memandang badannya memenuhi harapannya, maka hal tersebut berakibat positif terhadap penilaian dirinya, dan jika tidak sesuai dengan harapannya, maka timbulah masalah- masalah yang berhubungan dengan penilaian diri dan sikap sosialnya. Ketidakpuasan terhadap keadaan fisik yang kuat dapat menimbulkan penilaian diri yang begitu rupa sehingga dapat menghambat perkembangan kepribadian yang sehat dan akhirnya dapat menghambat penyesuaian dirinya.
Kedua, ada hubungan yang positif dan sangat signifikan antara kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri pada remaja yang sedang duduk di SMU. Korelasi positif antara kedua variabel tersebut adalah searah. Kenaikan skore kecerdasan emosional akan diikuti oleh skore penyesuaian diri. Dengan kata lain, semakin tinggi kecerdasan emosional remaja, maka semakin tinggi pula kemampuan penyesuaian dirinya, dan sebaliknya. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Aziz (1999), yang menyimpulkan bahwa kecerdasan emosional berpengaruh terhadap kemampuan penyesuaian diri pada remaja. Dan mendukung teori yang dikemukakan oleh Goleman (1999), yang menyatakan bahwa peranan kecerdasan akademis (IQ) hanyalah sekitar 20% untuk menopang kesuksesan hidup seseorang, sedangkan 80% lainnya ditentukan oleh faktor lain yang diantaranya adalah faktor kecerdasan emosional. Hal tersebut disebabkan kecerdasan akademis (IQ) tidak memberikan kesiapan untuk menghadapi gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan- kesulitan hidup. Penyesuaian diri merupakan salah satu indikator kesuksesan hidup seseorang, sehingga dapat dipahami bila semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang remaja, maka kemampuan penyesuaian dirinya semakin baik. Orang yang sehat biasanya mampu mengenal emosi yang dialaminya dan dapat mengekspesikan emosi yang dialaminya itu sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungannya (Martani dalam Aziz, 1999).
Berkaitan dengan sikap optimis sebagai salah satu aspek kecerdasan emosional, Lazarus dan Taylor (Aziz, 1999), menyebutkan bahwa orang- orang yang optimis cenderung lebih bahagia dalam menikmati hidupnya, selain itu merekapun dapat terhindar dari masalah- masalah mental seperti depresi. Orang yang optimis selalu berfikir positif, selalu memandang terhadap suatu masalah dari segi sisi yang positif dan mengharapkan hasil yang terbaik. Sikap optimis ini sangat mendukung kesuksesan seseorang.
Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan penyesuaian diri antara remaja pria dengan remaja wanita. Ada beberapa alasan yang menyebabkan tidak terdapatnya perbedaan antara pria dengan wanita dalam hal penyesuaian diri, antara lain dikarenakan pada dasarnya remaja pria dan wanita mempunyai kebutuhan yang sama dalam hal mengaktualisasikan diri. Kebutuhan mengaktualisasi diri ini mendorong remaja pria dan wanita selalu berusaha untuk mengadakan penyesuaian diri terhadap dirinya sendiri maupun kepada lingkungannya. Di samping itu, kondisi, tuntutan dan mata pelajaran yang diterima di lingkungan sekolah tempat remaja menuntut ilmu adalah relatif sama juga, sehingga mereka baik remaja pria maupun wanita mengadakan penyesuaian diri yang sama pula. Namun demikian, hasil ini memperkuat hasil penelitian dari Aziz (1999), yang menemukan bahwa tidak ada perbedaan penyesuaian diri pada remaja pria dan wanita. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Sutawiyan (Aziz, 1999), dan Tidjan (1989), yang menemukan bahwa tidak ada perbedaan penyesuaian diri antara remaja pria dan wanita yang duduk di bangku SLTP.
