Tampilkan postingan dengan label Ikabela. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikabela. Tampilkan semua postingan
AKHIRNYA, BK UNS BUKA LAGI

AKHIRNYA, BK UNS BUKA LAGI

Selamat, Prodi (program studi) Bimbingan Konseling UNS dibuka lagi tahun ini.
Sempat vakum selama 22 tahun dari kegiatan akademik, terakhir menerima mahasiswa angkatan 1985 kalau tak salah, dan mati suri berkepanjangan, almamater kita kembali siap mencetak tenga konselor profesional. Alhamdullilah.

Memang menjadi pertanyaan besar waktu itu, mengapa BK UNS harus ditutup, sementara PTN lain yang mempunyai prodi serupa tetap jalan. Kalau lulusannya dianggap sudah jenuh, apa parameternya? Sedangkan masih banyak sekolah tidak memiliki tenaga konselor dari jurusan BK, dan sebagian besar jumlahnya tidak memadai. Padahal kondisi sekolah kekurangan tenaga konselor masih berlangsung sampai saat ini.
Tapi waktu itu saya berpikir positif saja menanggapi penutupan tersebut. Saya malah berpikir, kalau sumbernya ditutup, tenaga konselor jadi mudah cari kerja karena jumlahnya terbatas. Nyatanya, sebagian besar teman-teman kita, mungkin sekitar 70%-an, diterima menjadi PNS.

Selama kurun 22 tahun ini, terjadi banyak perubahan kebijakan pemerintah terhadap program BK di sekolah, yang paling fenomenal adalah adanya pengakuan pemerintah terhadap keberadaan BK di sekolah seperti tertuang dalam UU Sisdiknas yang mewajibkan pelaksanaan program BK dan pengangkatan guru BK di sekolah-sekolah.
Namun sayangnya, momentum ini tidak dimanfaatkan para konselor untuk unjuk kerja secara profesional. Pengakuan legalitas terhadap profesi konselor di sekolah nyata-nyata tidak membawa dampak positif terhadap perkembangan layanan BK di sekolah. Citra BK masih terus terpuruk. Entah sampai kapan.

Di sisi lain, tantangan kehidupan yang dihadapi individu di masa kini jauh lebih sulit dari generasi sebelumnya.Kemajuan teknologi menciptakan banyak kemudahan yang tidak penah dinikmati generasi sebelumnya, namun sekaligus menciptakan persoalan baru yang lebih kompleks; pornografi, seks bebas, kehamilan remaja, narkoba, HIVAids. Karena itu tantangan tugas yang dihadapi konselor lebih sulit.

Dalam kondisi semacam itu, prodi BK UNS muncul kembali. Entah apa pertimbangannya? Untuk menjawab kebutuhan tenaga konselor yang profesional, sekaligus mencoba menghapus citra negatif konselor yang terlanjur tertanam kuat? Atau sekedar mengisi kekurangan tenaga konselor? Saya dan semua alumni pasti berharap pertimbangan pertama yang lebih mengedepan.

Dengan visi, misi dan out put kompetensi yang akan dihasilkan, sebagaimana termuat dalam brosur, kita boleh berharap kelak alumni generasi baru BK UNS lebih berbobot dan kompeten sebagai konselor lebih dari generasi sebelumnya. Sebab kalau tidak, program BK di sekolah makin tidak berperan penting dalam perkembangan siswa.

Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan kesiapan yang matang dalam menggembleng para calon konselor. Di sini paling tidak ada tiga komponen yang perlu mendapat perhatikan. Yaitu aspek kurikulum dan perangkatnya, aspek tenga pengajar/dosen, dan aspek mahasiswanya sendiri.

Kurikulum harus menjadi perhatian utama. Kurikulum harus didesain menjawab kebutuhan dan tantangan yang dihadapi konselor di masa datang. Konselor harus memiliki keterampilan dan pengetahuan yang luas.
Dulu ada mata kuliah minor yg memaksa kita mengorbankan – kalau tak salah mencapai lebih 20 sks – untuk mengambil mata kuliah prodi lain. Menurut saya, bagi prodi BK khususnya, adanya mata kuliah minor sangat merugikan, karena mengurangi kesempatan mempelajari mata kuliah keahlian cukup signfikan. Jadi sebaiknya dihapus saja, dan dialokasikan sepenuhnya untuk pembentukan kompetensi konselor yang profesional.

