Kursus Buat Blog

Tiket Online

EFEKTIVITAS TEKNIK SELF MONITORING UNTUK MENINGKATKAN PERILAKU BELAJAR DI RUMAH

0 komentar
Oleh : Kukuh Jumi Adi*

Intisari. Hasil assesment yang peneliti lakukan, menunjukan bahwa lebih dari 95% siswa binaan peneliti di SMP 9 Jember tidak belajar secara rutin, belajar hanya kalau ada ulangan. Hanya kurang dari 5% yang menyatakan belajar secara rutin di rumah dengan kisaran waktu setengah sampai sampai satu jam tiap harinya. Informasi dari wali kelas dan keluhan dari guru-guru menunjukan hal yang senada. Mereka menjadi kebingungan untuk meningkatkan gairah belajar siswanya. Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang hendak dipecahkan dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah penggunaan teknik self monitoring dapat meningkatkan perilaku belajar secara rutin siswa di rumah?” Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui efektivitas penerapan teknik self monitoring untuk meningkatkan perilaku belajar secara rutin siswa di rumah. Hipotesis tindakan dirumuskan, “Jika diterapan teknik self monitoring, maka akan dapat meningkatkan perilaku mengerjakan tugas belajar secara rutin di rumah.” Subjek penelitian adalah siswa kelas VIIB SMP Negeri 9 Jember sejumlah 12 anak, terdiri atas 9 putra dan 3 putri. Alat ukur yang digunakan untuk meraih data kebiasaan belajar siswa di rumah adalah format self  monitoring. Hasil penelitian dengan menggunakan kriteria target yang telah ditetapkan yaitu 85% siswa yang dikenai tindakan,  belajar selama minimal 30 menit tiap hari dan 5 kali dalam satu pekan, didapatkan kesimpulan bahwa penerapan teknik self monitoring kurang efektif untuk meningkatkan perilaku belajar siswa secara rutin di rumah, namun penerapan self monitoring yang disertai pemberian self reinforcement efektif untuk meningkatkan perilaku belajar siswa secara rutin di rumah.