Hasil penelitian berikutnya diketemukan bahwa tidak ada perbedaan antara remaja pria dengan remaja wanita dalam hal konsep diri. Faktor yang mungkin menjadi alasan tidak terbuktinya hipotesis ini adalah karena orang Indonesia termasuk masyarakat Jember telah menerapkan nilai- nilai keluarga kecil dan bahagia baik disadari maupun tidak. Dewasa kini kebanyakan keluarga hanya mempunyai anak satu atau dua, maksimal tiga anak dengan ditanamkan suatu nilai baru tentang anak yang menyatakan bahwa anak pria-wanita sama saja, sehingga kehadiran seorang anak baik itu pria maupun wanita diterima dengan hangat, dan karena jumlah keluarganya kecil, maka orang tua mempunyai waktu memperhatikan mereka, dengan adanya perhatian dan penerimaan orang tua menyebabkan konsep diri mereka menjadi tinggi. Hal ini terbukti dari mean empiris konsep diri lebih tinggi daripada mean hipotesisnya. Hasil ini sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh Sarwono (1986); juga Mead (Johnson, 1990), sikap orang tua yang hangat, menerima, penuh perhatian mengakibatkan mereka mempunyai konsep diri yang positif (juga Pervin dalam Gading, 1990; Pikunas dalam Gading, 1990; Rakhmat, 1985). Penelitian yang dilakukan oleh Medinnus (Gading, 1990), menyimpulkan bahwa bila orang tua dari awal sudah menerima anak, maka akan besar sumbangan bagi penerimaan diri anak, dan penerimaan diri merupakan landasan yang kuat bagi pembentukan konsep diri yang positif. Faktor lain yang mungkin menjadi alasan tidak terbuktinya hipotesis ini adalah semakin meningkatnya kesempatan bagi wanita untuk sekolah, melakukan kegiatan dan berprestasi yang sama, bahkan lebih baik dibandingkan dengan pria. Penelitian yang dilakukan oleh Rogers (Gading, 1990), menyimpulkan bahwa konsep diri tergantung kepada tingkat prestasi yang dicapai di sekolah dan bagaimana prestasi itu jika dibandingkan dengan prestasi teman- teman sekelasnya, juga Poteebaum (Gading, 1990), yang menemukan korelasi antara prestasi belajar yang diukur tahun 1980 dengan konsep diri yang diukur pada tahun 1982.
Selain itu, hasil penelitian ini juga menunjukan bahwa ada perbedaan antara remaja pria dengan wanita dalam hal kecerdasan emosional. Remaja wanita memiliki kecerdasan emosional lebih tinggi dibandingkan dengan remaja pria. Menurut Goleman (1999), perbedaan itu disebabkan semenjak kanak- kanak jenis kelamin pria dan wanita dididik dengan pola yang berbeda dalam menangani emosinya. Orang tua lebih banyak membahas emosi dengan anak wanitanya dibandingkan dengan anak prianya. Akibatnya anak wanita lebih banyak mendapatkan informasi dan ketrampilan menangani emosinya dibandingkan dengan anak pria. Di samping itu perbedaan kecerdasan emosional antar jenis kelamin tersebut dikarenakan perkembangan kemampuan bahasa anak wanita lebih cepat daripada anak pria, maka mereka lebih cepat belajar dan lebih berpengalaman dalam mengutarakan perasaannya, dan lebih cakap daripada anak pria dalam memanfaatkan kata- kata untuk menjelajahi dan untuk menggantikan reaksi- reaksi emosional seperti perkelahian fisik. Sebaliknya, anak pria yang verbalisasi perasaannya “ditumpulkan” sebagian besar tampak kurang peka akan keadaan emosinya, baik emosi yang ada dalam dirinya sendiri, maupun pada orang lain (Brody dan Hall dalam Goleman, 1999). Faktor lain yang menyebabkan adanya perbedaan pria dengan wanita dalam kecerdasan emosional adalah berkaitan dengan perbedaan orientasi sosial. Pria merasa bangga akan kemandirian dan kemerdekaannya, berfikiran ulet serta mandiri. Sementara wanita lebih melihat dirinya sebagai jaringan hubungan, oleh karena itu pria akan merasa terancam bila ada apa- apa yang dapat menantang kemandiriannya, sementara wanita merasa terancam oleh terputusnya hubungan yang mereka bina. Akibatnya wanita dalam berhubungan dengan orang lain lebih menekankan pada penciptaan hubungan emosi dan menjaga keharmonisan.