Mata kuliah hendaknya bisa merangkum kebutuhan kompetensi konselor yang profesional. Mata kuliah yang bersifat tumpang-tindih, hendaknya dipadatkan dalam dalam mata kuliah tertentu.
Mata kuliah tertentu harus mendapat porsi yang lebih mendalam, seperti : Tehnik konseling. Tehnik-tehnik dasar konseling wajib dikuasai bukan hanya secara teoritis, tapi terutama dalam prakteknya. Bagaimana melakukan rapport, memberikan tanggapan positif, melakukan lead, konfrontasi, memberikan respon emosional terhadap pernyataan klien, dst. Hal ini antara lain dengan banyak melakukan simulasi konseling di depan kelas. Paling tidak harus ada satu mata kuliah konseling yang khusus mempraktikan keterampilan konseling.
Saya yakin ada hubungan yang signifikan antara penguasaan praktek konseling yang benar dengan sikap konselor di sekolah. Bahwa konselor yang dijauhi siswanya pastilah konselor yang tidak mampu mempraktikan konseling yang benar.

Mata kuliah lain yg harus mendapat tekanan lebih adalah Psikodiagnostik. Harus diakui, generasi kita dulu relatif kurang pendalaman di bidang ini. Pengetahuan yg diperoleh sebatas pengantar. Sedikit teori, apalagi pengalaman praktek. Kemampuan dasar diagnostik sangat penting dalam memahami siswa. Seorang konselor idealnya memahami bebagai jenis tes psikologis, mampu membaca dan menganalisa hasil tes, sehingga hasil tes psikologis yang diberikan pada siswa dapat dimanfaatkan sebaik mungkin.
Tehnik-tehnik pemahaman individu non-tes seharusnya menjadi kekuatan seorang konselor, karena manfaatnya sangat nyata dan mudah dilakukan. Seperti Sosiometri yg sangat bermanfat dalam bimbingan kelompok. Begitu juga Q-sort, sentence completion test, drawing completion test, dsb.

Segi dosen. Dosen tidak lagi terpaku pada proses belajar mengajar di depan kelas. Metode konvensional tatap muka waktunya terbatas, tidak memungkinkan merangkum semua materi di kelas. Sekarang ada internet, dan itu harus dimanfaatkan. Dosen bisa memanfatkan blog sebagai media pengajaran dan pembelajaran. Beberapa dosen BK sudah merintisnya. Seperti Ahmad Sudradjat
Dosen Universitas Kuningan ini yang bukan pakar informatika, berhasil membuat blognya sangat popular, bukan saja di kalangan mahasiswanya, tapi juga banyak diakses netter umum. Blognya pernah mencapai 1000 kunjungan (hit) dalam sehari dan sempat menempati 10 besar blog terlaris.
Melalui blog, para dosen bisa menambah dan mengupdate materi kuliah, mempublikasikan tulisan dan karya tulis yang baru maupun yg pernah dipublikasikan sebelumnya di media massa atau dalam bentuk diktat. Dosen juga bisa memberikan tugas-tugas melalui blog dan memaksa mahasiswa terbiasa dan terlatih browsing internet untuk menyelesaikan tugas-tugas yg diberikan. Selanjutnya tugas-tugas tsb wajib dikumpulkan dg mengirimkan via email. Jadi mahasiswa BK pun akhirnya melek internet dan tidak gaptek.

Saya setuju mas Rissa, bahwa dosen BK UNS minimal S2. Ditambah beberapa dosen S3 dengan konsentrasi bidang tertentu, terutama tehnik konseling dan psikodiagnostik. Katanya konseling itu jantungnya Bimbingan, makanya prodi BK harus kuat dalam tehnik konseling. Dulu kita punya almarhum Pak Pieter B. Mboeik yg menguasai teori dan praktek konseling. Siapa penerusnya?