Pendahuluan
Proses dan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh banyak hal atau berbagai macam faktor, mulai faktor dari dalam dirinya sendiri sampai dengan luar dirinya, faktor hereditas, dan lingkungan, faktor psikologis, fisik, dan sosial. Walaupun banyak sekali faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, namun pada akhirnya yang menentukan keberhasilan dan kegagalan belajarnya adalah siswa itu sendiri sebagai pelakunya. Dalam sebuah upaya untuk dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya, siswa harus mengembangkan diri menjadi siswa yang baik, dalam arti dia harus mempunyai sikap yang positif terhadap tugas belajarnya, mata pelajaran yang dipelajarinya, dan yang kedua, siswa hendaknya mengembangkan kebiasaan belajar yang baik juga, yaitu belajar secara rutin tiap hari di rumah (Suryabrata, 1989).
Sebagaimana kegemaran membaca yang hanya dapat ditumbuhkan sedikit demi sedikit, kebiasaan belajar yang baik tidak dapat dibentuk dalam waktu yang singkat. Kebiasaan belajar yang baik, dilakukan rutin tiap hari tidak dapat dibentuk dalam waktu yang relatif singkat. Rutinitas, dan kebiasaan belajar yang baik juga perlu dipupuk, dikembangkan, dilatih sedikit demi sedikit. Menurut Suryabrata (1989), ada berbagai cara yang dapat ditempuh untuk mengembangkan kebiasaan belajar yang baik, yang pada intinya adalah dengan membuat rencana kegiatan belajar yang jelas, dan adanya “disiplin diri” yang kuat untuk menepati rencana yang telah disusun, melaksanakan apa yang telah direncanakan. Dalam hal ini cara seseorang siswa menggunakan waktunya untuk belajar merupakan hal yang mempunyai pengaruh langsung terhadap hasil belajarnya. Semakin banyak waktu yang digunakan untuk (mengulang) belajar di rumah, akan semakin baik hasil belajarnya. “Practice makes perfect,” supaya penguasaan bahan yang dipelajari menjadi lebih baik, diperlukan pengulangan, dan latihan yang terus menerus. Idealnya setiap siswa mau menyediakan waktu untuk mengulangi, mempelajari materi atau mata pelajaran yang telah diterangkan/dibahas bersama guru di sekolah, membaca kembali catatannya sambil memperbaiki dan melengkapi catatan tersebut bila diperlukan. Selain itu, siswa juga perlu belajar, dan menyiapkan diri terhadap materi yang akan dibahas esok hari di sekolah. Pada intinya belajar sedikit demi sedikit secara rutin tiap hari atau secara teratur akan lebih baik daripada belajar dalam tempo yang lama tetapi tidak teratur, atau tidak rutin. Oleh sebab itu siswa perlu dibiasakan belajar rutin tiap hari (Subro, 1987).
Namun kenyataan di lapangan, jarang dijumpai siswa yang dapat dan mau menyusun rencana belajar, melaksanakan rencana tersebut. Meluangkan waktunya untuk belajar di rumah secara rutin. Bahkan seringkali pekerjaan rumah yang diberikan guru tidak dikerjakannya. Berbagai macam usaha yang dilakukan guru agar siswa mau belajar dan mengerjakan pekerjaan rumahnya, namun selalu mengalami kegagalan. Hasil pengumpulan data dengan menggunakan instrumentasi bimbingan dan konseling yang peneliti lakukan, menunjukan bahwa lebih dari 95% siswa binaan peneliti di SMP 9 Jember tidak belajar secara rutin, belajar hanya kalau ada ulangan. Hanya kurang dari 5% yang menyatakan belajar secara rutin di rumah dengan kisaran waktu setengah sampai sampai satu jam tiap harinya. Informasi dari wali kelas dan keluhan dari guru-guru menunjukan hal yang senada. Mereka menjadi kebingungan untuk meningkatkan gairah belajar siswanya. Berbagai cara telah digunakan namun motivasi siswa untuk belajar seolah tidak ada sama sekali. Keluhan dari orang tuapun hampir senada, bahkan mereka juga mengalami kesulitan untuk menyuruh anaknya belajar. Beberapa orang tua siswa yang datang ke sekolah baik atas inisiatif sendiri maupun atas undangan konselor menyatakan bahwa mereka tidak mampu “memaksa” anaknya untuk belajar di rumah.
Menurut Danusastro (1985), secara tradisional, ada banyak teknik modifikasi perilaku yang sering digunakan untuk memunculkan perilaku yang dikehendaki termasuk kegiatan belajar, yaitu antara lain pemberian penguatan positip (positive reinforcement), penghapusan waktu (time out), jawaban merugikan (response cost), pemberian bantuan (promting), penghapusan bantuan (fading), pemberian contoh (modeling). Hasil penelitian lebih dari satu abad menunjukan bahwa metode modifikasi perilaku tersebut sangat efektif dalam memperbaiki perilaku anak baik yang bersifat akademis maupun sosial (Kazdin, William, Anandam, dan Clarizio dalam Danusastro, 1986). Namun akhir-akhir ini modifikasi perilaku secara tradisional seperti di atas dianggap kurang memadai karena hanya melibatkan faktor eksternal siswa, tanpa melibatkan faktor internal siswa, sehingga perubahan tingkah laku hanya tergantung pada kehadiran orang dewasa (orang tua maupun guru). Pada penelitian ini penulis ingin melibatkan aktif siswa untuk mengubah perilaku belajarnya, karenanya penulis berusaha menumbuhkan, meningkatkan perilaku belajar siswa secara rutin di rumah dengan menggunakan teknik self monitoring (pemantauan diri).
