Tampilkan postingan dengan label Unas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unas. Tampilkan semua postingan
<blink>UJIAN NASIONAL</blink>

UJIAN NASIONAL


DP Sarankan Pemerintah Hentikan UN
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dewan Pendidikan (DP) Provinsi Lampung menyarankan pemerintah menghentikan ujian nasional (UN), karena kecurangan dalam pelaksanaan ujian itu sulit dicegah.
Hal itu ditegaskan Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Lampung Sutopo Ghani Nugroho, di Bandar Lampung, Senin (12-4). Ia dihubungi bertalian dengan hasil pemantauan institusinya atas pelaksanaan UN SMP dan SMA di Lampung.
Sutopo Ghani Nugroho menjelaskan hasil pemantauan timnya telah dikirimkan ke Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) di Jakarta.
Menurut dia, ujian nasional tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun lalu, masih banyak diwarnai kecurangan, terutama oleh pihak sekolah sebagai penyelenggara ujian tersebut.
"Tim kami memang bekerja di luar Tim Pemantau Independen yang telah resmi ditunjuk pemerintah untuk mengawasi ujian nasional. Kami menyebar beberapa relawan di beberapa kabupaten dan kota di Lampung," kata Topo, sapaan akrab Sutopo Ghani Nugroho.
Hasil pemantauan, kata dia, masih mengecewakan. Di beberapa sekolah yang dijadikan sampel ditemukan indikasi kecurangan, dari guru yang mengerjakan soal dan memberikan jawaban kepada murid, sampai ditemukannya sekolah yang memanfaatkan guru-guru honorer untuk menuliskan lembar jawaban di papan tulis.
"Modus ini sangat mudah dilakukan, karena yang melakukan kecurangan adalah pihak sekolah sendiri, dalam hal ini kepala sekolah. Sedangkan pengawas dari perguruan tinggi yang hanya berjumlah satu orang tidak berdaya mengawasi satu sekolah sendirian," kata dia.
Sayangnya, kata Sutopo, data tersebut tidak dapat disebarluaskan karena sifatnya yang hanya sebagai pembanding dari sistem analisis kecurangan yang dimiliki Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) di Jakarta.
"Menteri Pendidikan Nasional berjanji melakukan ujian ulangan kepada sekolah-sekolah yang berdasar analisis pola jawaban siswa dengan menggunakan program komputer," kata dia.
Bahkan, untuk tahun ini titik titik atau sekolah sekolah yang melakukan kecurangan akan diekspos. Ini berbeda dengan tahun lalu, yang mana data tersebut hanya menjadi kajian pihak internal Mendiknas.
Sutopo menyimpulkan ujian nasional sebaiknya dihentikan saja karena tingginya tingkat kecurangan. Jika tingkat kecurangan tinggi, otomatis peta kualitas pendidikan yang dihasilkan akan menjadi bias.
"Akibatnya dana yang dikeluarkan bermiliar miliar untuk ujian nasional menjadi mubazir atau sia-sia. Atau paling tidak UN dilakukan hanya untuk pemetaan pendidikan bukan menentukan kelulusan," kata dia. (MG14/S-1)

UJIAN NASIONAL: Bimbingan Konseling Redakan Stres Siswa

UJIAN NASIONAL: Bimbingan Konseling Redakan Stres Siswa

Guru bimbingan konseling mutlak diperlukan untuk meredakan tekanan psikis siswa menghadapi ujian nasional (UN).

Dipastikan banyaknya siswa SMA/SMP yang mengalami tekanan psikis menjelang UN dua pekan mendatang. “Kalau anak-anak itu belajar sampai jam sembilan malam, tanpa melakukan penelitian saya bisa memastikan mereka mengalami stres,”

Memaparkan hasil penelitian para konselor menunjukkan 70% keberhasilan UN ditentukan faktor akademik dan 30% faktor pengendalian kecemasan saat tes. Meski hanya 30%, faktor pengendalian kecemasan yang rendah dapat merusak kemampuan akademik siswa. “Tapi sekolah lebih memilih menggojlok kemampuan akademik siswa tanpa memberi penanganan dari sisi psikologis anak,"