Segi mahasiswa. Selain kuliah, mahasiswa harus aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Sudah terbukti, Angkatan 82 yg termasuk paling giat berkiprah dalam kegiatan baik akademis maupun nonakademis, sekarang banyak yang sukses dalam karirnya. Ini pasti tidak lepas dari pengaruh pengalaman semasa berorganisasi di kampus. Pengalaman dengan KMB (Keluarga Mahasiswa BK) membuat Angkatan 82 terlatih dalam berorganisasi dan kepemimpinan. Kiprah dan kepeloporan Angkatan 82 misalnya :
* Ikut lomba Getek Dies Natalis UNS 1983 (walau tidak menang)
* Ikut lomba Paduan Suara Antar Fakultas dalam Dies Natalis 1984, juara 3.
* Seminar Ilmiah (semester III?) di Aula FKIP Pabelan, dg pembicara Pak Pieter, dan Pak Sasbani.
* Memprakarsai studi tour ke IKIP Bandung dg modal sendiri.
* Mendirikan organisasi kemahasiswaan nonformal KMB, semula dicibir lalu dicintai.
* Dua kali berhasil menuntaskan kepengurusan KMB, dg sidang-sidang yg melelahkan sampai larut malam sebagai ajang pelatihan kepemimpinan dan organisasi yg efektif.
* Menerbitkan Buletin KMB. Walaupun sederhana, yg penting, manfaatnya bung.
* Studi tour ke BK UKSW Salatiga.
* Studi tour ke BK IKIP Surabaya dan BK IKIP Udaya Bali.
* Mengadakan Orientasi BK untuk siswa SMA Surakarta, sekaligus menyelenggarakan tes psikologis gratis, harap dicatat, dengan modal swadaya, walaupun kegiatan tersebut termasuk dalam kalender resmi kegiatan dies natalis UNS.
* Satu-satunya prodi di FKIP yang mempunyai grup band, namanya ECLECTIC BAND dengan duo vokalis, Rissa dan Hariyanto. Beberapa kali pernah manggung di kampus, dan yg utama dalam Pentas Seni pengakraban mahasiswa baru BK karena satu-satunya prodi UNS yg menggunakan auditorium sebagai tempat menggelar pentas seni.
* Menggelar seminar profesionalisme BK, antara lain dg pembicara Kepala RSJ Surakarta.
* Itu sebagian yang teringat. Pokoknya, tiada semester tanpa kegiatan. 

Ditempa berbagai pengalaman dikampus, tak heran prestasi alumni BK 82 di lapangan, cukup moncer.
Buktinya, beberapa diantaranya berhasil menjadi kepala sekolah (3?), setidaknya 3 orang lanjut ke S2 dan satu lagi akan segera menyusul, 2 orang menjadi Pengawas Sekolah, dan satu-satunya alumni BK UNS yang berhasil melakukan Reuni khusus satu angkatan. Pasti banyak prestasi individual lain yang tidak diketahui.
Sangat disarankan angkatan baru ini menghidupkan kembali KMB, sekiranya organisasi kemahasiswaan terendah masih di Himsan. Belajarlah dari KMB! Belajarlah dari mas Rissa, mas Sendi, mas Darobi, dan lainnya.

Berikut beberapa tanggapan atas pembukaan kembali Prodi BK UNS:

Pujo Irianto Langgeng :
Baguslah. Kenyataan di lapangan masih banyak sekolah yang belum punya guru BK yg berlatar belakang BK. Sayangkan kalau dosen2 BK gak dimanfaatkan potensinya.