Self monitoring ((pemantauan diri) adalah sebuah teknik dalam terapi tingkah laku yang tidak hanya merupakan salah satu cara pengumpulan data, tetapi dalam bidang psikologi digunakan sebagai teknik intervensi (Prawitasari, 1989). Sebenarnya pemantauan diri awalnya dari sederetan prosedur di dalam terapi perilaku yang akan diajarkan bagi subjek. Biasanya pemantauan diri ini akan diikuti oleh evaluasi diri dan pengukuhan atau penguatan diri (Prawitasari, 1989; Danusastro, 1985). Selain itu sesungguhnya pemantauan diri ini pada mulanya dimaksudkan untuk menentukan baseline,  akan tetapi sering pula didapatkan hasil melalui pemantauan diri ini perilaku yang ditargetkan berubah ke arah yang positip (Kanfer dalam Prawitasari, 1989). Meskipun pemantuan diri saja dianggap tidak cukup, namun dari berbagai penelitian didapatkan hasil bahwa pemantauan diri dapat dipakai sebagai agen perubahan perilaku (Bellack dan Hansen, 1977; Johnson dalam Prawitasari 1989; Rehmn Kaslow dan Rabice, 1987; Russell dalam Prawitasari, 1989, Prawitasari, 1989). Dalam bidang pendidikan teknik pemantauan diri oleh Thompson dalam Danusastro (1985), digunakan untuk intervensi perilaku terhadap siswa yang mempunyai kesulitan serius dalam ketetapan melaksanakan tugas. Juga James (dalam Danusastro, 1985), menggunakan teknik self monitoring (pemantauan diri) untuk menghilangkan perilaku bicara tanpa ijin di dalam kelas. Penelitian Hector dalam Danusastro (1985), menunjukan bahwa teknik self monitoring berpengaruh terhadap tingkah laku yang dimonitor.
Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang hendak dipecahkan dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah penggunaan teknik self monitoring dapat meningkatkan perilaku belajar secara rutin siswa di rumah?” Sedangkan tujuan dari penelitian tindakan ini adalah “Ingin mengetahui efektivitas penerapan teknik self monitoring untuk meningkatkan perilaku belajar secara rutin siswa di rumah.” Dan hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat antara lain: Bagi konselor, dapat menjadikan informasi hasil dari penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk membiasakan siswa agar mau atau memiliki disiplin belajar secara rutin tiap hari. Bagi siswa, dapat menjadikan informasi dari penelitian ini sebagai masukan dan bahan pertimbangan teknik membiasakan belajar secara rutin di rumah. Berpijak dari rumusan masalah dan dasar teori, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian tindakan sebagai berikut “Jika diterapkan teknik self monitoring, maka akan dapat meningkatkan perilaku mengerjakan tugas belajar secara rutin di rumah.”
Metode Penelitian
Objek tindakan
Objek penelitian tindakan ini adalah peningkatan kebiasaan belajar siswa secara rutin di rumah dengan menggunakan teknik self monitoring
Subjek tindakan
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIB SMP Negeri 9 Jember yang menjadi kelas binaan peneliti. Jumlah siswa yang menjadi subjek penelitian tindakan sejumlah 12 siswa yang terdiri atas 9 pria dan 3 wanita. Pilihan subjek ini dengan dasar pertimbangan prestasi belajarnya tergolong paling rendah, mereka menjadi perhatian dan sumber keluhan dari guru-guru yang mengajar di kelas tersebut. Kondisi rumahnya masih memungkinkan siswa untuk dapat belajar dengan baik, memiliki buku sebagai bahan belajar, dan orang tua siswa siap bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memperbaiki cara belajar anaknya.
Metode pengumpulan data
Instrumen untuk mengukur kebiasaan belajar siswa di rumah adalah format self monitoring, dipakai untuk memantau kebiasaan belajar siswa di rumah selama tindakan berlangsung. Dalam format tersebut subjek menuliskan (mencontreng) penampilan belajarnya di rumah pada hari itu.
Metode analisis data
Dalam rangka mengetahui efektivitas penerapan teknik self monitoring sebagai upaya peningkatan perilaku kebiasaan belajar siswa secara rutin di rumah, data yang masuk dianalisis dengan menggunakan kriteria pencapaian target yang telah disepakati antara konselor dengan siswa. Adapun target yang ditetapkan adalah siswa dikatakan telah belajar di rumah dengan baik jika selama 5 hari dalam satu minggunya mereka belajar minimal selama 30 menit tiap kali belajar/ tiap harinya. Pelaksanaan tindakan dikatakan berhasil jika jumlah siswa yang belajarnya  30 menit tiap hari dan 5 hari dalam satu minggunya mencapai 85%.