Karena itulah pihak sekolah mendayagunakan fungsi dan peranan guru bimbingan konseling (BK) untuk meredam kondisi psikologis siswa yang mengalami stres. Selama ini, guru BK hanya menjadi penonton. “Semestinya sekolah memberdayakan mereka tidak hanya menjelang ujian nasional, tetapi sejak dari awal masa pendidikan,”

Selain bimbingan konseling dari pihak sekolah, disarankan pada orang tua memberikan dukungan penuh kepada anaknya. “Ajak mereka berdialog. Berikan pengertian bahwa ujian nasional bukanlah segalanya. Selalu memberikan dukungan kepada anak, baik ketika lulus maupun gagal,”
BK & Unas

BK & Unas

Bahwa Unas 2008 bagai mimpi buruk bagi siswa, bukan isapan jempol. Yang terakhir,70% siswa tidak lulus dalam try out Unas 2008 di Kediri. Di Situbondo, angkanya lebih besar lagi, yaitu 90% siswa SMP-SMA tidak lulus try out Unas. Sedangkan hasil sebuah polling pada satu SMA di Banyuwangi menunjukkan, sebanyak 46% siswa menyatakan takut menghadapi Unas. Mata pelajaran IPA yang dianggap sulit adalah Fisika 34%, dan 40% lainnya menganggap semua mata pelajaran yang diujikan, sulit.
Untuk IPS, 60% siswa menganggap Ekonomi Akuntansi sulit, dan 24% menjawab semuanya sulit (Radar Banyuwangi, 12/3/08).
Melihat fakta tersebut, banyak pihak yang pesimis tahun ini hasil Unas akan jeblok. Lalu, bagaimana kiat sekolah, khususnya layanan Bimbingan dan Konseling dalam menyiapkan siswanya menghadapi Unas 2008? Simak penuturan beberapa teman kita (yang bersedia buka suara) :
Ani Yunus :
Memberikan motivasi kepada siswa. Saya bersyukur cukup sukses berperan sebagai motivator. Selain itu, mengadakan identifikasi kesulitan belajar.
Muji Wahyuti :
Sekolahku juga mengalami hal yang sama (hasil try out Unas jelek) dan sangat mengkhawatirkan. Sekarang sedang diadakan program mengumpulkan orangtua murid, dan siswa yang belum lulus dalam try out diberi motivasi berupa penambahan jam khusus untuk mata pelajaran tertentu sampai waktu Unas tiba. Juga ada program motivasi siswa melalui hipnoterapi.
Pujo Irianto Langgeng :
Bimbingan Konseling berperan memberi motivasi agar siswa tidak down menghadapi Unas, memberi trik cara belajar yang efektif, serta mengundang orang tua untuk diajak dialog dan sosialisasi tentang Unas dan ujian sekolah.
Nur Aminudin :
Mengingatkan siswa secara mental bahwa semua bisa lulus, apalagi targetnya hanya 5,6, target nilai 7 pun bisa lulus. Siswa biasanya yang penting lulus, misalnya dapat nilai 6, tapi kalau meleset nilai 5 atau 4, sehingga tidak lulus. Lain halnya kalau pasang target 9 atau 10, kalau meleset minimal 7 atau paling parah 6, masih bisa lulus. Kelulusan identik dengan keterlambatan. Mengapa banyak siswa yang terlambat, yah karena ingin sampai di sekolah pas jam 7. Kalau perjalanan terganggu, misalnya macet, ban bocor, ada operasi, dll pasti terlambat. Tapi kalau siswa sampai di sekolah jam 06.30, kalau ada gangguan tidak akan terlambat, Sedianya jam 06.30, paling molor jam 06.45 atau 06.50 bahkan pas jam 07.,00, masih tidak terlambat. Jadi kalau tidak terlambat berarti lulus, sedangkan kalau terlambat, tidak lulus. (Kalau saya tangkap uraian mas Nur Aminudin, agar bisa lulus Unas, siswa seharusnya mencanangkan target nilai yang cukup tinggi, jangan asal bisa lulus. Dengan target yang tinggi, akan disertai usaha yang maksimal agar target tersebut tercapai. Tapi kalau targetnya sekedar lulus, siswa menjadi kurang termotivasi belajar lebih keras).
Kesimpulan : Dari tuturan beberapa teman, BK di sekolah lebih berfungsi sebagai motivator dalam menyiapkan siswa menghadapi Unas. (Tono S)
Persiapan Unas: Belajar Dari Jawara