Perbedaan dalam pendidikan emosi sejak dini antar jenis kelamin, perkembangan kemampuan bahasa sejak dini, dan orientasi sosial tersebut, menghasilkan ketrampilan yang sangat berbeda antara pria dan wanita dalam menangani emosi. Anak wanita menjadi mahir membaca baik sinyal emosi verbal maupun non verbal, mahir mengungkapkan dan mengkomunikasikan perasaan- perasaannya. Dan anak pria menjadi cakap dalam meredam emosi, yang berkaitan dengan rasa rentan, salah, takut, dan sakit (Goleman, 1999). Hasil penelitian ini mendukung ratusan penelitian terdahulu yang dirangkum oleh Goleman (1999), yang menemukan bahwa secara rata- rata wanita lebih mudah berempati daripada kaum pria. Dan secara rata- rata wanita merasakan seluruh rangkaian emosi dengan itensitas yang lebih besar.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, analisis, dan pembahasan yang telah diuraikan di muka, maka dapat disimpulkan bahwa: Pertama, terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara konsep diri, kecerdasan emosional baik secara bersama- sama maupun secara parsial dengan penyesuaian diri pada remaja yang sedang duduk di bangku SMU. Namun demikian konsep diri memberikan pengaruh yang lebih dominan terhadap kemampuan penyesuaian diri dibandingkan dengan kecerdasan emosional. Kedua, tidak ada perbedaan yang signifikan antara remaja pria dengan wanita dalam hal konsep diri. Dilihat dari mean empiris konsep diri, baik remaja pria maupun wanita relatif tinggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara remaja pria dengan wanita dalam hal kecerdasan emosional. Remaja wanita memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja pria. Di samping itu, hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara remaja pria dan wanita dalam hal penyesuaian diri. Dan penyesuaian diri remaja wanita maupun wanita relatif tinggi.
Saran
Setelah melihat hasil penelitian seperti yang telah diuraikan di muka, maka saran- saran yang dapat penulis berikan adalah sebagai berikut: Bagi orang tua, dari hasil penelitian ini diharapkan menjadi informasi bagi para orang tua, untuk bahan pertimbangan dalam mengasuh putra- putrinya terutama dalam rangka mengembangkan konsep diri, kecerdasan emosional dan kemampuan penyesuaian diri yang baik. Dengan demikian diharapkan orang tua mampu mengasuh putra- putrinya untuk menjalani kehidupannya sesuai dengan tuntutan dari dirinya sendiri dan peranan yang diharapkan oleh keluarga, masyarakat dan negara. Dalam mengasuh, membimbing dan membina putra- putrinya, orang tua hendaknya mampu memahami remaja dengan segala karakteristiknya yang melekat pada diri mereka. Peran orang tua idealnya harus mampu memahami konsep diri remaja, membantu mengembangkan konsep diri mereka kearah yang lebih positiflagi, meningkatkan kecerdasan emosional mereka, dengan demikian diharapkan mereka mempunyai kemampuan penyesuaian diri yang lebih baik lagi.
Bagi sekolah, di samping mengembangkan aspek cognitif hendaknya juga memperhatikan pengembangan aspek kecerdasan emosional dan konsep diri siswa, sehingga mereka tidak saja cerdas secara kognitif, juga cerdas secara emosional, dan mempunyai konsep diri yang positip. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan kedua aspek tersebut adalah dengan mengkaitkan proses pembelajaran di kelas dengan pengembangan kecerdasan emosional, dan pembentukan konsep diri yang positif. Di samping itu, kegiatan- kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dapat diisi dengan pelatihan- pelatihan ataupun kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kecerdasan emosional dan pengembangan konsep diri yang positif, serta pengembangan kemampuan penyesuaian diri mereka.
Bagi peneliti selanjutnya, penelitian yang penulis lakukan dengan tema konsep diri dan kecerdasan emosional dalam kaitannya dengan penyesuaian diri, dalam kenyataanya lingkupnya terasa masih sangat terbatas. Penelitian ini mungkin akan lebih baik jika memerinci aspek- aspek dari konsep diri, kecerdasan emosinal dan penyesuaian diri, dan mengkaitkan serta membandingkannya secara lebih detail. Dapat juga dengan menambahkan atau mengganti dengan variabel lain semacam kecerdasan spiritual, harga diri sebagai variabael bebas, dan variabel terikatnya dapat ditambahkan antara lain motif berprestasi, coping stress, kecemasan sebagai variabel terikatnya. Selain itu, penelitian ini tidak memeperhatikan perbedaan IQ, usia, status sosial ekonomi, strata kelas pararel, usia, lokasi sekolah (desa, kota, pinggiran). Bagi peneliti selanjutnya, yang berminat terhadap tema yang sama dengan penelitian ini diharapkan dapat mempertimbangkan faktor- faktor tersebut dengan mengikut sertakan variabel- variabel lainnya. Mungkin juga perlu mempertimbangkan penerimaan orang tua dan jumlah anak, serta urutan kelahirnnya dalam keluarga.