Cara mengambil kesimpulan
Proses pengambilan kesimpulan dilakukan dengan cara membandingkan antara pencapaian perilaku kebiasaan belajar siswa di rumah dengan target yang telah ditetapkan. Jika pencapaian kebiasaan belajar siswa mencapai target yang telah ditetapkan, berarti penerapan teknik self monitoring efektif untuk meningkatkan perilaku kebiasaan belajar siswa di rumah. Dan sebaliknya.
Prosedur tindakan
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan, adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam melaksanakan tindakan adalah sebagai berikut: Pertama, menentukan perilaku yang ditargetkan. Dalam hal ini konselor bersama siswa menetapkan perilaku yang hendak dimunculkan, yaitu setiap hari di rumah siswa akan belajar.
Kedua, memilih sistem pengukuran. Dalam hal ini untuk mengukur perilaku belajar ditetapkan siswa dikatakan telah belajar jika dia di rumah telah belajar minimal selama 30 menit, dan tiap minggunya ditargetkan belajar sebanyak lima kali.
Ketiga, menetapkan interval pengukuran. Pengukuran dilaksanakan setiap hari, dan lima kali (hari) dalam satu minggu, serta dilaksanakan selama periode satu bulan.
Keempat, merencanakan bekerjanya sistem. Konselor membuat lembar pengukuran untuk pencatatan self monitoring, dimana setiap siswa selesai belajar memberi tanda chek (V) atau contremg pada lembar tersebut.
Kelima, pelaksanaan sistem. Pada tahap ini konselor mendorong siswa untuk berusaha belajar tiap hari minimal selama 30 menit, dan berusaha untuk belajar 5 kali dalam satu minggunya.
Hasil Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan menggunakan dua (2) siklus. Tahapan pelaksanaan setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, pemberian tugas, observasi, yang diikuti dengan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan pada siklus tersebut. Hasil-hasil penelitian pada masing-masing siklus setelah tindakan atau pemberian tindakan dapat diuraikan sebagai berikut:
Siklus 1
Hasil penelitian selama siklus 1 didapatkan data sebagaimana disajikan dalam tabel 1 berikut ini:
Tabel 1
Rangkuman rata-rata belajar siswa selama siklus 1
No.
MINGGU 1
MINGGU 2
MINGGU 3
MINGGU 4
1
1
1
2
2
2
2
2
3
5
3
3
4
5
5
4
2
4
4
5
5
4
4
4
4
6
1
1
2
2
7
1
1
0
1
8
3
5
4
4
9
2
3
3
4
10
3
4
4
5
11
4
4
5
5
12
5
5
5
5
Berdasarkan tabel 1 tersebut di atas terlihat bahwa pada minggu 1 hanya ada 1 siswa (8%) yang telah mencapai target belajar, yaitu belajar sebanyak 5 kali dalam satu minggunya. Dan yang lainnya belum mencapai target yang telah ditentukan. Ada 2 siswa (17%) yang belajarnya empat kali dalam satu minggu, dan ada 3 siswa (25%) yang belajarnya sebanyak tiga kali dalam satu minggu, serta ada 3 siswa (25%) yang belajarnya sebanyak dua kali dalam satu minggunya, dan yang terakhir ada 3 anak (25%) yang belajarnya hanya satu kali dalam minggu pertama.
Pada minggu kedua, dari 12 siswa yang melaksanakan self monitoring ada 2 siswa (17%) yang melaksanakan belajar sesuai dengan target yitu telah belajar lima kali dalam satu minggunya. Dan siswa yang belajar selama empat kali sebanyak 5 siswa atau sebesar 42% dari 12 siswa. Sedangkan yang belajarnya tiga kali sebanyak 1 siswa (8%). Berikutnya yang belajarnya dua kali sebanyak 1 siswa atau 8%, dan yang belajarnya  hanya satu kali sebanyak 3 siswa atau sebesar 25%.
Pada minggu ketiga, perilaku belajar siswa di rumah menunjukan hasil sebagai berikut: untuk siswa yang belajarnya lima kali naik menjadi 3 siswa atau 25%. Siswa yang belajarnya sebanayak empat kali sebanyak 4 siswa atau setara dengan 33%. Sedangkan yang belajarnya tiga kali sebanyak 2 siswa (17%). Serta yang belajarnya dua kali sebanyak 2 siswa juga atau 17%. Namun ada 1 siswa (8%) yang sama sekali tidak belajar pada minggu itu.
Kemudian pada minggu keempat, jumlah siswa yang belajarnya lima kali dalam satu minggu naik kembali menjadi 6 siswa atau 50%, dan yang belajarnya empat kali sebanyak 3 siswa (25%). Sedangkan yang belajarnya dua kali sebanyak 2 siswa (17%), dan yang belajarnya satu kali sebanyak 1 siswa juga atau 8%.
Berpijak dari hasil hitungan seperti diuraikan di atas, berikutnya untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai perbandingan perilaku belajar siswa tiap minggunya hasil-hasil perhitungan dari tabel 1 tersebut dimasukan dalam sebuah grafik seperti terlihat pada grafik 1 berikut ini:
Grafik 1. Perbandingan perkembangan perilaku belajar siswa siklus 1