Muji: kalau melihat visi, misi, tujuan serta kompetensi lulusan ok banget. Saya bayangkan pada th 82 apa juga spt itu visi tujuan dan kompetensi yg diharapkan….Kalau sekarang BK UNS buka program lagi aku sangat setuju apabila benar-benar mencetak konselor yg professional shg keterampilan2 konselor akan lebih menyasar, shg kalau sudah terjun akan benar-benar siap pakai shg saya akan bias ngangsu kawruh pada alumni BK masa kini…bravo BK UNS/
RISSA JADI PENGAWAS SEKOLAH

RISSA JADI PENGAWAS SEKOLAH

Beberapa waktu lalu Rissa pernah mengungkapkan dalam Buku Tamu tentang kebimbangannya dalam membuat keputusan: apakah menerima tawaran menjadi Pengawas Sekolah atau tetap bertahan sebagai Kepala Sekolah SMA PGRI Kajen-Pekalongan?
Tapi kini palu keputusan telah diketuk, dan hasilnya adalah pilihan pertama.

Ada dua pertimbangan rasional dalam pengambilan keputusan itu. Pertama, Kebutuhan Pemkab Pekalongan akan pengawas sekolah yang memenuhi syarat sesuai Permendiknas No. 12, yaitu S2 Kependidikan dan usia di bawah 50 tahun. Dari 90 kepala sekolah, satu-satunya kandidat yang memenuhi ketentuan tersebut adalah Kepala Sekolah PGRI Pekalongan, Rissa Sumarstyanto. Sebagai calon tunggal tentu sulit bagi mas Rissa untuk menolak. Lagi pula terasa aneh dan sulit dimengerti bagi banyak orang, kalau di jaman sekarang kalau ada orang menolak naik jabatan. Wong jadi kepala dusun di tempat saya saja jadi rebutan.

Kedua, mas Rissa sendiri merasa sudah terlalu lama (dan mungkin sudah capek ya?) menjadi Kepala Sekolah SMA PGRI, yakni 16 tahun. Masa kerja 16 tahun tersebut memegang rekor terlama, dan sempat mengalami 4 kali pergantian Kepala Dinas Pendidikan setempat. “Rasanya kok malu kalau terus bertahan”, tulisnya dalam SMS.

Okey deh, selama bertugas di tempat baru. Terus berkarya dan berjuang untuk dunia pendidikan. Tambah punya waktu untuk Ikabela dong? Harus! (Tono S)
Ikabelaku Sayang, Ikabelaku Malang

Ikabelaku Sayang, Ikabelaku Malang

Menurut hasil polling, 69% pengunjung blog ini menilai penampilan Ikabela jelek dan hanya 31% menilai menarik. Mengomentari hasil polling, mas Rissa bilang hasil polling tersebut jujur.Artinya mencerminkan keadaan sebenarnya. Komentar mas Sendi, Ikabela perlu penyegaran supaya lebih menarik. Komentar berbeda dari mbak Muji. Katanya, "Kalau aku Ok (Ikabela) tapi mungkin karena baru awal-awal, jadi ya belum (berkenan) di hati. Buatku Ikabela bikin penasaran. Ya karena kepentingannya beda-beda kali ya..."

Buat saya, hasil poling menunjukkan bahwa penampilan Ikabela, termasuk apa yang disajikan, belum memuaskan pengunjungnya. Dan ini positif.Berarti Ikabela dituntut lebih menarik. Ini tantangan buat teman-teman semua. Karena blog ini milik bersama, walaupun belum semua merasa memilikinya. Atau mungkin belum menyadarinya. Mungkin perlu lebih banyak waktu lagi untuk menuju Ikabelamania diantara teman-teman. Perlu kegigihan merayu, membujuk dan mungkin memaksa teman-teman membuka internet dan menengok blog ini.

Saya percaya banyak teman-teman yang sudah tahu keberadaan blog ini tapi mempunyai hambatan untuk aktif terlibat. Mas Joko misalnya mengakui, "Sampai sekarang akubelum membuka Ikabela, karena di rumah belum ada sambungan internet, mau ke warnet masih malu dan malas. Doakan supaya bisa punya internet ya." Begitu balasannya ketika saya tanya via sms. Mas Sunarin juga mengaku tidak punya fasilitas untuk berinternet. Keduanya mungkin bisa mewakili kesulitan teman-teman lainnya untuk membuka blog ini.
Ada juga mbak Ninik di Cirebon yang pernah mencoba masuk ke blog ini tapi gagal menuliskan pesan. Tulisnya dalam sms kepada mbak Muji, yang lantas diteruskan ke saya, "Aku buka web lewat HP, sing ono gur Tono dan Sendi. Aku pengen comment gak ono kolom submit or comment and etc" Maklum dia surfing melalui HP, yg tentu saja terbatas aksesnya. Makanya lain kali buka internet lewat PC atau laptop mbak.