Persiapan Unas: Belajar Dari Jawara

Unas sudah di depan mata. Ibaratnya, tinggal menunggu hari. Dengan penambahan beban studi mapel (mata pelajaran), dan batasan nilai minimal kelulusan dinaikkan, tingkat kelulusan Unas SMP dan SMA tahun ini diprediksi turun. Ini adalah konsekuensi yang wajar. Pro-kontra boleh saja, tapi toh tidak mungkin menolak pelaksanaan Unas. Jangan kalah sebelum bertanding. Unas bukan momok yang harus dihindari, tapi harus dihadapi dengan persiapan dan strategi yang tepat.

Fakta bahwa banyak para jawara unas yang berasal dari siswa bukan pemilik rangking tertinggi di sekolah, dan bukan dominasi dari sekolah favorit maupun siswa sekolah perkotaan, membuktikan bahwa siapapun bisa meraih prestasi tinggi Unas. Banyak faktor yang berperan dalam mendongkrak prestasi Unas, selain kecerdasan dan fasilitas sekolah yang lengkap. Kesiapan yang matang, strategi belajar yang tepat, motivasi tinggi, dorongan dari guru dan orang tua, serta kekuatan doa adalah hal-hal yang tidak boleh diabaikan.

Mari kita belajar dari para jawara Unas tahun lalu dari berbagai level, khususnya di Jawa Timur.
Saya telah melakukan analisa data sekunder prestasi para siswa peraih nilai tertinggi Unas tahun lalu, baik tingkat SMP, SMA, maupun SMK dari berbagai jurusan. Data ini saya peroleh dari pemberitaan di Harian Jawa Pos. Analisa ini tidak dimaksudkan sebagai kajian ilmiah yang mendalam, mengingat data yang termuat dalam pemberitaan tersebut tidak lengkap dan seragam antara siswa satu dan lainnya. Namun demikian, hasilnya tetap bisa dijadikan gambaran umum para siswa peraih nilai tertinggi Unas dalam mempersiapkan diri menghadapi Unas. Kita bisa belajar dari keberhasilan mereka. Meniru cara yang sudah terbukti sukses, tentu bukan hal yang buruk.

Profil Jawara :
Seluruhnya ada 12 siswa yang menjadi sample, yang meliputi 8 orang peserta Unas SMA/SMK, 4 orang SMP. Dari 12 peraih nilai tertinggi Unas tersebut, siswa perempuan lebih unggul, yaitu ada 9 orang (75%), dan 3 orang (25%) siswa laki-laki.

Dilihat dari prestasi belajar mereka sebelumnya, 6 (50%) dari 12 siswa tersebut adalah siswa yang sebelumnya dikenal sebagai siswa berprestasi. Artinya mereka memang adalah siswa yang tergolong pandai. Tentu bukan hal aneh jika mereka dapat meraih nilai tinggi dalam Unas. Yang menarik adalah 6 orang lainnya tidak disebutkan memiliki prestasi akademik yang tinggi. Ini berarti sekitar 50% peraih nilai Unas tertinggi berasal dari siswa yang prestasi belajar sebelumnya tidak menonjol. Bahkan satu orang siswa SMP peraih nilai tertinggi, gara-gara kemiripan nama, pihak sekolah sempat salah menginformasikan kepada temannya yang dikenal selalu berprestasi tinggi. Baik pihak sekolah maupun siswa tersebut, tidak menyangka berhasil meraih hasil terbaik karena sebelumnya tidak pernah mempunyai prestasi akademis yang menonjol. Selain itu, salah satu siswa pernah trauma karena saat Unas SMP nilainya jeblok.

Ini membuktikan semua siswa berpeluang meraih nilai tinggi, meskipun bukan tertinggi, dalam Unas.