Berdasarkan grafik 1 tersebut di atas terlihat bahwa selama siklus 1 jumlah siswa  yang belajarnya mencapai target yaitu setiap hari belajar minimal selama 30 menit dan dalam satu pekannya belajar sebanyak 5 kali selalu naik. Jika pada minggu pertama hanya ada 8%, maka pada minggu kedua naik menjadi 17%, berikutnya pada minggu ketiga naik kembali menjadi 25%, dan pada minggu keempat naik kembali menjadi 50%. Namun demikian pencapaian ini belum mencapai target tindakan yang sebesar 85%. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwasanya penerapan teknik self monitoring kurang efektif untuk meningkatkan perilaku belajar siswa di rumah. Di samping hasil tersebut, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu untuk siswa nomor 1, nomor 6, dan nomor 7  perkembangan belajarnya sangat rendah. Bahkan siswa nomor 7 hampir sama sekali tidak pernah belajar, bahkan pernah tidak belajar sama sekali.
Refleksi
Hasil analisis menunjukan bahwa teknik self monitoring selama siklus 1 kurang efektif untuk meningkatkan perilaku belajar siswa di rumah. Hasil hitung menunjukan jumlah siswa yang mencapai target belajar hanya sebesar 50% sampai akhir siklus 1, dan ini berarti kurang dari target tindakan yang ditetapkan sebesar 85%. Hal ini mungkin disebabkan banyak siswa yang masih kurang termotivasi untuk belajar dengan menggunakan teknik self monitoring. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Prawitasari (1989), yang menunjukan bahwa penggunaan teknik self monitoring tidak efektif untuk mengubah tingkah laku. Oleh karena itu Bellack dan Hansen (1977) dan Kanfer dalam Prawitasari (1989), menganjurkan teknik self monitoring ini untuk diikuti dengan intervensi lain jika ingin lebih efektif, antara lain dengan penggunaan self reinforcement  (Danusastro, 1985).
Hasil wawancara dengan siswa menunjukan hal tersebut, siswa kurang termotivasi belajarnya dengan tehnik self monitoring, akhirnya setelah wawancara disepakati untuk pelaksanaan siklus 2 kegiatan akan diikuti dengan pemberian self reinforcement, berupa pemberian tanda bintang perak dan bintang emas jika target mampu dicapai oleh siswa.
Siklus 2
Prosedur tindakan pada siklus 2, disamping melaksanakan lima langkah sebagaimana pada siklus 1, akan diikuti dengan pemberian penguatan jika target mampu dicapai oleh siswa. Jenis penguatan diri (self reinforcement) yang dipakai adalah pemberian bintang perak dan bintang emas. Atau dengan kata lain untuk memberikan penguatan pada dirinya sendiri digunakan pemberian stiker bintang perak dan bintang emas. Bintang perak diberikan kepada dirinya sendiri jika siswa telah belajar minimal 30 menit setiap harinya untuk ditempelkan pada lembar pemantauan diri. Setiap hari sabtu lembar self monitoring dikumpulkan untuk diganti dengan lembar yang baru. Selanjutnya konselor memberi penilaian pada lembar self monitoring  tersebut. Jika siswa dapat mengumpulkan 5 bintang perak, maka dia dapat memberi hadiah pada dirinya sendiri bintang emas yang dapat ditempelkan pada lembar self monitoring tersebut.
Setelah kegiatan selama siklus kedua, hasil penelitian tindakan selama siklus 2 didapatkan data rata-rata hasil belajar siswa di rumah seperti tujuan tindakan kelas yang peneliti lakukan sebagaimana disajikan dalam tabel 2 berikut ini:
Tabel 2
Rangkuman rata-rata belajar siswa selama siklus 2
No.
MINGGU 1
MINGGU 2
MINGGU 3
MINGGU 4
1
3
4
4
5
2
5
5
5
5
3
5
5
5
5
4
5
5
5
5
5
4
5
5
5
6
4
5
5
5
7
2
2
2
2
8
4
4
5
5
9
5
5
5
5
10
5
5
5
5
11
5
5
5
5
12
5
5
5
5
Berpijak pada tabel 2 tersebut di atas terlihat bahwa selama siklus 2 pada minggu pertama dari 12 siswa yang mencapai target belajar setiap hari minimal 30 menit dan lima kali belajar selama satu pekannya mencapai 7 siswa atau 59%. Sedangkan yang belajarnya sebanyak empat kali ada 3 siswa (25%), dan yang belajarnya tiga kali ada 1 siswa (8%), demikian juga yang belajarnya dua kali ada 1 siswa atau 8%.
Pada minggu kedua, siswa yang belajarnya lima kali dalam satu pekan ada 9 siswa atau 75%, selanjutnya yang belajarnya empat kali sebanyak 2 siswa atau 17%, serta yang belajarnya dua kali sebanyak 1 siswa atau sebesar 8%.
Pada minggu ketiga, siswa yang belajarnya lima kali sebanyak 10 siswa atau sebesar 84%, dan yang belajarnya empat kali sebanyak 1 siswa atau sebesar 8%, serta yang belajarnya satu kali dalam satu minggunya ada 1 siswa atau setara dengan 8%.
Berikutnya pada minggu keempat, jumlah siswa yang belajarnya sebanyak lima kali ada 11 siswa atau sebesar 92%, dan yang lainnya hanya ada 1 siswa yang belajarnya hanya dua kali dalam satu minggunya atau setara dengan 8%.
Menyimak hasil hitung seperti tersebut di atas, perbandingan dan kemajuan perilaku belajar siswa selama siklus 2 disajikan  pada grafik sebagaimana pada grafik 2 berikut ini:

Grafik 2. Perbandingan perkembangan perilaku belajar siswa siklus 2
Berdasarkan grafik 2 di atas terlihat bahwa selama siklus 2 jumlah siswa yang belajarnya mencapai target mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Pada minggu pertama jumlah siswa yang mencapai target belajar sebesar 59%, maka pada minggu kedua naik menjadi 75%, selanjutnya pada minggu ketiga naik lagi menjadi 84%, dan akhirnya pada minggu keempat naik kembali menjadi 92%. Hal ini berarti persentase hitung belajar siswa mencapai 92% lebih tinggi dari target yang ditetapkan sebesar 85%. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan penerapan teknik self monitoring yang disertai dengan pemberian self reinforcement efektif untuk meningkatkan perilaku belajar siswa di rumah.

Refleksi
Hasil analisis memperlihatkan bahwa teknik self monitoring yang disertai dengan pemberian self reinforcement selama siklus 2 efektif untuk meningkatkan perilaku belajar siswa di rumah. Hasil hitung menunjukan bahwa jumlah siswa yang mencapai target perilaku belajar di rumah mencapai 92%, dan ini berada di atas target tindakan yang ditetapkan sebesar 85%. Hasil-hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bellack dan Hansen (1977), dan Kanfer dalam Prawitasari (1989), yang menunjukan bahwa self monitoring dengan diikuti intervensi lain efektif untuk mengubah tingkah laku yang dimonitor. Juga pendapat Danusastro (1985), yang menyatakan bahwa teknik self monitoring yang diikuti dengan pemberian self reinforcement efektif untuk meningkatkan tingkah laku yang dimonitor.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan  analisis dan pembahasan seperti yang diuraikan di depan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan teknik self monitoring kurang efektif untuk meningkatkan perilaku belajar siswa di rumah. Namun penerapan self monitoring yang disertai dengan penggunaan self reinforcement efektif untuk meningkatkan perilaku belajar siswa di rumah.
Saran-saran
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa teknik self monitoring  yang disertai dengan penggunaan self reinforcement efektif untuk menghasilkan perilaku belajar siswa di rumah, oleh karena itu peneliti menyarankan kepada: pertama, guru mata pelajaran dan khususnya konselor di sekolah hendaknya memanfaatkan teknik self monitoring yang disertai dengan self reinforcement untuk meningkatkan perilaku belajar di rumah. Kedua, untuk siswa hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi teknik meningkatkan perilaku belajarnya atau membiasakan diri untuk belajar secara rutin di tumah. Ketiga, kepada penelitian lain yang berminat dalam bidang pendidikan, dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan masukan guna mengadakan penelitian (tindakan) lain yang sejenis lebih lanjut. Antara lain dengan menggunakan variabel  lain seperti mengerjakan PR, menyelesaikan tugas yang lain, maupun perilaku siswa dalam mengikuti pelajaran secara efektif di kelas, seperti mengerjakan tugas, memperhatikan guru, aktif dalam diskusi dan sebagainya.



