Pengembangan Keterampilan Sosial Siswa Melalui Pemahaman Multikultural Dalam Bimbingan Konseling

ABSTRACT

The objective of this research was describing students’ social skill development through multicultural understanding in councelling. This research employed the descriptive qualitative one. The data were gained through observation, interview and documentation. The process of data analysis were; 1) data collection, 2) data reduction, 3) data display, and 4) data verification. While the results of the research were: 1) the learning process were in four variables, those were, teachers, students, learning process and product in the form of students’ competence. A teacher had to be able to manage those four variables so that teaching learning process could run well. The material management of students’ social skill learning included delivering and developing the material in teaching and learning, and 2) the interaction management of social skill learning was aimed to increase of students’ motivation and competence, which could be seen from evaluation result.

Pengembangan keterampilan sosial siswa.

PENDAHULUAN
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah realisasi tujuan akhir dari integrasi ekonomi yang dianut dalam Visi 2020, yang didasarkan pada konvergensi kepentingan negara-negara anggota ASEAN untuk memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi melalui inisiatif yang ada dan baru dengan batas waktu yang jelas. dalam mendirikan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ASEAN harus bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip terbuka, berorientasi ke luar, inklusif, dan berorientasi pasar ekonomi yang konsisten dengan aturan multilateral serta kepatuhan terhadap sistem untuk kepatuhan dan pelaksanaan komitmen ekonomi yang efektif berbasis aturan.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan membentuk ASEAN sebagai pasar dan basis produksi tunggal membuat ASEAN lebih dinamis dan kompetitif dengan mekanisme dan langkah-langkah untuk memperkuat pelaksanaan baru yang ada inisiatif ekonomi; mempercepat integrasi regional di sektor-sektor prioritas; memfasilitasi pergerakan bisnis, tenaga kerja terampil dan bakat; dan memperkuat kelembagaan mekanisme ASEAN. Sebagai langkah awal untuk mewujudkan Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Salah satu tujuan pendidikan menengah umum adalah untuk mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosial. Nilai-nilai sosial sangat penting bagi anak didik, karena berfungsi sebagai acuan bertingkah laku terhadap sesamanya, sehingga dapat diterima di masyarakat. Nilai-nilai itu antara lain, seperti kasih sayang, tanggung jawab, dan keserasian hidup.

Adapun keterampilan sosial mempunyai fungsi sebagai sarana untuk memperoleh hubungan yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain; contoh: melakukan penyelamatan lingkungan, membantu orang lain, kerja sama, mengambil keputusan, berkomunikasi, wirausaha, dan partisipasi.

Pengembangan nilai-nilai dan keterampilan sosial tersebut merupakan hal yang harus dicapai oleh pendidikan menengah umum. Hal itu karena anak didik merupakan makhluk sosial yang akan hidup di masyarakat (Raven dalam Achmad, 2005: 3).

Keterampilan sosial yang perlu dimiliki siswa, menurut John Jarolimek mencakup: (1) Living and working together; taking turns; respecting the rights of others; being socially sensitive (bekerjasama, toleransi, menghormati hak-hak orang lain, dan memiliki kepekaan sosial); (2) Learning self-control and self-direction (memiliki control diri); (3) Sharing ideas and experience with others (berbagi pendapat dan pengalaman dengan orang lain).

Terkait dengan perwujudan MEA,  keterampilan sosial siswa SMA sangat perlu dikembangkan, karena siswa SMA masih pada usia mencari jati diri dan pada saat itu adalah masa merindu-puja (masa membutuhkan teman), sehingga perlu bimbingan dengan ajaran yang memiliki landasan yang benar. Salah satu konsep pendidikan yang terkait dengan pengembangan keterampilan siswa adalah pemahaman siswa mengenai masyarakat multikultural.

Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih komunitas (kelompok) yang secara kultural dan ekonomi terpisah-pisah serta memiliki struktur kelembagaan yang berbeda-beda satu sama lain (Furnivall dalam Muin, 2006: 121). Dalam masyarakat multikultural, para anggota masyarakatnya menganut berbagai sistem nilai yang dianut oleh berbagai kesatuan sosial sehingga mereka kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai suatu keseluruhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan, atau bahkan kurang memiliki dasar-dasar untuk saling memahami satu sama lain (Nasikun dalam Muin, 2006: 122).

Pembelajaran tentang nilai – nilai tersebut masuk dalam kategori pendidikan budi pekerti. Pendidikan budi pekerti memiliki esensi yang sama dengan pendidikan moral dan akhlak. Tujuannya adalah membentuk peserta didik menjadi manusia yang baik, masyarakat dan warga Negara yang baik (Zakaria, 2000: 479).

Hal ini sesuai dengan bunyi pasal 3 Undang – Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Guru memegang peranan sentral dalam proses belajar mengajar. Guru mempersiapkan pengelolaan pembelajaran dengan baik meliputi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Hal ini dilakukan supaya tujuan pembelajaran dapat tercapai. Konsep pembelajaran yang baru secara otomatis juga mempengaruhi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan kegiatan pembelajaran, termasuk mata pelajaran Sosiologi yang telah berdiri sendiri sebagai mata pelajaran sejak tahun 1994.  
Proses pendidikan tentang pemahaman masyarakat multikultural sebagai keterampilan siswa menjadi tema penting untuk membentuk warga negara yang baik dan bermoral. Oleh karena itu, penelitian tentang pendidikan pemahaman tentang masyarakat multikultural sebagai keterampilan sosial siswa penting dilakukan untuk menjawab persoalan-persoalan diatas.

Guru BK memunyai tugas khusus dalam bimbingan dan konseling (menurut Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Nasional Nomor 25 Tahun 1993). Dengan kata lain, konselor sekolah memunyai peran dan tugas yang terkait dengan pendidikan karakter. Pada hakikatnya, peranan BK adalah mendampingi siswa dalam beberapa hal, antara lain dalam perkembangan belajar/akademis, mengenal diri sendiri dan peluang masa depan mereka, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, dan menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu, serta mengatasi masalah pribadi (kesulitan belajar, masalah hubungan dengan teman, atau masalah dengan keluarga).

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pengembangan keterampilan sosial siswa melalui pemahaman multikultural dalam bimbingan konseling.

METODOLOGI
Pendekatan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Inti dari etnografi adalah upaya memperhatikan makna tindakan dari kejadian yang menimpa orang yang ingin kita pahami. Beberapa makna ini terekpresi secara langsung dalam bahasa. Banyak yang diterima dan disampaikan secara tidak langsung melalui kata dan perbuatan (Spradley, 2006:3-5).

Penelitian jenis ini sangat mengharapkan peneliti untuk datang langsung ke tempat penelitian sebagai wujud dari keterlibatan peneliti dalam setiap tahap-tahap penelitian. Dengan demikian, dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti datang langsung ke tempat penelitian, yaitu SMAN Kerjo Kabupaten Karanganyar.

Nara sumber penelitian ini adalah kepala sekolah SMAN Kerjo, guru BK, dan siswa SMAN Kerjo. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode pengamatan berpartisipasi, wawancara mendalam dan analisis dokumen.

Kajian teori yang digunakan sebagai landasan dalam penelitian ini adalah Teori Multikultural. Banks (1993) dalam Mahfud (2009: 175) mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya, pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugrah tuhan / sunatullah). Pendidikan multikultural merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok.

Pendidikan multicultural memiliki dimensi yang berkaitan satu dengan yang lain, yaitu : (1) Content Integration, yaitu mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi dan teori dalam mata pelajaran. (2) The knowledge integration process, yaitu membawa siswa untuk memahami implikasi budaya dalam sebuah mata pelajaran (disiplin). (3) An equity pedagogy, yaitu menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam dari berbagai ras, budaya (culture), atau sosial. (4) Prejudice reduction, yaitu mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan mpengajaran yang tepat Banks dalam Mahfud, 2009: 177).