*Kukuh Jumi Adi adalah alumni FKIP Program BK UNS Solo tahun 1988, dan menyelesaikan Magister Psikologi di UNTAG Surabaya tahun 2001, sekarang sebagai guru pembimbing yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah di SMP Negeri 1 Panti Jember. Juga sebagai fungsionaris: Lembaga Layanan dan Konsultasi/Tes Psikologi, Pendidikan dan Penelitian (LLKPP) Prima Utama Kabupaten Jember. Penelitian ini dibiayai oleh LLKPP Prima Utama
PRAKTIK PEMBERIAN BANTUAN TRADISIONAL DI KALANGAN WARGA MASYARAKAT JAWA KEJAWEN (Studi kasus pada warga masyarakat priyayi Surakarta).
Penulis : Dr. Soetarno, M.Pd
Konseling adalah bantuan kemanusiaan yang dilaksanakan dengan wawancara yang mengharuskan interaksi dan komunikasi yang mendalam antara konselor dan klien dengan tujuan pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan, dan perubahan tingkah laku atau sikap. Dengan konseling klien memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya, mampu mengarahkan diri sesuai potensinya, mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapi, mempunyai wawasan yang lebih realistis dan penerimaan yang obyektif tentang dirinya, serta memperoleh kebahagiaan hidup dan dapat menyesuaikan secara efektif baik terhadap diri sendiri maupun lingkungannya. Umumnya para praktisi konseling di Indonesia melaksanakan layanan konseling menggunakan ancangan dari Barat yang telah mapan. Meskipun telah terbukti keefektifannya di Barat terhadap klien di negara Barat, profesional konseling di Indonesia semestinya melakukan penyesuaian atau pengembangan untuk membantu klien yang berasal dari lingkungan budaya Indonesia. Hal ini disebabkan oleh karena konseling banyak muatan budaya; dan terdapat perbedaan antara budaya Indonesia dengan budaya Barat, bahkan ada yang bertentangan. Di Indonesia, khususnya di lingkungan warga masyarakat Jawa Kejawen, secara historis telah ada layanan bantuan yang dilaksanakan oleh praktisi pemberi bantuan tradisional. Layanan bantuan tradisional ini diberikan oleh wong tuwo atau wong pinter kepada warga masyarakat yang membutuhkan. Warga masyarakat yang membutuhkan bantuan tradisional khususnya bantuan penyelesaian masalah hidup dan kehidupan itu mencakup orang tua, dewasa , maupun remaja, baik laki-laki atau wanita dari golongan priyayi atau rakyat biasa, pegawai ataupun swasta. Masalahnya adalah : (1) Bagaimanakah pelaksanaan pemberian bantuan tradisional di kalangan warga masyarakat Jawa Kejawen? dan (2) Apakah komponen dasar konseling yang terkandung di dalam bantuan tradisional itu? Penelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman tentang : (1) Praktik pemberian bantuan tradisional di kalangan warga masyarakat Jawa Kejawen, dan (2) Komponen dasar konseling yang terkandung di dalam bantuan tradisional. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian kualitatif dengan ancangan kebudayaan/etnografi, je-nis penelitian studi kasus dengan rancangan penelitian multi kasus. Penelitian studi kasus dilaksanakan di Kota Surakarta dengan subyek penelitian sebagai informan adalah warga masyarakat priyayi yang dipilih secara sengaja. Subyek penelitian terdiri dari tiga orang praktisi pemberi bantuan tradisional dan tiga penerima bantuan tradisional pasangan masing-masing praktisi tersebut. Masing-masing pasang pemberi dan penerima bantuan tradisional sebagai kasus tunggal pertama, kedua, dan ketiga. Penelitian dilaksanakan dua tahap, yaitu penelitian tahap 1 terhadap praktik pemberian bantuan tradisional, dan penelitian tahap II terhadap komponen dasar