Tapi ada juga sih teman kita yang memang betul-betul gak tertarik dengan internet, walaupun dia memiliki fasilitasnya. Katanya, "Punya internet malas buka, capek! Malas berteman di dunia maya, tidak pernah ketemu. Di sini teman banyak, nyata, bisa simbiosis mutualisma" Siapa dia? Nggak usah la yauw, nanti marah orangnya. Saya sih gak merah telinga baca smsnya.
Dari awal saya tidak berpretensi semua teman-teman bisa aktif di blog ini. Sepuluh orang saja aktif sudah bagus.Dalam arti 10 orang ini posting 1 tulisan tiap bulan. Jadi rata-rata 3 hari sekali ada postingan baru.
Ternyata mendapat 10 peminat aktif susah juga, paling tidak sampai hari ini. Yang pernah buka Ikabela, rata-rata bilang sibuk, sibuk, sibuk kalau ditanya kapan mau posting?
Gawat kalau semua sibuk dan tidak menyempatkan diri. Blog ini ya cuma jalan di tempat dong. Saya sendiri selalu menyempatkan diri menulis sesuatu. Tidak harus seketika jadi saat itu. Sempat 2 paragraf, oke, simpan dulu. Lain waktu sambung lagi.

Setelah sempat vakum sebulan karena puasa, saya berharap blog ini, yang mulai mendapat tempat di hati teman-teman, kembali dikunjungi dan ramai dengan postingan. Tapi harapan tidak berjawab. Ikabela kembali stagnan. Entah kenapa, salah satunya sebabnya, teman-teman pasti sibuk dengan sertifikasi guru. Belum lagi nanti bakal repot dengan penambahan mata pelajaran Unas. Ini akan menjadi alasan untuk tidak ada waktu buat Ikabela.
Padahal dengan adanya kegiatan-kegiatan itu, seharusnya bisa menjadi inspirasi teman-teman untuk menuliskannya. Saya yakin banyak pengalaman-pengalaman yang bisa dibagi.
Memang harus ada kemauan dari diri sendiri. Dan berusaha melaksanakannya. Kalau tidak dicoba, niat tinggal niat. Tidak pernah ada wujudnya. Teman-teman pasti tau itu.
Nostalgia Puasa

Nostalgia Puasa

Puasa telah tiba. Ingatan saya membayang kembali kilasan 20 tahunan lalu, semasa jadi anak kos di Solo. Saya masih ingat, melewati puasa hari-hari pertama adalah saat-saat yang sulit bagi teman-teman. Sepanjang hidup saya, pernah sekali saya ikut merasakan puasa, meski cuma sehari saja, pada hari pertama. Itu pun sebenarnya tanpa sengaja.

Kapan kejadiannya sudah lupa, pastinya waktu kost di Gg Rewell, Kentingan. Saya ikut bangun atau terbangun oleh suara teman-teman yang sedang bersiap makan sahur. Entah kenapa saya jadi ikut-ikutan makan sahur. Maka dengan berombongan sekitar 6-7 orang, kami makan sahur di warungnya Lani (sebetulnya ibunya Lani, si Lani itu khan anaknya yang jadi favorit teman-teman, terutama siapa hayo?)

Usai makan sahur dan sholat, acara tidur berlanjut. Umumnya awal puasa banyak warung tidak buka, maka besuknya, saat makan siang tiba, saya kesulitan cari makan di sekitar kos. Mau keluar lebih jauh kok malas, teman-teman yang kebetulan tidak ada kuliah pada meringkuk di kasur, tidur sambil megang perut yang lapar, kos jadi senyap. Saya pun ikut terbius menahan lapar. Semakin sore makin lapar. Tapi mau makan juga merasa eman, terlanjur tidak makan dari pagi, tinggal beberapa jam lagi buka puasa. Dikuat-kuatan, eh kuat juga ternyata. Hari itu pertama kali dalam hidup saya, makan sahur bersama teman-teman, ikut berpuasa dan berbuka bersama. Alhamdullilah.