DAFTAR PUSTAKA

Adi, Kukuh J., 2006. Efektivitas Penggunaan APTL untuk Mengurangi Tingkah Laku Mengacau di dalam Kelas. Edusaintek Jurnal Pendidikan, Sains dan Teknologi. Vol. 2. NO. 1. STKIP PGRI Situbondo
Bellack, A.S. dan Hansen, M., 1977. Behavior Modification: An Introductory Texbook. New York: Oxford University Press
Dahar, R.W., 1988. Teori-teori Belajar. Jakarta: Depdikbud P2LPTK
Danusastro, Suharjo., 1985. Seri Teknologi Pendidikan: Pengontrolan Diri Keperilakuan. Solo: Puslitbangjari Universitas Negeri Sebelas Maret
DePorter, Bobbi and Hernacki, Mike.,  2005. Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa
DePorter, B., Reardon, M., and Nourie, S.S., 2005. Quantum Teaching Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung: Kaifa
Glover, Derek and Law Sue., 2005. Memperbaiki Pembelajaran Praktek Profesional di Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia
Nasar. 2006. Merancang Pembelajaran Aktif dan Kontekstual berdasarkan “Sisko” 2006. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia
Nur, M., Wikandari, P.R. dan Sugiarto, B., 1999. Teori Belajar.  Surabaya: Unesa University Press
Petersen, Lindy.,  2004.  Bagaimana Memotivasi Anak Belajar. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia
Prawitasari Johana E., 1989. Pemantauan Diri: Salah satu Cara untuk Mengendalikan Ketegangan. Jurnal Psikologi, Tahun XVII Nomor 1. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada
Ratumanan, T.G., 2002. Belajar dan Pembelajaran.Surabaya: Unesa University Press
Rehm, L.P., Kaslow, N.J.,  dan Rabice, A.S., 1987. Cognitive and Behavior Targets in a Self-Control Therapy Program for a Depression, Jurnal of Consulting and Clinical Psychology, 55, 1
Subro, Seno., 1987. Dua Puluh Lima Langkah Belajar yang Efesien. Solo: CV. Ramadhani
Sudarmanto, Y.B., 1983. Tuntunan Metodologi Belajar. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia
Suryabrata, Sumadi., 1989. Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi. Yogjakarta: Andi Offset
Wibowo, S., Bonang, E., dan Musono. A., 2000. Conditioning dan Prosses Belajar Instrumental. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia


*Kukuh Jumi Adi adalah alumni FKIP Program BK UNS Solo tahun 1988, menyelesaikan Magister Psikologi di UNTAG Surabaya tahun 2001,  Selain menjadi dosen juga sebagai fungsionaris: Lembaga Layanan dan Konsultasi/Tes Psikologi, Pendidikan dan Penelitian (LLKPP) Prima Utama Kabupaten Jember. 












read more

MARTABAT KONSELOR SEKOLAH

0 komentar
Konseling sebagai bagian integral dari sistem pendidikan di sekolah memiliki peran strategis berkait pemenuhan fungsi dan tujuan pendidikan, serta meningkatkan kualitas. Pendidik bisa ’’memanfaatkan’’ sebagai mitra kerja mengingat konseling menyediakan unsur-unsur yang bisa membantu, mengembangkan, dan mengoptimalkan kemampuan individu dengan berbasis kemandirian.