Cara belajar:
Dilihat dari cara belajarnya, para jawara Unas ternyata tidak berbeda dengan cara belajar siswa lain pada umumnya. Sebagian besar hanya menambah porsi belajarnya lebih banyak dari biasanya. Ada 8 orang (66,6%) siswa yang melakukannya. Penambahan jam belajar ini ada yang berkisar beberapa jam sehari, namun ada yang ekstrim sampai 10jam per hari.

Selain menambah waktu belajar, ada 2 orang yang melakukan review mata pelajaran sepulang sekolah.

Kiat lainnya adalah mendalami soal-soal yang sulit, misalnya dengan memanfaatkan belajar kelompok (2 orang), dan meminta penjelasan guru untuk mata pelajaran yang sulit (1 orang). Untuk mata pelajaran tertentu, seperti Bahasa Inggris, ada 1 orang yang menggunakan kiat belajar dengan cara mendengarkan lagu-lagu Inggris. Dan walaupun bukan merupakan cara yang baik, ternyata ada 1 siswa yang terbiasa belajar sambil mendengarkan radio.

Bagaimana dengan Bimbingan Belajar yang kian menjamur? Tiga orang siswa menyatakan tidak pernah mengikutinya. Ternyata hanya 1 orang yang mengikutinya, dan 1 orang sebatas hanya ikut try out saja. Ini membuktikan untuk berprestasi tidak harus mengikuti Bimbingan Belajar.
Secara umum, cara belajar para jawara Unas kurang lebih sama dengan siswa lain. Yang menonjol hanya penambahan porsi belajarnya.

Waktu belajar :
Ternyata tidak ada waktu belajar yang seragam diantara para jawara Unas. Waktu belajar bagi mereka lebih bersifat individual. Ada dua orang yang merasa paling sreg belajar sesudah subuh, ada yang lebih pas belajar sesudah maghrib, atau juga sesudah Isya. Namun juga ada satu yang mengkuti belajar kalau mood sedang bagus.

Pendekatan Religius:
Selain persiapkan menghadapi Unas dengan belajar lebih intensif, para jawara ini memiliki resep lain, yaitu melakukan pendekatan religius. Caranya dengan melakukan sholat khusus. Dua orang mengadakan ritual Sholat Malam, satu orang melakukan Sholat Tahajud, dan seorang lagi Sholat Duha. Dan satu orang lagi melakukan puasa Senin-Kamis.

Kesimpulan :
Unas bukan momok yang harus ditakuti. Jangan takut gagal sebelum bertanding. Setiap siswa bisa meraih nilai terbaik dalam Unas asalkan mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Tapi Unas juga bukan tujuan akhir. Nilai tinggi Unas bukan jaminan apa-apa, karena dari 8 orang peraih nilai tertinggi Unas SMA/SMK, hanya dua orang yang diterima PMDK. Dan satu orang gagal diterima PMDK. (Tono Soegijanto)
Try Out Unas Jeblok, Siapa Salah?

Try Out Unas Jeblok, Siapa Salah?

Sekitar 80% peserta try out Unas mendapat nilai jauh di bawah angka standar kelulusan! Demikian hasil try out Unas yang diikuti 3000 siswa SMP dan SMA dari 13 sekolah di Surabaya, yang diselenggarakan oleh Primagama, 18 November lalu.
Untuk tingkat SMP, sebagian besar siswa mendapat nilai 3 pada mapel (mata pelajaran)matematika. Untuk mapel IPA (Fisika dan Biologi) sekitar 80% siswa mendapat nilai 3,5. Hasil yang sama berlaku untuk siswa SMA. Untuk mapel matematika dan fisika nilai yang dicapai dari hasil try out siswa SMA berkisar antara 3-3,5.
Padahal, sesuai Permendiknas No. 34 tahun 2007, syarat kelulusan Unas adalah nilai rata-rata minimal seluruh mapel yang diujikan adalah 5,25 dengan catatan tidak ada angka di bawah 4,25. Nilai 4 pada salah satu mapel diperbolehkan, tapi mapel lain harus mendapat nilai minimal 6 (Radar Banyuwangi, 26-11-2007, h. 33).
Merujuk hasil try out tersebut, tentu banyak siswa yang tidak lulus Unas. Padahal waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi Unas tinggal 6 bulan lagi.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Unas harus dihadapi. Jadi, bagaimana dengan kesiapan siswa-siswi anda? (Tono S)