Soal puasa, percaya deh teman-teman memang kuat menjalaninya. Tapi yang sulit bangun untuk sahur. Maklum teman-teman dulu hobi tidur di atas jam 12 malam. Memang ada jam beker. Ini pun belum 100% efektif membangunkan, maklum, suka diolor waktunya. Sudah dengar bunyi beker, terus saja tidur. Nanti juga ada yang membangunkan kalau waktunya sudah mepet. Ya, teman-teman masih punya “jam beker” kedua, namanya Mas Budi. Dialah wakil empunya rumah kos kami, yang tinggal di kamar depan. Mas Budi ini memang disiplin waktu, selalu on time. Termasuk soal waktu sahur. Selalu bangun paling awal dibanding yang lain. Boleh dikata teman-teman lebih tergantung pada Mas Budi daripada pada beker.

Ndilalah, satu saat, orang yang diandalkan itu kelelapan tidurnya. Namanya juga manusia. Hebohlah jadinya saat sahur sudah mepet, baru terbangun dengan geragapan. Makanpun dilakukan dengan secepat kilat. Habis itu, ya tidur lagi. Ini belum seberapa. Yang parah kalau Mas Budi sedang pulang kampung, teman-teman benar-benar kehilangan pegangan soal waktu. Beberapa kali terjadi, tidurnya kebablasan. Begitu tahu sudah pagi, langsung deh lemes. Satu kos tidak sahur! Kalau sudah begitu lemesnya terbawa terus, sepanjang hari mengurung diri di kasur!

Suasana siang hari di tempat kos memang sepi. Kalau tidak ditinggal penghuninya kuliah, ya dibuat acara bobok di kamar masing-masing. Apalagi puasa, malasnya bertambah. Jangankan bergerak, bersuara saja diirit. Suatu ketika, di tengah keheningan siang, terdengar denting sendok beradu dengan gelas. Seseorang tengah mengaduk sesuatu. Penasaran dengan apa yang tengah terjadi, seorang teman memaksakan diri menyelidiki kamar sumber bebunyian tadi. Ternyata si Hari anak Fisip sedang membuat minuman. Hayo, ketahuan tidak puasa! Dengan tenang si Hari menjawab, aku puasa makan, tapi tidak puasa minum. Hwalah!

Orang puasa umumnya mengurangi jumlah makan, biasanya 3kali sehari, jadi 2 kali sehari. Tapi teman-teman Gang Rewell, lain. Makannya tetap 3kali sehari, Cuma waktunya bergeser. Makan siangnya absen karena puasa, tapi makan malamnya jadi dua sesi. Sesi pertama waktu Buka. Sesi kedua biasanya dimulai antara pukul 9-12 malam. Kalau jam 9 berarti sekedar jajan ringan, sambil minum kopi. Tapi kalau acaranya jam 12 malam, makan kenyang. Kalau begini, makan sahurnya bisa terlewati. Bablas sampai Buka lagi. Model puasa tanpa sahur ini biasanya kalau sudah menginjak pertengahan puasa, saat siang hari perut sudah terbiasa kosong.

Puasa tanpa Shalat Tarawih, tidak afdol namanya. Untuk yang satu ini teman-teman tidak pernah melewatkan. Tidak perlu keluar rumah, cukup dilakukan di tempat kos. Siapa Imamnya? Ya, gantian, tapi yang paling rutin ya mas Rissa. Mantan ketua BPM FKIP-UNS ini kayaknya yang paling diandalkan oleh teman-teman. Saya tidak tahu apakah tempat kos lain juga melakukan tradisi Shalat Tarawih bersama, padahal menurut saya, sangat bermanfaat. Selain menumbuhkan keimanan, juga mempererat rasa kebersamaan.
Bukan begitu mas Rissa?