Pendidikan multikultural di Indonesia perlu memakai kombinasi yang ada yaitu mencakup tiga jenis transformasi yaitu: (1) transformasi diri; (2) transformasi sekolah dan proses belajar mengajar dan; (3) transformasi masyarakat (Mahfud, 2009: 200-201). Wacana pendidikan multikultural akan terus berkembang seperti bola salju (snow ball) yang semakin besar dan diperbincangkan. Wacana pendidikan multikultural akan dapat diberlakukan dalam dunia pendidikan di Indonesia terwujud dalam kurikulum, materi, dan metode.

Urgensi pendidikan multikultural di Indonesia adalah:

1. Pendidikan Multikultural Sebagai sarana Alternatif Pemecahan Konflik
Spektrum masyarakat Indonesia yang beragam menjadi tantangan bagi dunia pendidikan di Indonesia guna mengolah pendapat tersebut menjadi suatu aset, bukan sumber perpecahan. Pendiodikan multikultural memiliki dua tanggung jawab besar yaitu  menyiapkan bangsa Indonesia untuk siap menghadapi arus budaya luar di era globalisasi, dan ‘menyatukan’ bangsa sendiri yang terdiri berbagai macam budaya (Mahfud, 2009: 216).

2. Supaya Siswa Tidak Tercerabut dari Akar Budaya
Dalam era globalisasi ini, pertemuan antarbudaya menjadi ancaman serius bagi anak didik. Untuk mensikapi realitas global tersebut, siswa hendaknya diberi penyadaran akan pengetahuan yang beragam, sehingga mereka memiliki kompetensi yang luas akan pengetahuan global, termasuk aspek pengetahuan (Mahfud, 2009: 219).

3. Sebagai landasan Pengembangan Kurikulum Nasional
Dalam melakukan pengembangan kurikulum sebagai titik tolak dalam proses belajar mengajar, atau guna memberikan sejumlah materi dan isi pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa dengan ukuran atau tingkatan tertentu, pendidikan multicultural sebagai landasan pengembangan kurikulum menjadi sangat penting (Mahfud, 2009: 222).

4. Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural
Acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multicultural adalah multikultulturalisme, yaitu sebuah ideology yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan. Model multikulturalisme ini adalah sebenarnya telah digunakan sebagai acuan oleh para pendiri bangsa (founding fathers) Indonesia dalam mendesain apa yang dinamakan sebagai kebudayaan bangsa, sebagaimana terungkap dalam penjelasan pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi: “kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak kebudayaan di daerah” (Mahfud, 2009: 235-236).

Dengan memahami tentang masyarakat multikultural, maka siswa dapat mengembangkan keterampilan sosial yang dimiliknya yaitu bekerjasama, menghormati hak-hak orang lain dan saling toleransi.

Pemahaman multikultural di sekolah merupakan  tanggung jawab semua guru, termasuk guru BK. Oleh karena itu perang guruterutama guru BK sangat berperang penting dalam pelaksanaan pemahaman multikultural.

Pada dasarnya bimbingan merupakan upaya pembimbingan untuk membantu mengoptimalkan individu Berdasarkan pasal 27 peraturan pemerintah No 29/90, “ Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”.

Bimbinagn dalam rangka menemukan pribadi dimaksud agar peserta didik mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri serta menerimanya secara positif dan dinamis sebagai modal mengenal lingkungan dimaksudkan agar peserta didik mengenal secara objektif lingkungan baik lingkungan sosial dan lingkungan fisik dan menerima berbagai kondisi lingkungan itu secara positif dan dinamis.