Ujian Nasional, Kontroversi dan solusi

Ujian Nasional, Kontroversi dan solusi

Sesuai dengan janjiku pada Mas Tono, maka akan kami sampaikan hasil oleh - oleh Seminar Nasional yang diselenggarakan Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI), pada tanggal 7 - 8 November 2007 yang lalu. Jalannya seminar sendiri sangat dinamis bahkan cenderung memanas seperti ketika anggota DPR sidang, maklum khususnya teman-teman Kepala Sekolah yang berasal dari luar jawa, yang sudah menyimpan bom kekesalan dengan adanya Ujian Nasional, maka begitu Nara Sumber dari Pemerintah yang mengamankan dan melagengkan Ujian Nasional banyak dicecar dengan pertanyaan yang sangat tajam. OK teman - teman, saya tidak akan banyak mengulas proses seminar itu, tapi inilah kesimpulanku dari hasil seminar Ujian Nasional tersebut.
Pertama tentang Akar masalah, mengapa UN menjadi kontroversial :
1. Seseungguhnya kata ujian yang terkait dengan Ujian Nasional (UN), TIDAK ADA
dalam UU Sisdiknas, karena sisdiknas memang tidak mengatur tentang ujian, tetapi
mengatur tentang Evaluasi (pasal 57 dan 58/2) dan evaluasi hasil belajar Pasal 58 ayat 1
2. Sementara dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (PP SNP)
terdapat kata ujian (sebagian besar) diantaranya terkait dengan pelaksanaan UN
3. UU SNP sendiri menggunakan istilah penilaian dan bukan evaluasi hasil belajar seperti yang
digunakan dalam UU Sisdiknas
4. Kalau dalam pasal 58 ayat 1 UU Sisdiknas dengan tegas dinyatakan bahwa evaluasi hasil
belajar dilakukan oleh pendidik ( benar Kata Mas Sendi, lebih - lebih dengan
diberlakukannya KTSP), maka pada pasal 63 ayat 1 PP SNP terjadi lompatan : Penilaian hasil
belajar dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan dan Pemerintah ( Padahal kalau kita baca
Pasal 59 UU Sisdiknas Pemerintah dan Pemerintah daerah dapat melakukan EVALUASI
terhadap PENGELOLA, bukan evaluasi hasil belajar )
5. Konstruksi Bab X tentang SNP dan Bab XI tentang BSNP, telah dijadikan landasan oleh
Pemerintah untuk melaksanakan UN
6. Kontroversi lebih diperparah karena pencampuradukan pengertian :
a. Evaluasi dan evaluasi hasil belajar itu sendiri
b. Evaluasi dan evaluasi hasil belajar dengan ujian
c. Evaluasi hasil belajar dan penilaian hasil belajar
d. Evaluasi dan penilaian

( perkembangan masalah UN, silahkan tunggu pada edisi mendatang, biar
teman - teman penasaran )
UJIAN LAGI-UJIAN LAGI

UJIAN LAGI-UJIAN LAGI

Manusia sepanjang hidupnya memang dihadapkan dengan ujian, coba aja telisik, sejak keluar dari lubang hingga masuk lubang di uji terus menerus hanya saja intensitas dan waktunya selalu berubah-ubah sesuai dengan tingkat perkembangan pisik dan psikis. Nah jadi yang namanya UJIAN gak perlu dihindari jalani saja bila perlu standar nilai dibikin 6.00 sampai 7.50 tapi, (ada tapinya) yang buat soal guru-guru nya sendiri atau guru-guru serayon dan yang nilai yah guru-gurunya sendiri juga. Kan di Indonesia sudah pake KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan)

Untungnya ujian yang dilaksanakan oleh sekolah, guru dituntut untuk menjadi pandai membuat soal yang baik dan benar, mendidik dengan sungguh-sungguh dan menggunakan berbagai model-model pembelajaran (diversifikasi pembelajaran)
Semua aspek yang ada pada murid dapat dijadikan penilaian, murid yang tidak memenuhi standar kelulusan ya gak usah diluluskan, sehingga guru dan sekolah lebih terhormat, ya kan !