konseling yang terkandung di dalam bantuan tradisional. Prosedur penelitian multi kasus dimulai dengan meneliti secara intensif kasus tunggal pertama, dilanjutkan dengan meneliti kasus tunggal ke dua dan terakhir meneliti kasus tunggal ke tiga untuk memperoleh temuan akhir sebagai hasil penelitian. Analisis data penelitian tahap I, praktik pemberian bantuan tradisional diperoleh simpulan : (1) Praktik pemberian bantuan tradisional di kalangan warga masyarakat Jawa Kejawen dilaksanakan oleh praktisi pemberi bantuan tradisional yang memiliki kemampuan supra natural, berlandaskan nilai budaya Jawa Kejawen yang dipadu dengan pandangan dasar wong tuwa; (2) Ada variasi model pemberian bantuan tradisional ber- dasarkan pandangan dasar wong tuwa sesuai dengan latar belakang pengalamannya, yaitu (a) model bantuan tradisional berlandaskan nilai budaya Jawa Kejawen, (b) model bantuan tradisional berlandaskan nilai budaya Jawa Kejawen di padu dengan pandangan rasionalisme, dan (c) model bantuan tradisional berlandaskan nilai budaya Jawa Kejawen di padu dengan pandangan berdasarkan ajaran Islam. Analisis data penelitian tahap II, komponen-komponen dasar konseling yang terkandung didalam bantuan tradisional berdasarkan konsep bahwa konseling sebagai bantuan psikologi terdiri atas komponen-komponen dasar, diperoleh simpulan : (1) Bantuan tradisional mengandung komponen-komponen dasar konseling berikut; (a) dasar filsafat, yaitu manusia sebagai mahluk Tuhan yang dibekali sifat dan kemampuan kodrat, (b) tingkah laku bermasalah adalah takdir Tuhan dan atau akibat manusia tidak mendaya gunakan sifat dan kemampuan kodratnya dengan benar, (c) pemberian bantuan adalah bantuan kepada individu yang menghadapi masalah melalui wawancara antara pemberi dan penerima bantuan dalam usaha menyelesaikan masalah penerima bantuan, (d) tujuan akhir pemberian bantuan adalah penerima bantuan terselesaikan masalahnya, merasa bahagia yang ditandai dengan merasa hidup tenang, tenteram tanpa ada beban pikiran dan /atau perasaan, dan (e) bantuan pemecahan masalah yang diberikan oleh pemberi bantuan dalam bentuk nasihat dan/atau tindakan yang harus dilaksanakan oleh penerima bantuan; (2) Secara ideal bantuan tradisional di kalangan warga masyarakat Jawa Kejawen belum dapat disebut sebagai konseling, karena tidak adanya beberapa hal-hal prinsip konseling di dalamnya. Implikasi pengembangan penelitian ini adalah: Pengembangan model konseling spiritual / religius yang berlandaskan nilai budaya Jawa Kejawen dengan melaksanakan hal-hal prinsip konseling untuk mencapai tujuan konseling. Dalam hal ini nilai dan paham Jawa Kejawen sebagai alat mencapai tujuan konseling.
1. S1, FIP-IKIP Suirakarta, tahun 1972 ( Bidang ilmu: Bimbingan dan Penyuluhan ) 2. S2, PPs – IKIP Malang, tahun 1997 ( Bidang Ilmu: Bimbingan dan Konseling ) 3. S3, PPs – Universitas Negeri Malang, tahun 2005 ( Bidang Ilmu: Bimbingan dan Konseling )
Judul Disertasi :
Praktik Pemberian Bantuan Tradisional di Kalangan Warga Masyarakat Jawa Kejawen (Studi Kasus pada Warga Masyarakat Priyayi Surakarta)
Buku:
1. Dasar-Dasar Psikologi Kepribadian dan Sosial 2. Pemahaman Individu I, BPK UNS 3. Pemahaman Individu II, BPK UNS 4. Masalah Belajar dan Bimbingan, BPK UNS 5. Pendekatan Kelompok dalam Bimbingan & Pengajaran, BKP UNS 6. Penelitian Pendidikan dan Bimbingan, Bahan Ajar FKIP UNS 7. Model-Model Konseling, Bahan Ajar FKIP UNS 8. Contoh-Contoh Penggunaan Rumus Statistik untuk Analisis Data Penelitian Pendidikan dan Bimbingan, Bahan Ajar FKIP UNS 9. Evaluasi Pengajaran, Paket Pembelajaran UNS 10. Evaluasi Belajar Mengajar, Bahan Ajar 11. Profesi Keguruan, Paket Pembelajaran UNS 12. Penilian Layanan B. & K., HO FKIP UNS 13. Survai Permasalahan Bimbingan , Hand Out 14. Bimbingan Belajar, Hand Out 15. Perkembangan Peserta Didik, Hand Out 16. Psikodiagnostik, Hand Out 17. Perkembangan dan Bimbingan Peserta Didik, Bahan Ajar Sertif. Guru FKIP UNS