Pengenalan lingkungan itu yang meliputi pengenalan lingkungan rumah, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan alam sekitar serta lingkungan yang lebih luas. Diharapkan menunjang proses penyusaiyan diri peserta didik dengan lingkungan yang dimaksud serta dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pengembangan diri secara mantap dan bekerlanjutan. Sedangkan bimbinga dalam rangka merencanakan masa depan dimaksud agar peserta didik mampu mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang masadepan dirinya, baik yang menyangkut bidang pendidikan, bidang karier maupun bidang budaya, keluarga dan kemasyarakatan.

Selain itu pakar bimbingan lain mengungkapkan bahwa : Bimbingan ialah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbingan kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat pertimbangan yang optimal dan penyusaian diri dengan lingkungannya (Surya 1988 : 12).

Konseling merupakan bagian dari bimbingan, baik sebagai layanan maupun sebagai teknik. “layanan konseling adalah jantung hati layanan bimbingan secara kesuluruhan jadi konseling merupakan inti dari alat yang paling penting dalam bimbingan”. Konseling merupakan suatu jenis layanan yang merupakan bagian terpadu dari bimbingan, konseling dapat diartikan sebagai hubungan timbal balik antara dua individu dimana yang seorang konselor berusaha membantu yang lain (yaitu klien) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungan dengan masalah-masalah yang dihadapinya pada waktu yang akan datang.

Layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan pengaruh yang besar kepada peserta didik (terutama orang tua) menerima dan memahami informasi yang dapat di pergunakan sebagai bahan pertimbangan keputusan sehari-hari sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. Layanan informasi menyangkut :
1. Tugas-tugas perkembangan masa remaja akhir tentang kemampuan dan perkembangan pribadi.
2. Usaha yang dapat dilakukan dalam mengenal bakat, minat, serta buntuk-buntuk penyaluran dan pengembangannya.
3. Tata tertib sekolah, cara bertingka laku, tata krama dan sopan santun.
4. Nilai-nilai sosial, adat istiadat, upaya yang berlaku dan berkembang di masyarakat.
5. Mata pelajaran dan perbandinganya seperti program inti, program khusus dan program tambahan.
6. Sistem penjurusan, kenaikan kelas, syarat-syarat mengikuti EBTA/EBTANAS
7. Fasilitas Penunjang/sumber belajar.
8. Cara mempersiapkan diri dan belajar disekolah.
9. Syarat-syarat memasuki swatu jabatan, kondisi jabatan karier serta prospek.
10. Memasuki perguruan tinggi yang selajalan dengan cita-cita karier.
11. pelaksanaan pelayanan bantuan untuk maslah pribadi sosial, belajar dan karier.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Bimbingan konseling adalah bentuk sebuah layanan yang diadakan di sekolah-sekolah. Bimbingan konseling sangat berperan aktif dalam perkembangan pendidikan di sekolah. Bimbingan konseling memberikan kontribusinya dalam beberapa pelayanan yang diberikan kepada siswa agar terwujud harapan yang diinginkan.

Dalam perjalannya, bimbingan konseling memberikan pelayanannya secara optimal, guna pencapaian visi dan misi yang hendak dicapai.

Layanan bimbingan konseling di SMAN Kerjo diberikan untuk menyelesaikan masalah-masalah atau problematika yang dihadapi siswa, selain itu bimbingan konseling juga di arahkan dalam perubahan perilaku siswa jangka lebih lanjut yaitu pembentukan keterampilan sosial  siswa. Keterampilan sosial siswa yang diinginkan suatu sekolah adalah karakter siswa yang baik karakter siswa yang mengarah ke perubahan positif bagi kemajuan dan perkembangan sekolah.

Bimbingan konseling hadir dalam ranah pendidikan diharapkan mampu berkontribusi dalam perubahan perilaku siswa ke arah yang lebih baik lagi. Bimbingan konseling berpengaruh dngan pembentukan karakter siswa, meskipun secara genetis karakter siswa merupakan unsur bawaan, akan tetapi faktor lingkungan, teman dan sebagainya sangat berpengaruh. Bimbingan konseling memberikan layanan-layanan yang sesuai dengan setiap permasalahan yang dihadapi siswa untuk mendapatkan penyelesaian dan pada akhirnya penyelesaian itu memberikan peluang kepada siswa untuk merubah tingkah lakunya terwujud dalam pembentukan karakter atau watak khas yang ada pada individu.