Asal tahu saja ya ! di Indonesia ini yang namanya uji menguji itu sudah nemjadi isu politik dan ekonomi, coba anda buat SIM, uji petik kendaraan umum, ujian masuk PNS, ujian calon kepala sekolah, terus apalagi ? buuuaaanyak lagi, ujung-ujung nya duit dan polit tik ! dah ah teman teman dah maksud kan !

Nah apalagi UJIAN NASIONAL berapa duitnya ? ha yo siapa yang tahu jawab !
Soal mutu kelulusan siapa sih gak pingin yang baik, semua juga mau yang baik-baik, yang pinter-pinter, tapi coba lihat yang pinter-pinter itu bisanya hanya minteri ! gak mikir rakyat !
Oleh karena itu omong kosong UN dapat menghasil kelulusan yang mumpuni. Proses pembelajaran yang mengedepakan tauladan dari guru dan masyarakat lah yang dapat membentuk manusia-manusia tauladan !

Kalok saya sebaiknya membentuk orang yang jujur, pinter ngikuti aja !

(sendi lampung)
Pro-Kontra Unas 2008

Pro-Kontra Unas 2008

Depdiknas telah menetapkan Unas 2008 ada penambahan mata pelajaran (mapel). Pro dan kontra pun merebak menyertai kebijakan tersebut. Di sejumlah daerah para pelajar melakukan demo menolak kebijakan yang dianggap memberatkan beban belajar para siswa. Bagaimana teman-teman kita menyikapi kebijakan tersebut?
Saya menanyakan kepada sejumlah teman, dan dari 14 orang yang memberikan tanggapan, hanya 4 orang yang tegas tidak setuju penambahan mapel Unas. Itu berarti, mayoritas teman-teman kita mendukung penambahan mapel Unas dengan berbagai alasan.

KONTRA UNASMas Sendi dan Mas Darobi dengan tegas tidak setuju penambahan mapel dalam Unas mendatang. Sayangnya, keduanya tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Lain lagi dengan Mas Riadi yang mewakili sekolah swasta. Dia menolak penambahan mapel Unas karena menilai kemampuan siswa sekolah swasta pada umumnya tidak mampu memikul beban Unas dengan mapel yang bertambah. Katanya, "Karena saya guru sekolah swasta yang tahu persis kemampuan siswaku, maka saya tidak setuju (penambahan mapel Unas)".
Lain lagi dengan alasan mas Anis. Dia memprotes Unas berdasarkan faktor perbedaan kemampuan individu. Dengan lantang dia mengatakan, "Unas itu tidak adil karena bakat dan kepandaian di luar yang diUnaskan tidak dihargai. Ini tidak adil. Mau dikemanakan anak-anak kita yang hebat (kemampuan) seni budaya, olah raga, yang tidak berbakat matematika, Inggris, IPA dan IPS? Mereka butuh ijasah juga kan?"

PRO UNAS
Sekarang bagaimana dengan sikap yang pro Unas? Ini dia orang-orangnya.
Pertama, mas Pujo, dia tidak mempermasalahan penambahan mapel Unas dengan alasan "Untuk memotivasi guru dan siswa agar bisa berprestasi (lebih tinggi)".
Senada dengan mas Pujo, ada mas Ali di Tuban yang mendukung dengan alasan "Agar anak punya tanggungjawab dan disiplin dalam pola belajarnya." Malahan dia pun setuju jika semua mapel di Unaskan. Wah, wah, bisa-bisa sampean didemo murid-murid sak Indonesia, mas.