Penelitian:
1. Kajian Nilai Budaya yang Terkandung di dalam Serat Wedhatama dan Sumbangannya pada Landasan Budaya Bimbingan 2. Model Penanganan Penyimpangan Tingkah Laku Siswa di Sekolah Guru Pembimbing SMA Kota Madya Surakarta 3. Studi Penerapan Belajar yang Efektif di UNS 4. Kajian Bahan Informasi Bimbingan dalam Ajayan yang Terkandung di dalam Serat Wedhatama 5. Identifikasi Masalah Psikologis Siswa Sekolah Dasar yang Rawan Putus Sekolah ( Studi pada Siswa SD Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta) 6. Informasi Bimbingan dalam Ajaran yang Terkandung Serat Wedhatama Studi tentang Penerapan Pembelajaran yg Efektif di UNS
Kegiatan Ilmiah (Nasional/Internasional):
1. Pokok-Pokok Pikiran Peranan Guru Pembimbing dalam Pelaksanaan KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Makalah Seminar Peningkatan Kualitas Guru BK di Sekolah oleh Pusat Bimbingan-Konseling dan Pengembangan Karir LPP UNS 2. Pokok-Pokok Pikiran Penyusunan Program Pengembangan Diri. Makalah Seminar Nasional Bimbingan Konseling dan Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP UNS 3. Pokok-Pokok Pikiran Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Makalah Lokakarya Pengembangan Kurikulum FKIP Universitas Muhammadiyah Magelang 4. Meningkatkan Keberadaan Layanan B & K di Sekolah, Makalah Seminar Nasional 5. Segi-Segi Dasar Konseling, Makalah Seminar Nasional 6. Persiapan Guru Pembimbing dalam Pelaksanaan KBK, Makalah Seminar Regional Jawa Tengah 7. Peranan Guru Pembimbing dalam Meningkatkan Mutu Lulusan, Makalah Seminar Regional Surakarta 8. Menyususn Program B&K di SMK, Bahan Pelatihan Guru SMK Klaten 9. Konselor Profesional, Makalah Seminar Regional Surakarta 10. Penerapan KBK Program Studi BK, Makalah Lokakarya FKIP UMM 11. Kompetensi Konselor di Berbagai Lembaga di Luar Institusi Pendidikan, Makalah Workshop Hibah S.P4 FKIP UNISRI 12. Pemberdayaan Guru Pembimbing dalam Meningkatkan Budi Pekerti dan Prestasi Belajar Siswa, Seminar Guru Pembimbing SLTP dan SMU se Eks. Karesidenan Surakarta 13. Penggunaan Hasil Tes Psikologi dalam Layanan B & K, Makalah Workshop B & K Guru Pembimbing Kabupaten Magelang 14. Pembelajaran dan Pengembangan Bahan Ajar: Metode & Model Pembelajaran dan Pengembangan Bahan Ajar, Makalah Workshop Hibah S.P4 Fakultas Ekonomi UNISRI 15. Sistem Pembelajaran, Makalah Workshop Hibah S.P4 Jurusan Seni Rupa FSS UNS
Organisasi:
1. Ketua Bidang Pendidikan SEMA FIP IKIP Surakarta tahun 1970-1972 2. Ketua Bidang Pendidikan DEMA IKIP Surakarta tahun 1970-1972 3. Anggota Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) 4. Ketua Cabang Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) Kodya Surakarta,1992-1996 5. Anggota Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) 6. Ketua Alumni Jurusan B.P FIP IKIP Surakarta dan Program Studi B.K FKIP UNS, 2000-2004 7. Sekretaris BP3 SMA Negeri 1 Surakarta, 1996-2002 8. Sekretaris Badan Kerjasama BP3 SMA dan SMK Kota Surakarta, 1998-2002 9. Ketua Komite Sekolah SMA Negeri 1 Surakarta, 2003-2007 10. Wakil Bendahara Oengurus Daerah ISPI Jawa Tengah, 2007-2010 11. Bidang Pendidikan Pengurus Cabang ISPI Surakarta, 2007-2