Bimbingan konseling memiliki fungsi perbaikan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpecahnya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami siswa. Hal ini juga sama dengan pembentukan karakter yang juga memiliki fungsi perbaikan yaitu membenahi karakter siswa yang pada akhirnya mewujudkan karakter yang baik dan berpotensi sebagai peserta didik yang bermartabat.

Upaya-upaya ini dilakukan untuk memperbaiki perilaku siswa yang menyimpang serta membentuk keterampilan sosial siswa SMAN Kerjo antara lain sebagai berikut:
1) Memberikan penyuluhan kelompok sebagai wujud tindakan preventif atau pencegahan pra siswa melakukan penyimpangan.
2) Planing atau tahap perencanaan yaitu berupa pendataan siswa-siswa bermasalah yang dicatat dalam DCM (daftar catatan masalah)
3) Eksekusi yaitu memanggil siswa–siswa yang bermasalah untuk diberikan layanan bimbingan termasuk bimbingan kuratif yaitu bimbingan pasca siswa mendapatkan permasalahan .
4) Mendatangkan orang tua jika memang itu diperlukan untuk ikut membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi.
5) Proses evaluasi dan tindak lanjut yaitu mengamati permasalahan itu, sampai mana penyelesaian nya atau studi kasus.
6) Konferensi kasus, jika permasalahan sudah terlalu parah dan berat.

Terkait upaya guru BK dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa melalui pemahaman multikultural dalam rangka menyongsong MEA, dalam merencanakan pembelajaran keterampilan sosial siswa melalui pemahaman multikultural di SMAN Kerjo pada pelajaran BK langkah yang ditempuh guru adalah dengan menyusun satuan layanan. Proses pembelajaran berada dalam empat variabel yaitu pendidik, peserta didik, proses pembelajaran, dan variabel produk berupa perkembangan peserta didik baik jangka pendek maupun jangka panjang. Guru harus dapat mengelola empat variabel tersebut agar proses belajar berjalan dengan lancar.

Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, maka keempat variabel pembelajaran tersebut harus dikelola dengan baik. Kesesuaian ini ditunjukkan pada saat tindak mengajar yang diwali dengan pengkondisian situasi belajar untuk mempersiapkan kondisi siswa, yang dilanjutkan dengan menginformasikan materi layanan, serta menggunakan alat dan media agar lebih mudah dalam manyampaikan materi yang diakhiri dengan evaluasi. Sementara itu, cara-cara berketerampilan sosial yang dapat dikembangkan kepada siswa adalah sebagai berikut:
a) Membuat rencana dengan orang lain;
b) Berpartisipasi aktif secara sosial dalam usaha meneliti sesuatu;
c) Berpartisipasi aktif secara produktif dalam diskusi kelompok;
d) Menjawab secara sopan pertanyaan orang lain;
e) Memimpin diskusi kelompok;
f) Bertindak secara bertanggung jawab; dan
g) Menolong orang lain.

Agar keterampilan sosial siswa dapat berkembang dengan baik dalam maka hal itu tergantung pada:
  1. Interaksi atau individu dalam suatu kelompok, yaitu bisa terlaksana apabila individu dalam kelompok telah dibekali dengan berbagai keterampilan sosial di mana salah satunya adalah : cara berbicara, cara mendengar, cara memberi pertolongan, dan lain sebagainya; serta
  2. Suasana dalam suatu kelompok, yaitu suasana kerja dalam kelompok itu hendaknya memberi kesan semua anggota, bahwa mereka dianggap setaraf (equal), khususnya dalam pengembangan keterampilan sosial.
Pelaksanaan bimbingan konseling juga memerlukan penggunaan alat dan media pembelajaran. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada siswa.