Di Indonesia, posisi mapel Bimbingan dan Konseling (BK) sudah dikembangkan dengan baik oleh anggota organisasi profesi dan pakar konseling.

Mereka diwadahi dalam Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (Abkin), termasuk cabang di Jateng. Bahkan posisi guru atau tenaga BK dintegrasikan dalam pendidikan, sebagaimana amanat undang-undang yang menyatakan konselor adalah pendidik profesional, sebagaimana guru dan dosen.

Dengan kedudukan itu, konselor pemegang profesi konseling dituntut sepenuhnya bekerja untuk bisa mengantarkan peserta didik mencapai tujuan pendidikan nasional melalui berbagai jalur, jenjang, dan jenis.
Perkembangan konseling secara menyeluruh (Gladding: 2012, terjemahan) adalah sebagai profesi dinamis, selalu berkembang, dan menyenangkan/ Dalam dunia pendidikan di Indonesia, termasuk di Jateng, pelayanan bimbingan dan konseling secara terusmenerus menjadi bagian yang terintegrasi dalam program pendidikan. Selain itu, mewujud dalam implementasi kurikulum satuan pendidikan, sejak tahun 1975, 1984, 1994, 2006 hingga Kurikulum 2013.

Masyarakat memahami bahwa berbagai persoalan mendasar dan kompleks yang melingkupi kehidupan bisa menyebabkan terjadinya krisis moral, sosial, etika dan hukum. Realitas itu menuntut peran konselor dapat memberikan layanan konseling secara optimal. Konselor bisa membantu klien (client, konseli) menentukan pilihan, membuat keputusan secara bijak, dan menyelesaikan masalah terkait dengan upaya mewujudkan cita-cita.

Hubungan terapeutik antara konselor dan klien seyogianya menggambarkan kejernihan dan keiklasan jiwa dan hati dari kedua belah pihak. Pencapaian keberhasilan proses konseling, membutuhkan penguasaan terhadap teori dan teknik konseling. Namun jiwa konselor (spirit of counselor) jauh lebih penting ketimbang teori dan praktik.
Tidak dapat dimungkiri, menjadi konselor profesional memerlukan proses panjang, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pelayanan BK memberikan kesempatan kepada individu untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri dalam kehidupan efektif sehari-hari, sesuai dengan karakter, potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangan individu.
Memiliki Mandat
Berkait tujuan itu, peran konselor, baik dalam lingkup pendidikan maupun di luar pendidikan, sangat dibutuhkan. Tak bisa dihindari pada tahapan itu butuh kehadiran konselor yang bermartabat (dignified counselor), yakni sosok yang bisa tampil dengan kewibawaan atas kepakaran keilmuan serta layanan yang otonom dan akuntabel.

Konselor harus bisa memfasilitasi perkembangan klien, termasuk diharapkan mengetahui apa yang terbaik bagi kliennya dalam konteks kebaikan dan kebenaran universal martabat manusia. Pemartabatan profesi itu perlu didukung oleh pelayanan yang berguna bagi kemaslahatan manusia.

Secara formal, pelaksana kegiatan itu harus mengantongi mandat, ditandai dengan adanya ijazah, sertifikat, dan lisensi yang menunjukkan arah standardisasi kualifikasi akademik dan kompetensi. Hal itu supaya pelayanan yang diberikan mendapat pengakuan dari pemerintah dan masyakarat.

Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (Abkin) sebagai organisasi profesi, mempunyai Garis-garis Besar Program Kerja Nasional (GBPKN). Pranata itu tercantum dalam AD/ARThasil amendemen Kongres XII di Denpasar 2013. Abkin Jateng mempunyai kekuatan strategis untuk bekerja sama dengan Pemprov Jateng dan pemkab/pemkot, dalam mewujudkan program pemerintah berkait Sisdiknas. 


Drs Tri Leksono Ph SKom MPd Kons,
mahasiswa S-3 Bimbingan dan Konseling (BK) Pascasarjana Unnes, Kepala Prodi BK IKIP Veteran Semarang, Sekjen PB Abkin.

Suaramerdeka.com

read more

Entri Populer