Selamat berpuasa sambil bernostalgia! (Tono Soegijanto)
Pengunjung Blog

Pengunjung Blog

Sejauhmana apresiasi teman-teman terhadap blog ini? Kalau parameternya keaktifan teman-teman mengisi blog, nilainya jauh dari harapan. Sangat kurang memang. Tercatat baru mas Sendi yang posting, dua kali.Mereka yang masuk daftar kontributor, yang mempunyai akses langsung untuk mengisi blog dan diharapkan dapat menghidupkan blog, belum ada aksinya. Ketika disentil lewat sms, kontributor kok tidak ada kontribusinya, jawabannya 2 macam. Pertama, bingung apa yang mau ditulis. Kedua, belum sempat. Maklum deh, PNS banyak kerjaannya. Jadi, mana sempat?
Dalam beberapa kesempatan, tidak kurang-kurangnya saya memancing teman-teman yang nomer hapenya saya ketahui, dengan sms berisi info yang bisa membuat mereka penasaran dan tertarik membuka www.ikabela.blogspot.com. Tahu hasilnya apa? Nyaris tanpa respon. Hanya dua orang yang sms balik, dengan isi singkat: ya, terima kasih.
Sendi pernah sms, katanya teman-teman tidak ada yang nulis di ikabela, barangkali karena tidak punya komputer. Saya kurang sependapat, karena berselancar di intenet tidak harus memiliki komputer sendiri. Saya justru kuatir, sejatinya teman-teman kita tidak menganggap ikabela sebagai suatu yang penting, sehingga tidak merasa perlu usaha untuk mengetahuinya. Emang gue pikirin ikabela? Gitu aja kok repot!
Apa iya sih? Bagaimana dengan kendala biaya internet yang dianggap mahal, seperti saya singgung dalam tulisan terdahulu (masih ingat?). Menurut mbak Muji sih, "Nek biaya tak kira gak masalah. Cuma mungkin masih banyak yang gak lancar berinternetria, kayak aku he...he...," tulisnya dalam sebuah sms.
Kalau pangkalnya memang semata soal tehnis seperti pernah saya singgung di dalam “Jauh Panggang Dari Api”, yaitu kekuranganpahaman teman-teman soal internet, saran saya sih jangan malu untuk belajar. Saya pun belajar dari nol soal internet dan komputer.
Terus-terang saya kecewa dan putus asa dengan ketiadaan respon teman-teman soal blog ini. Berbagai upaya telah dicoba untuk membuat blog ini menarik dan menghidupkan isinya. Saya sempat berpikir negatif, kalau terus begini, ya bubarkan saja Ikabela. Gak usah blog-blogan! Untung, saya tidak mutung beneran, baru setengah mutung. Cadangan kesabaran saya cukup banyak sih.
Tapi, tunggu dulu! Ada yang membuat saya heran sekaligus senang. Belakangan ini, diam-diam ada peningkatan pengunjung blog ini, lho! Apa iya, tahu dari mana? Gampang toh, tentu saja dari angka Sitemeter di samping kanan atas, yang otomatis bertambah setiap kali ada tamu yang masuk ke blog ini. Menurut data pada Sitemeter, pada tanggal 6 Agustus 2007, jumlah pengunjung blog mencapai 128. Berarti sejak beroperasinya alat penghitung otomatis ini per 14 April lalu, setidaknya setiap harinya rata-rata ada1 orang pengungjung blog ini. Dengan lama kunjungan rata-rata 8 menit 34 detik.
Padahal per 14 Agustus lalu, saat saya membuka blog ini, angka Sitemeter mencapai 152. Dalam 8 hari terdapat 24 pengunjung. Alhamdullilah, kian hari blog ini kian banyak peminatnya.
Siapa gerangan tamu-tamu itu? Tentu saja tidak diketahui secara pasti. Bisa siapa saja. Yang rutin ya saya, malahan sebetulnya, sepertiga dari pengungjung blog yang tercatat di Sitemeter, itu tidak lain ya saya sendiri. Karena sekurangnya 2-3kali seminggu saya wajib membuka Ikabela82.
Tapi, saya percaya ada teman-teman kita yang mengakses blog ini. Masalahnya tidak semua tamu-tamu tadi meninggalkan jejak. Mungkin awalnya masih malu-malu dan tidak tahu harus berbuat apa, wait and see gitulah. Toh belakangan sudah malai take action. Mulai ada yang memberikan tanggapan terhadap tulisan yang dimuat. Dan seperti bisa dilihat, Shout Box mulai laris manis dan Buku Tamu pun sudah banjir komentar, dari awalnya cuma mbak Kawini dan mas Rodrigo (busyet, bule mana ya kok bisa kenal Ikabela? Heran juga saya) yang mengisi.
Mudah-mudahan ini pertanda baik. Kayaknya teman-teman yang sempat saya bombardir sms sudah mulai terketuk ulu hatinya untuk nengok blog tercinta ini.
Nah, buat teman-teman lain, ayo rame-rame ramein blog ini. Jangan alasan sibuk dijadikan kendala. Jangan cuma berjanji. Janjimu, hutangmu lho. Pasti tak tagih. Awas kalau nggak, sumpe lu! (Tono Soegijanto)
Mas Joko, Kepala Sekolah SMPN 17 Surakarta