Sependapat dengan mas Ali, mbak Muji di Karanganyar menggarisbawahi perlunya Unas mencakup semua mapel. Menurutnya, jika Unas mencakup semua mapel, maka tidak akan ada kesan bahwa kelulusan siswa hanya ditentukan oleh 3 mapel saja, seperti berlaku saat ini. Dijabarkan lebih jauh, dalam UUD 45 jelas disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional menjadikan manusia yang taqwa, cerdas dan terampil. Ini berarti dalam pendidikan, standar kelulusan siswa harus mengucu kepada tujuan pendidikan nasional, maka seharusnya yang menentukan kelulusan siswa bukan hanya mapel tertentu tapi mencakup semua mapel yang diajarkan, karena semua mapel mengarah pada tujuan pendidikan nasional, meskipun standar kelulusannya minimal 4 misalnya, yang kalau dibandingkan dengan luar negeri, standar tersebut amat sangat rendah.
Dukungan yang sama muncul dari mas Mulyono di Batang, yang juga setuju adanya penambahan mapel Unas. Untuk level SMP, dia mengusulkan penambahan mapel IPS, agar siswa yang pandai IPS bisa mendongkrak nilai rata-rata Unas.
Ada lagi yang setuju penambahan mapel Unas untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia. Paling tidak sebagai wacana. Mas Sunarin misalnya, dia mengibaratkan Unas itu seperti kelinci percobaan di dunia pendidikan Indonesia, dan sebagai konselor dia setuju karena Unas bisa membuat pendidikan di sini bisa sama seperti negara lain (yang lebih maju tentunya).
Mas Nur Aminudin di Tegal ikut angkat bicara. Menurutnya, Unas adalah tolok ukur kualitas pendidikan yang valid. Ia setuju dengan Unas meskipun mempunyai kelemahan dalam pelaksanaannya. Misalnya cakupan materi yang berbeda antara jawa dan luar Jawa. Dimatanya, kalau Unas ditiadakan, pendidikan akan kacau seperti era sebelum adanya Unas, dimana semua siswa lulus 100% dan nilai sekolah swasta lebih tinggi dari negeri.

Mas Rissa di Pekalongan juga setuju Unas dengan berapapun mapel yang diujikan, yang ditolak adalah Unas menjadi salah satu penentu kelulusan sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. 20 tahun 2007 (bagaimana bunyinya tuh?). Artinya mas Rissa memandang aspek lain seperti afektif dan psikomotor juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan kelulusan siswa. Gitu khan mas?

Bagi mbak Umbul di Sragen, Unas tidak perlu diributkan. Dia melihat saat ini banyak siswa yang malas, maunya serba instan Katanya dengan bijak, "Anak-anak nggak perlu panik, asal mau berusaha keras, saya percaya akan berhasil." Dia mencontohkan negara jiran Malaysia yang sudah meng-Unas-kan semua mapel.
Tapi bagaimana pun harus diakui, di mata siswa Unas dipandang sebagai momok yang menakutkan. Tidak peduli siswa pandai, apalagi yang nilainya pas-pasan, pasti dilanda perasaan kuatir gagal dalam menghadapi Unas.

Nah, efek samping berupa kecemasan siswa dalam menghadapi Unas inilah yang disorot mbak Indah di Lawang. Ia pernah mengukur kecemasan peserta Unas. Dan hasilnya terdapat 79% peserta Unas yang mengalami kecemasan. Menurutnya, dari sisi inilah konselor diharapkan berperan membantu siswa menangani kecemasannya dalam menghadapi Unas. Tampaknya memang faktor kesiapan siswa ini yang menjadi masalah utama pelaksanaan Unas. Unas dengan 3 mapel sudah merepotkan siswa, apalagi dengan penambahan mapel. Tidak heran, mas Kukuh Junaedi. Kasek SMPN Panti-Jember yang juga Alumni BK UNS 83 berkomentar sambil guyon, "Yen gurune Oke, muride embuh..he he he"

Kalau dikaji lebih jauh, apa betul pihak guru lebih siap daripada siswa dalam menghadapi Unas mendatang? Bukankah Unas juga merupakan pertaruhan gengsi sekolah, sekaligus reputasi guru pendidiknya? Bagaimana jika nilai Unas suatu sekolah jeblok sehingga banyak siswa yang tidak lulus dan harus mengulang ujian? Pasti bukan hanya siswa dan orangtua yang stres, pihak guru-guru pun bakal kalang kabut kebingungan. Bagaimanapun nilai buruk Unas akan menurunkan rating sekolah di mata masyarakat. Bukankah begitu?
Jadi, masih setuju Unas yang menyisakan sejumlah kontroversi?
d