Dengan adanya alat dan media pembelajaran diharapkan dapat mendukung proses pelaksanaan bimbingan konseling di SMAN Kerjo. Strategi pelaksanaan pembelajaran juga telah disesuaikan dengan kurikulum, dimana metode yang digunakan ialah, ceramah, tanya jawab, demonstrasi, diskusi, dan pemberian tugas.

Media dan alat peraga yang digunakan juga mengacu pada kurikulum KTSP dan bertujuan untuk bimbingan konseling pada siswa. Media dan alat peraga juga digunakan untuk membantu pelaksanaan bimbingan konseling di SMAN Kerjo. Penggunaan media dan alat peraga ditujukan untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar karena  siswa lebih mudah memahami materi yang diberikan karena mendapatkan contoh yang lebih jelas.

Model penilaian yang dilakukan misal dari keaktifan, test, kekompakan, penguasaan meteri. Guru lebih mementingkan penilaian proses yaitu melalui pengamatan dan panilaian, karena kalau hanya mengandalkan hasil evaluasi akhir, hal tersebut tidak akurat.

Dalam penilaian mata pelajaran BK ada 2 (dua) aspek yaitu aspek penguasaan konsep dan aspek penerapan konsep. Penguasaan konsep dapat dilihat misalnya dengan hasil ulangan, dalam diskusi seperti kemampuan menyampaikan materi, mengemukakan pendapat, menjawab pertanyaan, menaggapi pendapat orang lain dan sebagainya. Sedangkan aspek penerapan seperti dari tugas-tugas, kegiatan menciptakan benda seni, kedisplinan, kerjasama antar teman dan lain-lain.

PENUTUP
Karakteristik materi pembelajaran keterampilan sosial siswa SMAN Kerjo meliputi pembelajaran pemahaman masyarakat multikultural dan budi pekerti. Kegiatan pembelajaran tersebut mendasarkan pada pengakuan adanya kesederajatan yang terjadi pada interaksi siswa dengan siswa, dan siswa dengan guru tanpa mengesampingkan norma kesopanan dan kesusilaan yang berlaku. Dalam kegiatan pembelajaran mengembangkan keterampilan sosial siswa, guru menggunakan unsur-unsur penting dalam kehidupan masyarakat secara nyata sebagai sumber belajar.

Tujuannya disamping agar siswa merasa dekat dan mengenal lingkungan kehidupan di sekitarnya, juga ada keterkaitan langsung antara bahan dan kegiatan belajar siswa dengan kenyataan kehidupan yang sebenarnya. Dalam kegiatan belajar dan mengajar keterampilan sosial siswa di SMAN Kerjo menggunakan buku pegangan serta buku pendamping, selain itu juga menggunakan media dan alat peraga yang ada di sekolah.

Karakteristik proses interaksi dalam  pembelajaran keterampilan sosial siswa di SMAN Kerjo terdiri dari tindak mengajar, tindak belajar dan strategi pelaksanaan. kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur.

Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan guru BK dalam mengembangkan keterampilan sosial siswa, yaitu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan 7 komponen pembelajaran kontekstual yang meliputi konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (Learning Comunity), pemodelan (modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment).

DAFTAR PUSTAKA
Mahfud, Choirul. 2006. Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Muin, Idianto. Sosiologi SMA / MA untuk Kelas XI. Jakarta: Penerbit Erlangga

Prayitno & Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan Konseling Jakarta: Ghalia Indonesia

Spradley, James. 2006. Metode Etnografi. Yogyakarta: PT Tiara Wacana


Penulis :
Dra.  Sri Muji Wahyuti, M.Pd., Kons, 
adalah alumni Program Studi Bimbingan dan Konseling, 
FKIP, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Artikel Terkait

Pengembangan Keterampilan Sosial Siswa Melalui Pemahaman Multikultural Dalam Bimbingan Konseling
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email