Mas Joko, Kepala Sekolah SMPN 17 Surakarta

Di bulan yang bersejarah ini, satu lagi teman kita, Joko Slameto, diangkat menjadi kepala sekolah SMPN 17 Surakarta. Mas Joko mulai bertugas terhitung mulai tanggal 1 Januari 2007. Menurut catatan, keberhasilan Mas Joko ini adalah yang ke 5 dari daftar alumni Bimbingan Konseling UNS Angkatan 1982, yang terpilih menjadi kepala sekolah.

Mengenai tugas barunya, Mas Joko berjanji akan mengusahakan Bimbingan Konseling di sekolah yang dipimpinnya bisa berperan secara optimal seperti yang diharapkan. Kita tentu juga berharap, dengan makin banyaknya lulusan Bimbingan Konseling menjadi kepala sekolah, akan membawa perubahan positif dalam pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling di sekolah.

Oke, selamat bertugas Mas Joko. Mudah-mudahan anda sukses membawa angin perubahan di sekolah yang anda pimpin.
SIAPA MENYUSUL?
KADO UNTUK MUJIONO

KADO UNTUK MUJIONO

Tahun ini, agaknya, menjadi tahun yang istimewa bagi teman kita, Mujiono. Betapa tidak. Belum lama ini dia naik jabatan. Dari profesi konselor sekolah di SMPN 1 Cepu, Jateng, dia naik posisi menjadi pengawas sekolah. Sekarang dia berdinas di kantor diknas Blora (?).

Rabu malam, pukul 11.14, 20 Juni lalu, ha pe saya berdering. Tidak saya angkat, karena saat itu saya sudah tidur. Besoknya baru saya tahu ada call dari Mujiono. Setelah saya konfirmasi, saya mendapat kabar. Semalam dia menghubungi saya saat sedang menunggu kelahiran anaknya. Tentu bukan karena sedang gelisah karena ini bukan pengalaman yang pertama baginya. Mungkin sekedar berbagi kebahagiaan. SMSnya sih berbunyi: "kangen karo kowe ngiras tunggu bayi (lahir)".

Selamat, selamat, Mas Mujiono. Mudah-mudahan kelahiran si bungsu ini menjadi awal prestasi dan kesuksesan karir yang lebih baik. Semoga. Tapi ya masak sih, mau nambah lagi? Ini yang ke-4 lho, mas?

Mau tahu jenis kelamin si jabang bayi? Cewek ternyata. Cantik kayak mamanya, pasti. Gak mungkin lah kayak bapaknya. Ketika saya tanya, apakah sudah menyiapkan nama, dia malah minta dicarikan alternatif nama untuk putrinya, yang menarik dan bermakna. Aku kehabisan referensi, katanya.

Makanya, kalau teman-teman ingin memberikan hadiah terbaik buat Mujiono, tolong berilah kado nama yang bagus buat putri bungsunya. Ada yang punya usulan? (Tono Soegijanto)